Fatwa-Fatwa Puasa Prof.DR.Kholid bin Ali Al Musyaiqih


Nama lengkap beliau adalah Syaikh Kholid bin Ali bin Muhammad bin Hamud bin Ali Al Musyaiqih memperoleh gelar Doktor di Universitas Al Imam Muhammad Ibn Su’ud Al Islamiyah. Kemudian beliau memperoleh gelar Associate Professor dan Profesor di Universitas yang sama.

Syaikh Al Musyaiqih berguru kepada banyak Masyaikh.Diantaranya kepada Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah selama sekitar 15 tahun ,dimulai sejak tahun 1406H hingga wafatnya Syaikh Utsaimin.Selain itu beliau adalah juga menantu Syaikh Utsaimin rahimahullah.Beliau juga belajar kepada Allamah Syaikh Ibn Baz rahimahullah,Syaikh Al Fauzan,Syaikh Ali Az Zaamil rahimahullah (Murid Syaikh Abddurrahman As-Sa’di, sahabat Syaikh Utsaimin dalam menuntut ilmu),Syaikh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Ghadayan (Anggota Haiah Kibar Ulama KSA),Syaikh Al Qor’awi dan banyak lagi.

Berikut adalah sebagian fatwa mengenai puasa, yang diambil dari makalah berjudul Fatawa Shiyam di website resmi Syaikh Al Musyaiqih rahimahullah.

 

MEMBUKA AURAT WANITA APAKAH TERMASUK PEMBATAL PUASA

Pertanyaan:

Apakah membuka aurat wanita bisa membatalkan puasanya seorang dokter?

Jawaban:

Segala puji hanya bagi Allah. Sholawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Rasulullah, wa ba’du.

Membuka aurat wanita yang dilakukan oleh seorang dokter yang mengobati tidak membatalkan puasa. Karena hal ini bukanlah pembatal puasa yang ada dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya – shollallohu ‘alaihi wa sallam

 

BERHUBUNGAN BADAN (JIMA’) DI SIANG RAMADHAN

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Aku pernah bercumbu dengan istriku pada siang hari bulan Ramadhan, dan di tengah cumbu itu telah terjadi al-wuluj (penetrasi) tapi tidak sampai mengeluarkan mani. Apa hukum perbuatanku ini? Aku memohon kepada Allah agar mengampuniku dan merahmatiku.

Jawaban:

Segala puji hanya bagi Allah, Robb seluruh makhluk. Sholawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Rasulullah, wa ba’du.

Barangsiapa yang terkena kewajiban puasa, maka dia haram menggauli istrinya pada siang hari bulan Ramadhan. Karena Allah ‘azza wa jalla telah berfirman,

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتَانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ…

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu.Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam...” (al-Baqarah: 187)

Sedangkan jima’ terjadi dengan memasukkan ujung kemaluan laki-laki meskipun tidak sampai mengeluarkan mani. Maka seandainya seseorang telah memasukkan ujung kemaluannya, berarti dia telah melakukan suatu dosa yang besar dan dia wajib membayar kafaroh mughollazhoh.

Dan kewajibanmu wahai saudaraku, mengqodho puasa hari tersebut karena telah batal, dan wajib atasmu dan juga atas istrimu, untuk membayar kafaroh mughollazhoh berupa pembebasan seorang budak. Jika engkau tidak mampu untuk membeli budak, maka engkau wajib berpuasa dua bulan berturut-turut.

Jika engkau tidak mampu puasa dua bulan berturut-turut, maka engkau memberi makan enam puluh orang miskin. Ini berdasarkan hadits Abu Hurairah – rodhiyallohu ‘anhu – tentang orang yang berjima’ di siang hari bulan Ramadhan. Lihat Shahih al-Bukhari (1936) dan Shahih Muslim (1111), wallohu a’lam.

 

MENGGABUNG PUASA DAUD DAN PUASA SENIN KAMIS

Pertanyaan:

Bismillahirrahmanirrahim.

Aku ingin berpuasa seperti puasanya Nabi Daud – ‘alaihis salam – sehari puasa dan sehari berbuka, namun dengan tetap menjaga puasa senin kamis. Dan aku tahu bahwa ada hari-hari yang dilarang untuk berpuasa padanya. Maka aku ingin Anda memberitahuku apa yang harus aku lakukan? Dan pada hari apakah aku berpuasa dalam sepekan? Dan pada hari apa aku berbuka?

Jawaban:

Jika seseorang hendak berpuasa sehari dan berbuka sehari, maka inilah puasa Daud – ‘alaihis salam – dan inilah puasa yang paling utama. Dan Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam – telah memberikan petunjuk demikian kepada Abdullah bin Amr. Akan tetapi, jika datang hari-hari yang dilarang berpuasa padanya, maka dia tidak berpuasa padanya. Seperti dua hari raya (iedul Fithri dan iedul Adh-ha) dan hari-hari tasyriq.

 

BERBUKA KARENA WAKTU YANG MEMANJANG AKIBAT PERJALANAN PESAWAT SEARAH DENGAN PERJALANAN MATAHARI

Pertanyaan:

Aku pernah melakukan perjalanan dari Boone menuju Moskow pada bulan Ramadhan. Pesawat lepas landas beberapa menit sebelum maghrib. Perlu diketahui, bahwa jalur perjalanan sesuai dengan arah perjalanan matahari, sehingga tenggelamnya matahari pun menjadi lebih lama. Lalu orang-orang membawakan makanan dan minuman pada waktu matahari masih bersinar. Maka akupun makan beberapa potong daging. Lalu aku yakin bahwa itu adalah daging babi, sehingga aku tinggalkan. Apakah aku mengqodho puasa pada hari itu, mengingat aku telah berpuasa selama lebih dari waktu yang dituntut? Dan apa yang seharusnya aku perbuat jika daging yang aku makan benar-benar daging babi?

Jawaban:

Jika engkau lepas landas sebelum tenggelamnya matahari di negri tempat tinggalmu, dan matahari masih saja bersinar, maka waktu puasamu belum berakhir. Dan karena engkau makan, berarti engkau telah berbuka pada hari tersebut, sehingga engkau wajib mengqodho hari itu. Karena Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (al-Baqarah: 184}

Adapun berkaitan dengan makan daging babi, maka ini adalah perkara yang haram dan tidak boleh jika engkau mengetahui bahwa itu adalah daging babi atau daging bangkai yang disembelih dengan penyembelihan yang tidak syar’i. Ini berdasarkan firman Allah ‘azza wa jalla,

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنزِيرِ

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi,” (al-Maidah: 3)

Maka wajib bagimu untuk bertaubat kepada Allah ‘azza wa jalla.

 

BERBUKA PADA RAMADHAN DALAM RANGKA UJIAN

Pertanyaan:

Pertanyaanku, dahulu ketika aku masih kuliah, pada waktu ujian aku memakai sejenis stimulus, yang hal itu memaksaku untuk berbuka pada bulan Ramadhan ketika ujian dilaksanakan pada bulan Ramadhan. Apakah aku wajib membayar kafaroh meskipun aku terpaksa berbuka, karena jika aku tidak berbuka aku merasakan pusing.

Jawaban:

Segala puji hanya bagi Allah. Sholawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Rasulullah, wa ba’du.

Kafaroh hanya diwajibkan dengan sebab berbuka karena jima’ pada siang hari bulan Ramadhan. Adapun jika seseorang berbuka dengan makan, minum, berbekam, mengeluarkan mani atau yang lainnya, maka dia tidak wajib membayar kafaroh. Atau jika seseorang berjima’ ketika dia mengqodho Ramadhan atau ketika sedang berpuasa sunah, maka dia tidak wajib membayar kafaroh.

Hanya saja kafaroh yang wajib dengan sebab berbuka karena jima’ pada siang hari bulan Ramadhan itu adalah bagi orang yang wajib berpuasa. Perkataan para ulama, “bagi orang yang wajib berpuasa,” mengeluarkan orang yang tidak wajib berpuasa. Maka jika seseorang bersafar menuju Mekah dan dia menggauli istrinya pada siang hari Ramadhan, maka dia tidak wajib membayar kafaroh. Akan tetapi yang wajib baginya adalah mengqodho.

 

APAKAH ASAP DUPA MEMBATALKAN PUASA?

Pertanyaan:

Para ulama memberikan fatwa bahwa asap dupa bisa membatalkan puasa. Bagaimana hal itu, sedangkan manusia pada masa dulu – sebagaimana diberitakan oleh ibuku – memasak dengan kayu bakar. Mereka meniupnya dengan mulut-mulut mereka dan asap masuk ke dalam rongga mereka. Dan ibuku mengatakan bahwa asap pasti akan masuk ke dalam rongga mereka meskipun mereka menghindari meniupnya dengan mulut-mulut mereka.

Jawaban:

Berkaitan dengan dupa, maka sebagian ulama telah memberi fatwa bahwa itu tidak membatalkan puasa. Sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah – rohimahulloh -. Akan tetapi, orang itu tidak boleh menghirupnya. Karena ada organ tubuhnya yang terhubung ke lambung. Jika demikian, maka tidak mengapa apabila seseorang perlu memasak atau bekerja di sekitar api dan semacamnya. Akan tetapi dia harus menjaga diri agar tidak menghirup asap tersebut. Dan yang benar, bahwa asap ini bukanlah makanan atau minuman, bukan pula sesuatu yang semakna dengan makanan atau minuman.

 

SEORANG WANITA YANG SAKIT TIDAK MAMPU BERPUASA RAMADHAN

Pertanyaan:

Ibuku pernah dioperasi transplantasi ginjal. Lalu dia tidak mampu berpuasa pada bulan Ramadhan yang datang setelah operasi itu. Karena puasa akan berbahaya baginya menurut nasihat dokter. Kemudian dia berpuasa pada tahun-tahun berikutnya setelah operasi itu berlalu setahun. Dia juga telah memberi makan (membayar fidyah) untuk bulan tersebut. Apakah dia masih berkewajiban untuk mengqodho puasa juga? Mengingat bahwa puasa sangat berat baginya.

Jawaban:

Segala puji hanya bagi Allah. Sholawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Rasulullah, wa ba’du.

Wanita ini berbuka dengan sebab penyakit yang dimungkinkan sembuhnya. Maka wajib baginya untuk mengqodho, berdasarkan firman Allah ta’ala,

فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (al-Baqarah: 184)

Adapun dia yang telah mengakhirkan qodho sehingga dia menjadi tidak mampu atau merasa berat untuknya, maka dia memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari (yang dia tinggalkan pada bulan Ramadhan -pent). Wallohu a’lam.

 

SEORANG WANITA YANG HARUS BEKERJA DAN TIDAK MAMPU BERPUASA KETIKA BEKERJA

Pertanyaan:

Ada seorang istri yang sangat butuh untuk bekerja sedangkan dia tidak mampu berpuasa Ramadhan di hari-hari ketika dia bekerja. Yaitu lima hari dalam sepekan. Dia mengatakan, jika dia tidak makan pagi dan makan siang pada waktunya, dia akan jatuh pingsan di jalan atau di ruang pelajaran… lalu apa yang harusnya dia lakukan pada setiap hari yang dia berbuka padanya?

Jawaban:

Segala puji hanya bagi Allah. Sholawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Rasulullah, wa ba’du.

Barangsiap yang berbuka di bulan Ramadhan, maka wajib baginya mengqodho. Berdasarkan firman Allah ‘azza wa jalla,

فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (al-Baqarah: 184)

Maka wajib baginya mengqodho sebelum datangnya Ramadhan berikutnya. Berdasarkan hadits Aisyah – rodhiyallohu ‘anha – dia berkata,

“Dahulu aku memiliki tanggungan puasa Ramadhan. Aku tidak mampu mengqodhonya kecuali pada bulan Sya’ban. Demikian itu karena keberadaan Rasulullah – shollallohu ‘alaihi wa sallam -.” Dikeluarkan oleh al-Bukhari (1950) dan Muslim (1146).

Masih bisa bagi wanita yang sakit ini untuk mengakhirkan (qodho) sampai datangnya bulan Sya’ban sebelum datanya bulan Ramadhan berikutnya. Jika dia tidak mampu, maka dilihat, jika ketidakmampuannya adalah terus menerus, dimana penyakit ini tidak mungkin disembuhkan, maka dia memberi makan seorang miskin untuk setiap hari Ramadhan yang dia tinggalkan. Dan gugurlah kewajiban qodho darinya. Dan jika penyakit ini masih mungkin disembuhkan, maka dia menunggu, meskipun sampai datang Ramadhan berikutnya. Maka dia mengakhirkan qodho sampai dia sembuh.

 

SEORANG WANITA MENGANGKAT BEBAN BERAT AGAR DATANG BULAN

Pertanyaan:

Saudara perempuanku mengutus kepadamu dan dia berkata bahwa ketika berumur 18 (delapan belas) tahun, pada waktu Ramadhan dia menyengaja mengangkat beban berat agar datang bulan. Dan memang benar-benar datang bulan. Dia bertanya apakah berarti dia menyengaja berbuka? Lalu apa kafarohnya?

Jawaban:

Bismillahirrohmanirrohim. Segala puji hanya milik Allah, penguasa seluruh makhluk. Sholawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, dan kepada keluarga serta para sahabat beliau semuanya. Wa ba’du.

Jika wanita ini mengangkat barang-barang ini dengan tujuan agar dia kedatangan darah haidh, dan dia berbuka, maka dia berdosa. Dia tidak boleh melakukan hal itu karena dalam perbuatan itu ada tipu daya untuk membatalkan suatu ibadah. Wajib baginya untuk bertaubat kepada Allah ‘azza wa jalla dan mengqodho puasa hari itu.

 

I’TIKAF SELAMA SEHARI ATAU DUA HARI

Pertanyaan:

Melihat keadaan pekerjaanku, aku tidak sanggup untuk melakukan i’tikaf selama sepuluh hari terakhir. Lalu, apakah boleh bagiku untuk beri’tikaf selama sehari atau dua hari?

Jawaban:

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga tetap kepada Rasulullah, wa ba’du.

Iya, tidak mengapa seseorang beri’tikaf selama sehari atau dua hari. Karena minimal waktu i’tikaf adalah sehari atau semalam. Sebagaimana riwayat yang datang dari Umar – rodhiyallohu ‘anhu – dia bertanya kepada Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam – bahwa dia telah bernadzar untuk beri’tikaf satu malam di al-Masjidil Haram. Maka Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam – bersabda,

“Penuhilah nadzarmu.”

Maka waktu minimal untuk i’tikaf adalah sehari atau semalam. Inilah yang ada (penjelasan) dari syariat. Akan tetapi yang disunnahkan adalah beri’tikaf selama sepuluh hari penuh.

 

APAKAH DALAM RU`YAH HILAL BISA BERSANDAR KEPADA PERHITUNGAN HISAB?

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Sebagaimana Anda ketahui, bahwa negri kita bersandar kepada para ahli falak bukan ahli ru`yah dalam penetapan bulan-bulan Qomariyah. Dan pada Ramadhan lalu, negri kita bersama orang-orang Iraq berbuka sendirian. Banyak orang yang berpuasa pada hari raya dengan argumentasi bahwa ru`yah tidak bisa ditetapkan kecuali dengan (penglihatan) mata, dan bahwa orang-orang yang berada di belahan timur dan barat di dunia Islam juga masih berpuasa. Sedangkan menurut pendapat ahli falak, hilal telah muncul di permukaan, dan tidak mungkin melihatnya ketika tenggelamnya matahari pada hari syakk (tanggal 29). Apakah perbuatan mereka ini disyariatkan? Berilah fatwa kepada kami semoga Anda mendapat pahala.

Jawaban:

Segala puji bagi Allah semata. Sholawat dan Salam semoga tetap tercurah kepada Rasulullah. Wa ba’du:Wa’alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh.

Yang benar, bahwa perhitungan (hisab) falak tidak bisa dijadikan patokan. Berdasarkan sabda Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam –

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ، الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا”. وَعَقَدَ الْإِبْهَامَ فِي الثَّالِثَةِ

“Kita adalah umat yang ummi (buta huruf). Kita tidak bisa menulis dan tidak bisa menghitung. Bulan itu demikian dan demikian dan demikian.” Pada yang ketiga, beliau menyimpulkan ibu jari. Dikeluarkan oleh al-Bukhari (1914) dan Muslim (1080).

Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Barangsiapa di antara kalian yang menyaksikan bulan itu, maka berpuasalah.” (al-Baqarah: 185)

Beliau – shollallohu ‘alaihi wa sallam – bersabda,

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وأَفْطِرُوا لرؤيتِهِ، فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

“Berpuasalah kalian karena melihatnya, dan berbukalah karena melihatnya. Jika tertutup atas kalian, maka perkirakanlah.” Dikeluarkan oleh al-Bukhari (1900) dan Muslim (1080).

Dalam satu lafazh disebutkan,

فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاثِينَ

Maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.” Dikeluarkan oleh al-Bukhari (1909).

Hadits-hadits tentang hal ini cukup banyak. Dan yang benar, bahwa masuknya bulan adalah dengan salah satu dari dua perkara:

Pertama: Dengan melihat hilal.

Kedua: Dengan menyempurnakan bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh hari, jika hilal tidak terlihat.

Semisal ini pula, bulan Syawal ditetapkan dengan salah satu dari dua perkara:

Pertama: Dengan dilihatnya hilal oleh orang yang diakui ru`yah nya.

Kedua: Dengan menyempurnakan bilangan Ramadhan menjadi tiga puluh hari.

Adapun berkaitan dengan permasalahan kalian, dan bahwa negri kalian mengikuti hisab, maka yang nampak bagiku, engkau berpuasa dan berbuka bersama manusia. Jika orang-orang berpuasa dan berbuka dengan hisab, maka engkau mengikuti mereka. Ini berdasarkan hadits Abu Hurairah – rodhiyallohu ‘anhu –

فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاثِينَ

Puasa itu adalah hari-hari dimana kalian semua berpuasa, sedangkan (iedul) fithri adalah hari dimana kalian semua berbuka.” Dikeluarkan oleh at-Tirmidzi (697), Abu Daud (2324) dan Ibnu Majah (1660). Wallahu a’lam.

 

SEORANG YANG MENINGGAL MEMILIKI TANGGUNGAN PUASA

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warohmatulloh wabarokatuh. Wa ba’du:

Ada seseorang yang sakit dalam jangka waktu yang cukup lama. Dahulu dia mampu berpuasa, namun pada dua tahun terakhir dari umurnya, penyakitnya semakin parah sehingga dia tidak berpuasa pada bulan Ramadhan pada dua tahun ini. Dan anak-anaknya masih ada, lalu dia mengingatkan kepada mereka di akhir tahun dari umurnya, bahwa dia tidak berpuasa, kemudian meninggal. Maka bagaimana hukumnya? Apakah dia berdosa?

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warohmatulloh wabarokatuh. Wa ba’du:

Penyakit orang ini tidak lepas dari dua kemungkinan.

Pertama: penyakitnya itu tidak dimungkinkan kesembuhannya. Maka para ahli warisnya wajib memberi makan kepada seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan puasanya oleh si mayit, dan itu diambil dari harta peninggalan si mayit jika dia meninggalkan warisan. Atau mereka (ahli waris) berpuasa menggantikan si mayit. Dan ini adalah mustahab (perkara yang disukai, sunah), yakni berpuasa menggantikan si mayit.

Kedua: Penyakit yang masih dimungkinkan kesembuhannya. Jika dia tidak mampu untuk mengqodho puasa karena penyakitnya terus berlangsung sampai dia meninggal, maka tidak ada dosa atau tanggungan atasnya, berdasarkan firman Allah

فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (al-Baqarah: 185)

Sedangkan orang ini tidak mampu untuk berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan jika dia mampu namun belum mengqodho, maka disukai bagi para walinya untuk berpuasa menggantikannya.

 

BERPUASA BERSAMA PENDUDUK SUATU NEGRI, NAMUN BERBUKA DI NEGRI LAIN

Pertanyaan:

Ada seseorang yang berpuasa di suatu negri yang dia tinggal di sana. Kemudian dia bersafar ke negri lain yang permulaan puasanya selisih satu hari lebih akhir. Jika dia berbuka bersama penduduk negri tujuan safarnya, maka puasanya akan menjadi 28 hari. Apa yang harus dia lakukan?

Jawaban:

Segala puji hanya milik Allah, Robb seluruh makhluk. Semoga sholawat dan salam tetap tercurah kepada Nabi kita Muhammad, dan kepada keluarga serta para sahabat beliau semuanya. Wa ba’du.

Jika seseorang berpuasa pada satu negri kemudian bersafar ke negri lain, maka dia mengambil hukum negri yang menjadi tujuan safarnya. Misalnya, jika dia berada di Saudi lalu bersafar menuju Mesir atau Maroko atau yang lain, maka dia mengambil hukum penduduk negri itu dan berbuka bersama mereka. Kemudian setelah itu, jika dia berbuka bersama mereka, kita lihat apakah dia telah melaksanakan puasa sebulan penuh, yakni 29 atau 30 hari. Jika demikian maka tidak ada tanggungan atasnya. Namun jika puasanya hanya 28 hari, berarti dia telah mengurangi satu hari. Maka wajib baginya untuk berpuasa (menggantikan) hari itu. Karena bulan qomariyah tidak kurang dari 30 hari atau 29 hari.

 

UCAPAN SELAMAT KARENA MASUKNYA 10 HARI PERTENGAHAN ATAU TERAKHIR BULAN RAMADHAN

Pertanyaan:

Apa hukum ucapan selamat karena masuknya 10 hari pertengahan atau 10 hari terakhir bulan Ramadhan?

Jawaban:

Segala puji hanya milik Allah, Robb semesta alam. Semoga sholawat dan salam tetap tercurah kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga serta para sahabat beliau semuanya. Wa ba’du.

Ucapan-ucapan selamat dengan sebab musim-musim kebaikan dan ibadah, yang nampak – wallohu a’lam – adalah dibolehkan.

Hal ini ditunjukkan oleh bahwasanya Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam – berkata kepada Ubay bin Ka’b – rodhiyallohu ‘anhu -:“Wahai Abul Mundzir, tahukah kamu ayat apa dalam Kitabulloh yang menurutmu paling agung?” Dia berkata, “Aku katakan, Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”

Beliau bersabda, “Wahai Abul Mundzir, tahukah kamu ayat apa dalam Kitabulloh yang menurutmu paling agung?” Dia berkata, “Aku katakan,

الله لا إله إلا هو الحي القيوم

Dia berkata, lalu beliau menepuk dadaku dan bersabda, “Demi Allah, semoga ilmu itu menggembirakanmu wahai Abul Mundzir.” Dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahih-nya.

Para sahabat – rodhiyallohu ‘anhum – juga memberi ucapan selamat kepada Ka’b bin Malik – rodhiyallohu ‘anhu – ketika turun penerimaan taubat Allah ‘azza wa jalla kepadanya, dalam hadits yang panjang dalam Shahih Muslim. Dan dalil-dalil lainnya.

Pada asalnya ucapan-ucapan selamat ini dibolehkan. Akan tetapi memperbanyak ucapan selamat sebagaimana yang dilakukan sebagian manusia, mengucapkan selamat di awal bulan, pertengahan dan sepuluh hari terakhir, maka ini perlu dilihat kembali dan seyogyanya ditinggalkan. Jika ada ucapan selamat, maka yang selayaknya adalah pada permulaan bulan saja. Dan seorang muslim tidak pantas berlebih-lebihan dalam perkara seperti ini.

Perkara-perkara semacam ini telah ada sebab-sebabnya pada masa Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam -. Namun ada keterangan bahwa Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam – melakukannya. Maka yang lebih baik adalah ditinggalkan. Akan tetapi jika seseorang hendak mengucapkan selamat, maka dia mengucapkan selamat di awal bulan. Kita katakan, ini tidak ada celaan padanya. Adapun jika dia berlebih-lebihan dan ucapan selamat itu ada di awal bulan, pertengahan bulan dan akhir bulan, maka yang terbaik bagi seorang muslim adalah meninggalkannya. Wallohu a’lam.

 

MEMINUM OBAT PENCEGAH HAIDH AGAR BISA MENERUSKAN PUASA

Pertanyaan:

Apakah disyariatkan bagi seorang wanita haidh untuk menggunakan obat-obatan untuk menghentikan haidh dengan tujuan untuk bisa meneruskan puasa bulan Ramadhan?

Jawaban:

Segala puji hanya milik Allah, Robb semesta alam. Semoga sholawat dan salam tetap tercurah kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga serta para sahabat beliau semuanya. Wa ba’du.

Adapun tentang apakah disyariatkan, maka tidak disyariatkan baginya hal itu. Akan tetapi yang aku nasihatkan kepada wanita ini adalah agar dia membiarkan perkaranya sesuai dengan tabiatnya. Karena merusak perkara yang merupakan suatu tabiat bisa membawa kepada bahaya. Dan tidak ragu lagi bahwa keluarnya darah haidh pada waktunya adalah perkara tabiat. Akan tetapi jika dia menggunakan obat pencegah keluarnya darah haidh, maka ini mubah dengan syarat tidak membahayakan. Yakni, dengan syarat bahwa di sana tidak ada bahaya baginya.

Adapun puasanya setelah itu adalah sah dan tidak mengapa, selama dia tidak melihat darah haidh. Dan ini sah karena tidak ada sesuatu yang merusak puasa ini, yaitu darah haidh. Akan tetapi, jika dia mendapati bahaya dengan penggunaan obat pencegah datang bulan ini, maka kita katakan bahwa ini tidak boleh. Karena Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan.” (al-Baqarah: 195)

Dan Dia juga berfirman,

وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً

Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (an-Nisa: 29)

Dan termasuk kaidah yang telah ditetapkan menurut para ulama, adalah kaidah “La dhoror wa la dhiror.” Maknanya adalah, janganlah menimpakan bahaya kepada dirimu dan jangan menimpakan bahaya kepada orang lain. Wallohu ta’ala a’lam.

 

MENGGAULI ISTRI KEMUDIAN TERBIT FAJAR DAN MASIH MENERUSKANNYA

Pertanyaan:

Seorang laki-laki mendatangi istrinya sebelum adzan fajar (shubuh). Kemudian adzan shubuh dikumandangkan di tengah-tengah hubungan badan, namun dia tetap meneruskannya sampai melewati seperempat jam setelah adzan. Apa yang menjadi kewajibannya?

Jawaban:

Segala puji hanya milik Allah, Robb semesta alam. Semoga sholawat dan salam tetap tercurah kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga serta para sahabat beliau semuanya. Wa ba’du.

Jika fajar telah terbit dan seseorang sedang melakukan perkara yang dilarang ketika puasa, yakni melakukan salah satu pembatal puasa seperti makan, minum, atau jima’ (bersetubuh dengan istri), maka wajib menyudahinya Jika dia melanjutkan perbuatannya itu, maka hukumnya sama dengan orang yang melakukan pembatal puasa itu pada waktu siang hari. Jika dia melakukan hubungan badan kemudian terbit fajar, dan dia terus dalam hubungan badannya, maka yang wajib baginya adalah untuk melepasnya. Akan tetapi jika dia terus dalam hubungan badannya, maka dia terkena hukum orang yang berhubungan badan pada siang hari Ramadhan.

Wajib baginya untuk bertaubat, karena dia telah melanggar perkara yang diharamkan ketika puasa. Sebagaimana wajib baginya untuk menahan diri pada hari itu dan mengqodho puasanya. Wajib pula baginya membayar kafaroh orang yang berhubungan badan di siang hari Ramadhan. Yaitu, membebaskan budak, jika tidak mendapati maka puasa dua bulan berturut-turut, jika tidak mampu maka memberi makan untuk 60 orang miskin.

Dan kafaroh di sini adalah wajib secara urut, bukan untuk pilihan. Dan yang kita jelaskan ini berkaitan dengan yang laki-laki. Maka hal ini wajib juga bagi yang perempuan jika dia menyepakati suaminya untuk melakukan perbuatan itu. Adapun jika dia terpaksa melakukan hal itu, maka pendapat yang kuat adalah dia tidak dibebani sesuatu apapun.

Dengan demikian, maka wajib bagi setiap muslim untuk berhenti dengan segera, dari segala hal yang membatalkan puasa ketika mendengar adzan. Inilah yang lebih hati-hati. Wallohu ta’ala a’lam.

Wa billahit taufiq.

Sumber :  http://www.islamlight.net/almoshaiqeh/books/almoshaiqeh-25.rar

Posting ulang dari artikel www.direktori-islam.com
——-

Teks Asli :

فتاوى الصــيام
هل يعد كشف الطبيب عن المرأة من المفطرات
السـؤال: هل الكشف على النساء مفطر للطبيب؟.
الجـواب:
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد:
الكشف على المرأة من قبل الطبيب المعالج  لا (يفطر) ، لأنه ليس من المفطرات التي جاءت في كتاب  الله وسنة رسوله- صلى الله عليه وسلم-.
الجماع في نهار رمضان
السؤال : السلام عليكم ورحمة الله وبركاته.
لقد قمت بمداعبة زوجتي في نهار رمضان وأثناء المداعبة تم الولوج، ولكن بدون قذف، فما حكم عملي هذا أسأل الله أن يعفو عني ويرحمني؟
الجواب:
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد:
من لزمه الصيام فإنه يحرم عليه أن يجامع زوجته في نهار رمضان؛ لأن الله عز وجل قال:”أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ…”، والجماع يحصل بإيلاج رأس الذكر وإن لم ينـزل، فإذا أولج الإنسان رأس الذكر فإنه أتى إثماً عظيماً، وفعل ذنباً كبيراً، ووجبت عليه الكفارة المغلظة، فيجب عليك يا أخي أن تقضي هذا اليوم لأنه فسد، ووجبت عليك الكفارة المغلظة أنت وعلى زوجتك عتق رقبة فإن لم تستطع أن تشتري رقبة، فإنك تصوم شهرين متتابعين.
فإذا كنت لا تستطيع أن تصوم شهرين متتابعين فإنك تطعم ستين مسكيناً؛ لحديث أبي هريرة –رضي الله عنه- في الذي جامع في نهار رمضان. انظر: البخاري (1936) ومسلم (1111) والله أعلم.
الجمع بين صيام داود والإثنين والخميس
السؤال : بسم الله الرحمن الرحيم.
أود أن أصوم كصيام داود –عليه السلام-، يصوم يوماً ويفطر يوماً، مع الحفاظ على صيام الإثنين والخميس، وأنا أعلم أن هناك أياماً منهي عن صيامها، فأود أن تخبروني ماذا أفعل؟ وأي أيام الأسبوع التي أصومها؟ وأي الأيام التي أفطرها؟

الجواب:
إذا أراد الإنسان أن يصوم يوماً ويفطر يوماً فهذا هو صيام داود –عليه السلام-، وهذا هو أعدل الصيام وأفضله، وقد أرشد النبي –صلى الله عليه وسلم- لذلك عبد الله بن عمرو، لكن إذا جاءت الأيام التي نهي عن صيامها فإنه لا يصومها كيومي العيدين وأيام التشريق.
لمسايرة الطائرة للشمس طال الوقت فأفطر
السـؤال: كنت في رحلة من بون إلى موسكو في رمضان، فأقلعت الطائرة قبل المغرب بدقائق، علماً بأن خط سير الرحلة في اتجاه الشمس، فتأخر الغروب فجاؤوا بالأكل والشمس ما تزال طالعة فأكلت عدة قطع من اللحم، فاعتقدت أنه لحم خنزير فتركته، هل أقضي هذا اليوم علماً بأنني صمت أكثر من الوقت المطلوب؟ وماذا أفعل إذا كان اللحم الذي أكلته لحم خنزير؟

الجـواب:
إن كنت أقلعت قبل غروب الشمس في البلد الذي أنت فيه واستمرت الشمس طالعة عليك فوقت الصوم لم ينته عندك بعد، ولكونك أكلت فقد أفطرت في هذا اليوم، وعليك أن تقضي هذا اليوم؛ لأن الله –عز وجل– قال: ” فمن كان منكم مريضاً أو على سفر فعدة من أيام أخر ” [البقرة:184]. أما بالنسبة لأكل لحم الخنـزير فهذا محرم ولا يجوز إذا كنت تعلم أنه لحم خنـزير أو تعلم أنه لحم ميتة ذكي بذكاة غير شرعية لقول الله – عز وجل – : “حرمت عليكم الميتة والدم ولحم الخنـزير” [المائدة:3]، فعليك أن تتوب إلى الله –عز وجل-.
الإفطار في رمضان للاختبارات
السـؤال: سؤالي: كنت أيام الجامعة وفي أيام الاختبارات أستعمل نوعا من المنبهات والتي كانت تضطرني إلى الإفطار في رمضان حيث الاختبارات في رمضان، هل علي كفارة بالرغم أني مضطر للإفطار حيث أحس بدوخة إذا لم أفطر .

