WANITA MEMBERI SYARAT KEPADA SUAMINYA, KALAU DIA KAWIN LAGI, MAKA JATUH TALAK BAGI ISTRI YANG KEDUA


Seseorang menikah dan istrinya memberi syarat dalam akad, bahwa setiap wanita (lain) yang akan dia nikahi, maka jatuh talak baginya. Kemudian dia menikah dengan wanita lain, apa hukumnya dalam (pandangan) empat mazhab?
_______________________
Dalam kitab Al-Fatawa Al-Kubra, 3/125 dijelaskan :

سئل شيخ الإسلام ابن تيمية السؤال السابق فأجاب :

هذا الشرط غير لازمٍ في مذهب الإمام الشافعي ، ولازم له في مذهب أبي حنيفة متى تزوج وقع به الطلاق ، ومتى تسرَّى عتقت عليه الأمة ، وكذلك مذهب مالك ، وأما مذهب أحمد : فلا يقع به الطلاق ولا العتاق ، لكن إذا تزوج وتسرَّى كان الأمر بيدها ، إن شاءت أقامت معه ، وإن شاءت فارقته ؛ لقوله صلى الله عليه وسلم : ” إنَّ أحق الشروط أن يوفى به ما استحللتم به الفروج ” ؛ ولأن رجلاً تزوَّج امرأة بشرط أن لا يتزوج عليها ، فرفع ذلك إلى عمر ، فقال : ” مقاطع الحقوق عند الشروط ”

فالأقوال في هذه المسألة ثلاث :

أحدها : يقع به الطلاق والعتاق .

والثاني : لا يقع به ، ولا تملك امرأته فراقه .

والثالث : وهو أعدل الأقوال : أنه لا يقع به طلاق ولا عتاق ، لكن لامرأته ما شرط لها ، فإن شاءت أن تقيم معه ، وإن شاءت أن تفارقه ، وهذا أوسط الأقوال .

” الفتاوى الكبرى ” ( 3 / 125 ).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya seperti pertanyaan tadi, maka beliau menjawab, ‘Persyaratan ini tidak mengikat menurut mazhab Imam Syafi’i, dan mengikat menurut mazhab Abu Hanifah. Apabila dia menikah lagi, maka jatuh talak. Apabila dia menggauli budak, maka budaknya langsung bebas. Begitu juga pendapat mazhab Malik. Adapun mazhab Ahmad, tidak jatuh talak, atau merdeka (dari budak). Akan tetapi kalau dia menikah atau menggauli, maka urusannya berada di tangan wanita. Kalau dia bersedia, tetap bersama suaminya, atau berpisah darinya.

Berdasarkan sabda Nabi sallallahu’alaihi wa sallam, “Sesungguhnya syarat yang lebih berhak untuk ditunaikan adalah apa yang menghalalkan pada kemaluan”

Juga ada riwayat seseorang menikahi wanita dengan syarat agar tidak kawin lagi, maka masalah itu diadukan kepada Umar. Lalu beliau berkata, “Hak-hak diputuskan sesuai  persyaratan.”

Maka pendapat dalam masalah ini ada tiga:

1. Jatuh talak dan merdeka (jika dia budak)

2. Tidak jatuh talak dan sang isteri tidak berhak menuntut pisah dari suaminya.

3. Pendapat yang moderat, bahwa tidak jatuh talak maupun merdeka (budak), akan tetapi bagi wanita tergantung apa yang dia syaratkan. Kalau bersedia, dia boleh tetap bersama suaminya, atau boleh berpisah. Ini adalah pendapat pertengahan.

Al-Fatawa Al-Kubra, 3/125
Wallahu a’lam
Sumber :

~ oleh Thifal Ramadhani pada Februari 14, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: