Qowaidul Fiqhiyyah: “Hukum Asal Dalam Harta Seseorang Adalah Haram Bagi Yang Lainnya”.


“الأصل في الأموال التحريم”

Al aslu fil amwaali at tahrimu ”

Artinya :” hukum asal harta orang lain adalah haram ”  dan kaidah ini selau dan senantiasa dipakai dalam syari’at islam .

Adapun dalil dari kaidah ini, banyak sekali nash-nash syar’ii yang menunjukkan hal tersebut diantaranya :

Dalil Dari Al Qur’an

Firman Allah Azza wa jalla :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ( النساء: 29)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.” (QS An-nisa’: 29 )

Dan firman-Nya :

{ وَلَا تَعْتَدُوا إِن اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ (سورة البقرة 190) }

“Janganlah kamu melampaui batas, Karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Baqorah : 190 )

Firman-Nya :

{ وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (البقرة 188) }

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu Mengetahui.” (QS Al-Baqarah : 188)

 

وقول النبي – صلى الله عليه وسلم – ” إن دماءكم وأموالكم عليكم حرام ” وقول النبي – صلى الله عليه وسلم – ” لا يحل مال امرئ مسلم إلا بطيب نفس منه ” إلى غير ذلك من النصوص .

Dalil dari As Sunnah :

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:  “sesungguhnya darah kalian dan harta kalian adalah haram (terjaga) bagi selain kalian” dan juga sabdanya rasulullah: “tidak halal harta seseorang muslim kecuali atas kebaikan sang pemiliknya untuk memberikannya” dan banyak sekali dalil-dalil yang lain yang menunjukkan kaidah ini.

 

وقول المؤلف هنا: “إلا للمعصوم” يراد به: المحارِب، فإنه يجوز الاستيلاء على أموالهم، إذا قامت الحرب بين المسلمين وغيرهم.

Dan ucapan mualaif disini: “إلا للمعصوم” maksudnya di sini adalah kecuali dalam peperangan, maka sesungguhnya  boleh memgambil harta mereka, jika terjadi peperangan antara kaum muslimin dengan selainya.

 

ويدل على ذلك: عدد من النصوص، منها قول الله – عز وجل – { وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ وَأَرْضًا لَمْ تَطَئُوهَا } (سورة الأحزاب آية : 27 ) وقوله – عز وجل – { يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَنْفَالِ قُلِ الْأَنْفَالُ لِلَّهِ وَالرَّسُولِ } (سورة الأنفال آية : 1) وقوله سبحانه: { * وَاعْلَمُوا أَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُ } (سورة الأنفال آية : 41) الآية،.

Adapun dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah beberapa dalil dari nash-nash syar’iyyah diantaranya  firman  Allah azza wa jalla :

{ وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ وَأَرْضًا لَمْ تَطَئُوهَا } (سورة الأحزاب آية : 27)

“Dan dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak.[1] (QS Al-Ahzab : 27)

Dan firrman-Nya  :

{ يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَنْفَالِ قُلِ الْأَنْفَالُ لِلَّهِ وَالرَّسُولِ } (سورة الأنفال آية : 1)

“Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul.[2] ( QS Al-Anfal : 1)

Dan juga firman Allah :

{ وَاعْلَمُوا أَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُ.….. } (سورة الأنفال آية : 41)

“Ketahuilah, Sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang[3], maka Sesungguhnya seperlima untuk Allah.…”(QS Al-Anfal : 41)

وقول النبي – صلى الله عليه وسلم – ” من قتل قتيلا فله سلبه ” وكان النبي – صلى الله عليه وسلم – يغزو المشركين، ويأخذ أموالهم

Dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “Barang siapa yang berperang dalam peperangan maka baginya harta rampasan, dan sudah mashur dalam syiroh bahwasanya rasulullah r berperang melawan orang-orang musrik dan belaiu mengambil harta rampasanya.

 

والأوْلى عدم ذكر الاستثناء في القاعدة فيقال: الأصل في الأموال التحريم. ولا يذكر المعصوم؛ لأن المراد هنا: تقرير القاعدة، والأصل العام. وأما المستثنيات فلا تؤخذ من صلب القاعدة، ويدل على ذلك: أن التصرف في الأموال يجوز في بعض الحالات الأخرى، مثل التصرف بحق، مثل: أخذ