الجـواب:
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد:
الكفارة إنما تجب للإفطار بالجماع في نهار رمضان فقط، أما إذا أفطر الإنسان بالأكل والشرب أو أفطر بالحجامة أو أفطر بإخراج المني أو غير ذلك فإنه لا تجب عليه الكفارة، أو أفطر بالجماع في قضاء رمضان أو في صيام التطوع فلا تجب عليه الكفارة، وإنما تجب الكفارة بالإفطار بالجماع في نهار رمضان لن يلزمه الإمساك، وقول العلماء: لمن يلزمه الإمساك يخرج من لا يلزمه الإمساك، فلو سافر إنسان إلى مكة وجامع أهله في نهار رمضان فإنه لا كفارة عليه، وإنما يجب عليه القضاء.

هل دخان البخور مفطر؟
السـؤال: أفتى العلماء بأن دخان البخور مفطر، كيف ذلك والناس في السابق -كما أخبرتني الوالدة- يطبخون على حطب وينفخون بأفواههم ويدخل في جوفهم الدخان، وتقول والدتي بأن الدخان لا بد أن يدخل في أجوافهم ولو تجنبوا نفخه بأفواههم.

الجـواب:
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله.
بالنسبة للبخور فقد أفتى بعض العلماء أنه لا يفطر كما ذكر شيخ الإسلام ابن تيمية – رحمه الله تعالى- لكن لا يستنشقه الإنسان؛ لأن له أجزاء تصعد إلى المعدة، فإذا كان كذلك فإنه إذا احتاج الإنسان إلى الطبخ والعمل في النار ونحو ذلك فلا بأس، لكن يتحرز أن يستنشق هذا الدخان. والصحيح أن هذا الدخان ليس طعاماً ولا شراباً وليس في معنى الطعام أو الشراب.
مريضة ولم تستطع صيام رمضان
السـؤال: أمي أجريت لها عملية زرع كلية، فلم تتمكن من صيام رمضان الذي تلا العملية؛ لأن الصوم كان مضراً بها بحسب نصيحة الطبيب، ثم صامت السنين التي تلت العملية بعام، وأطعمت عن ذلك الشهر. فهل يلزمها قضاؤه أيضاً؟ مع العلم أن الصيام يشق عليها.

الجـواب:
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله.
هذه المرأة أفطرت لمرض يرجى شفاؤه، فيجب عليها أن تقضي لقول الله تعالى: “فعدة من أيام أخر” [البقرة من الآية: 184]، أما وقد أخرت القضاء حتى أصبحت لا تستطيع أو يشق عليها، فإنها تطعم عن كل يوم مسكيناً. والله أعلم.
لا بد لها من العمل ولا تستطيع الصيام أثناءه
السـؤال: زوجة في حاجة للعمل ولا تستطيع صيام رمضان في الأيام التي تعمل فيها وهي خمسة أيام في الأسبوع، وتقول إنها لو لم تتناول وجبة الإفطار والغداء في وقتيهما قد تسقط مغشيا عليها في الطريق أو في قاعة الدرس.. فماذا يتوجب عليها فعله في كل هذه الأيام التي أفطرت فيها؟.

الجـواب:
الحمد لله وحده، والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد:
من أفطر شيئاً من رمضان فعليه قضاؤه، لقول الله – عز وجل-: “فعدة من أيام أخر” [البقرة:184]، فيجب عليها أن تقضي قبل أن يأتي رمضان الثاني، لحديث عائشة –رضي الله تعالى عنها- قالت: ” كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلَّا فِي شَعْبَانَ وَذَلِكَ لِمَكَانِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” أخرجه البخاري (1950) ومسلم (1146)، يبقى أن لهذه المريضة أن تؤخر إلى مجيء شعبان قبل مجيء رمضان التالي، فإذا كانت لا تستطيع فينظر إن كانت عدم استطاعتها دائمة، بحيث أن هذا المرض لا يرجى زواله، فإنها تطعم عن كل يوم مسكيناً، ويسقط عنها القضاء، وإذا كان هذا المرض يرجى زواله فإنها تنتظر حتى ولو جاء رمضان الثاني فتؤخر القضاء حتى تبرأ.
تحمل أوزاناً ثقيلة لإنزال الدورة
السـؤال: أختي تبعث إليكم وتقول: إنها في الثامنة عشرة من عمرها كانت في رمضان تتعمد أن تحمل أوزاناً ثقيلة لإنزال الدورة الشهرية، وبالفعل تنزل، وهي تسأل هل هي تعمدت أن تفطر؟ وما هي الكفارة؟.
الجواب:
بسم الله الرحمن الرحيم. الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، وبعد: إذا كانت هذه المرأة تحمل هذه الأشياء لكي ينزل عليها دم الدورة وتفطر فإنها آثمة، ولا يجوز لها ذلك لما فيه من التحيل على إبطال العبادة، وعليها أن تتوب إلى الله – عز وجل- وأن تقضي هذا اليوم.
الاعتكاف يوماً أو يومين
السـؤال: نظراً لظروف عملي فإني لا أستطيع الاعتكاف طيلة العشر الأواخر، فهل يجوز لي أن أعتكف يوماً أو يومين؟.
الجواب:
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد:
نعم لا بأس أن يعتكف الإنسان يوماً أو يومين، فأقل الاعتكاف يوم أو ليلة؛ كما ورد أن عمر – رضي الله عنه – سأل النبي – صلى الله عليه وسلم – أنه نذر أن يعتكف ليلة في المسجد الحرام، فقال النبي – صلى الله عليه وسلم -: “أوف بنذرك”، فأقل الاعتكاف يوم أو ليلة، هذا ما ورد في الشرع، لكن السنة يعتكف العشر كاملة.
هل يعتمد في رؤية الهلال على الحساب؟
السـؤال: السلام عليكم ورحمة الله وبركاته.
كما تعرفون، إن بلدنا تعتمد على الفلكيين دون الرؤية في تعيين الأشهر القمرية, وفي رمضان الماضي انفردت بلدنا مع طائفة من العراقيين بالفطر، الكثير من الناس صاموا يوم العيد بحجة أن الرؤية لا تثبت إلا بالعين, وأن شرقنا وغربنا من دول العالم الإسلامي صائمون, وأن الهلال قد ولد على ما قال الفلكيون في الظهيرة, ولا يمكن رؤيته عند غروب يوم الشك, فهل عملهم هذا مشروع؟ أفتوني مأجورين.
الجواب:
الحمد لله وحده، والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد:
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته.
الصواب أنه لا عبرة بالحساب الفلكي؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم: ” إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ، الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا”. وَعَقَدَ الْإِبْهَامَ فِي الثَّالِثَةِ . أخرجه البخاري (1913) ومسلم(1080). وقال سبحانه وتعالى: (فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ) [البقرة:185].
وقال عليه الصلاة والسلام: “صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وأَفْطِرُوا لرؤيتِهِ، فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ”. أخرجه البخاري (1900) ومسلم (1080). وفي لفظ: “فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاثِينَ”. أخرجه البخاري (1909). والأحاديث في هذا كثيرة، فالصحيح أن الشهر يدخل بأحد أمرين:
الأمر الأول: رؤية هلاله.
الأمر الثاني: إكمال عدة شعبان ثلاثين يومًا إذا لم يُر الهلال.
ومثله– أيضًا- شهر شوال يثبت بواحد من أمرين: رؤية هلاله ممن تعتبر رؤيته، والثاني: إكمال عدة رمضان ثلاثين يومًا.
وأما بالنسبة لوضعكم، وأن بلدكم يتابعون الحساب فيظهر لي أنك تصوم وتفطر مع الناس، فإذا كان الناس يصومون ويفطرون بالحساب الفلكي فإنك تتابعهم؛ لحديث أبي هريرة، رضي الله عنه: “الصَّوْمُ يومَ تَصومُونَ، والفِطرُ يومَ تُفْطِرُونَ”. أخرجه الترمذي (697) وأبو داود (2324) وابن ماجه (1660) . والله أعلم.

مات وعليه صوم
السؤال: السلام عليكم ورحمة الله وبركاته، وبعد:
رجل كان مريضاً لفترة طويلة وكان يقدر على الصوم ولكن في آخر سنتين من عمره اشتد عليه مرضه فلم يصم شهر رمضان في هاتين السنتين من عمره وأبنائه موجودون فذكرهم في آخر سنة من عمره أنه لم يصم ثم مات فما حكمه؟ وهل عليه شيء؟
الجواب:
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته، وبعد:
لا يخلو مرض هذا الرجل من أمرين:
الأول: أن يكون مرضاً لا يرجى برؤه فهذا يجب على ورثته أن يطعموا من تركته إن خلف تركة مسكيناً عن كل يوم ترك صيامه، أو يصوموا عنه وهذا مستحب أي الصيام عنه.
الثاني: أن يكون مرضاً يرجى برؤه فإن لم يقدر على القضاء لاستمرار مرضه حتى مات فلا شيء عليه لقوله تعالى: “فعدة من أيام أخرى”[البقرة:185].وهذا لم يقدر على عدة من أيام أخر. وإن قدر ولم يقض فيستحب لأوليائه أن يصوموا عنه.
صام مع أهل بلد وأفطر في بلد آخر
السؤال: رجل صام في البلد الذي كان فيه ثم سافر إلى بلد آخر تأخر في بدء الصوم يوماً فإذا أفطر مع البلد الذي سافر إليه أصبح صومه 28 يوماً، فماذا يفعل؟

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، وبعد:
الجواب:

إذا صام الإنسان في بلد ثم سافر إلى بلد آخر فإنه يأخذ حكم البلد الذي سافر إليه فلو أنه مثلاً في السعودية ثم سافر إلى مصر أو إلى المغرب أو نحو ذلك فإنه يأخذ حكمهم ويفطر معهم، ثم بعد ذلك إذا أفطر معهم ننظر إن كان أتى بالشهر كاملاً يعني تسعة وعشرين يوماً أو ثلاثين يوماً فهذا لا شيء عليه وإن كان صيامهم ثمانية وعشرين يوماً فقد نقص يوماً فعليه أن يصوم ذلك اليوم لأن الشهر الهلالي لا ينقص عن ثلاثين أو تسعة وعشرين يوماً.
التهنئة بدخول العشر الوسطى والعشر الأواخر من رمضان
السؤال : ما حكم التهنئة بدخول العشر الوسطى والعشر الأواخر من رمضان؟
الجواب
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، وبعد:
التهاني بمواسم الخير والعبادات يظهر _والله أعلم_ أنه جائز؛ ويدل لهذا أن النبي _صلى الله عليه وسلم_ قال لأبي بن كعب – رضي الله عنه – :” يا أبا المنذر أتدري أي آية من كتاب الله معك أعظم؟ قال: قلت: الله ورسوله أعلم، قال: يا أبا المنذر أتدري أي آية من كتاب الله معك أعظم؟ قال: قلت: الله لا إله إلا هو الحي القيوم، قال: فضرب في صدري وقال: والله ليهنك العلم أبا المنذر “، أخرجه مسلم في صحيحه.
وأيضاً الصحابة _رضي الله تعالى عنهم_ قاموا بتهنئة كعب بن مالك _رضي الله عنه_ لما نزلت توبة الله _عز وجل_ عليه في حديث طويل في صحيح مسلم، وغير ذلك.
فالأصل أن هذه التهاني جائزة، لكن الإكثار منها كما يفعل بعض الناس، يهنئون في أول الشهر، وفي وسطه وفي العشر الأواخر، فهذا فيه نظر وينبغي تركه، إن حصلت التهنئة فينبغي أن تكون في أول الشهر فقط ، ولا ينبغي للمسلم أن يبالغ في مثل هذه الأشياء،
ومثل هذه الأشياء وجدت أسبابها في عهد النبي _صلى الله عليه وسلم_، ولم يحصل أن النبي _صلى الله عليه وسلم_ فعلها، فالأحسن تركها، لكن إن هنَّأ الإنسان فإنه يهنِّئ في أول الشهر، فنقول: هذا لا تثريب عليه، أما كونه يبالغ وتكون التهنئة في أول الشهر وفي وسطه وفي آخره، فالأحسن للمسلم أن يترك ذلك، والله _تعالى_ أعلم .
تناول حبوب منع الحيض لمواصلة الصوم
السؤال : هل يشرع للحائض استعمال حبوب رفع الحيض لمواصلة صوم شهر رمضان؟
الجواب :
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، وبعد:
أما عن المشروعية فلا يشرع لها ذلك، ولكن الذي أنصح به المرأة أن تترك الأمر على طبيعته؛ لأن الإخلال بالأمر الطبيعي قد يؤدي ذلك إلى الضرر، ولا شك أن خروج دم الحيض في وقته أن هذا هو الأمر الطبيعي، لكن لو أنها استعملت ما يمنع نزول الدم فإن هذا مباح بشرط عدم الضرر، يعني بشرط ألا يكون هناك ضرر عليها،
أما صيامها بعد ذلك فصحيح ولا بأس به؛ ما دام أنها لم تر الدم،ولعدم وجود ما يفسد هذا الصيام وهو دم الحيض، لكن إن كان يلحقها ضرر باستعمال ما يرفع الدم فنقول بأن هذا لا يجوز ؛لأن الله _عز وجل_ يقول: “وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ” (البقرة: من الآية195)، ويقول: “وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً”. (النساء: من الآية29). ومن القواعد المقررة عند العلماء قاعدة لا ضرر ولا ضرار، ومعناها:لا تلحق الضرر بنفسك، ولا تلحق الضرر بالغير، والله تعالى أعلم.
جامع زوجته ثم طلع عليه الفجر واستمر في جماعه
السؤال : رجل أتى أهله قبل أذان الفجر، ثم أذن الفجر أثناء الجماع لكنه واصل جماعه حتى مر على ذلك ربع ساعة بعد الأذان، فماذا عليه؟
الجواب :
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، وبعد:
إذا طلع الفجر والإنسان يفعل محذوراً من محذورات الصيام، يعني يفعل مفطراً من مفطرات الصيام من أكل أو شرب أو جماع فإنه يجب عليه أن يمتنع، وإذا واصل فعله للمفطرات فإنه يأخذ حكم من فعل ذلك المفطر في أثناء النهار، فإذا كان يجامع ثم طلع عليه الفجر واستمر في جماعه فالواجب عليه أن ينزع، لكن إذا استمر في جماعه فإنه تترتب عليه أحكام المجامع في نهار رمضان.
فبداية تجب عليه التوبة، من كونه انتهك حرمة الصيام، كما يجب عليه أن يمسك ذلك اليوم، وأن يقضيه، وتجب عليه كذلك كفارة المجامع في نهار رمضان، وهي عتق رقبة، فإن لم يجد فصيام شهرين متتابعين، فإن لم يستطع فإطعام ستين مسكيناً، والكفارة هنا واجبة على الترتيب وليست على التخيير، وماقلناه في حق الرجل فيجب على المرأة كذلك إذا طاوعت زوجها على ذلك الفعل، أما إذا أكرهت على ذلك فلا يجب عليها شيء على الراجح، وعلى ذلك فيجب على المسلم الانتهاء عن المفطرات عند سماع الأذان فوراً وهذا هو الأحوط ، والله تعالى أعلم .

وبالله التوفيق.

~ oleh Thifal Ramadhani pada Juli 15, 2011.

3 Tanggapan to “Fatwa-Fatwa Puasa Prof.DR.Kholid bin Ali Al Musyaiqih”

  1. Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

    saya masih tergolong pengantin baru dan saya pernah bercumbu dengan istriku pada siang hari bulan Ramadhan,aku betul betul menyesali berbuatan itu,apakah ada madorot yang lain,,seperti tidak di karuniyai anak dll…seperti yg aku dengar,,walau pun saya sudah puasa 2 bulan berturut turut.apakah itu semua memang benar

    • Wa’alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh…

      Afwan, yang saya pahami bercumbu disini adalah mencium istri…

      Dalil dibolehkannya mencium dan bermesraan bagi orang yang merasa aman tidak keluar mani, adalah riwayat Bukhai (1927) dan Muslim (1106) dari Aisyah radhialahu anha, dia berkata ;
      كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لأرْبِهِ
      “Nabi shallallahu alaihi wa sallam mencium dan bercumbu (dengan isterinya) saat beliau berpuasa. Dan beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan syahwatnya di antara kalian.”

      Dalam shahih Muslim (1108) dari Amr bin Salamah, dia bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,
      أيقبل الصائم ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” سل هذه ” – لأم سلمة – فأخبرته أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يصنع ذلك ”
      “Apakah orang berpuasa boleh mencium?” Maka Rasulullah shalllallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tanyalah kepada dia (maksudnya Ummu Salamah)”. Lalu Ummu Salamah memberitahukannya, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam berbuat seperti itu (mencium saat berpuasa).”

      Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata,
      ” وغير القبلة من دواعي الوطء كالضم ونحوه فنقول حكمها حكم القبلة ولا فرق ” . أ . هـ من ” الشرح الممتع ” 6 /434
      “Selain mencium, semua bentuk muqadimah jimak, seperti memeluk dan semacamnya, hukumnya disamakan dengan mencium, tidak ada bedanya.”
      (Asy-Syarhul Mumti’, 6/434)

      فلا بأس من مداعبة الرجل لامرأته ، أو المرأة لزوجها بالكلام في حال الصيام بشرط أن يأمنا على نفسيهما من الإنزال ، فإن كانا لا يأمنان على نفسيهما من الإنزال كمن كان شديد الشهوة ويخشى أنه إذا داعب امرأته أن يفسد صومه بإنزال المني : فلا يجوز له فعل ذلك لأنه يعرض صومه للإفساد . وكذلك إذا كان يخشى خروج المذي —الشرح الممتع 6/390
      Tidak mengapa suami bermesraan dengan isterinya, atau isteri mengucapkan kata-kata mesra kepada sang suami saat puasa, dengan syarat keduanya merasa aman tidak keluar mani (akibat perbuatan tersebut). Jika keduanya tidak merasa aman dari keluarnya mani, seperti orang yang hasrat seksualnya tinggi dan dia khawatir apabila bermesraan dengan isterinya akan batal puasanya akibat keluar mani, maka tidak boleh baginya perbuatan itu, karena akan menyebabkan rusaknya puasa. Demikian pula halnya jika dia khawatir keluar mazi.
      (Asy-Syarhul Mumti, 6/390)

      meskipun begitu, kita tetap harus berhati-hati jangan sampai merusak ibadah puasa kita, dan lebih baiknya dihindari bercumbu/bermesraan suami-isteri di siang hari karena inilah salah satu hikmah adanya puasa ramadhan ” menahan syahwat hawa nafsu “, mengenai mudharat tidak dikaruniai anak, afwan saya tidak mendapatkan riwayat yang shahih akan hal itu…wallahua’lam

    • jika yang dimaksud bercumbu adalah bersetubuh antara suami-isteri maka hal itu tidak boleh dilakukan karena Jima’ pada siang hari bulan ramadhan adalah pembatal puasa yang paling tercela. Bagi yang melakukannya dikenakan denda berupa membebaskan seorang budak wanita mukminah. Jika ia tidak memilikinya, maka ia harus membayarnya dengan berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika ternyata ia tidak mampu, maka ia wajib menebusnya dengan memberi makan enam puluh orang fakir miskin, disertai dengan taubat dan mengganti puasanya yang batal akibat bersetubuh pada siang hari bulan Ramadhan itu…..maka bertaubatlah, sesungguhnya Allah senang melihat hambanya yang bersungguh-sungguh bertaubat….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: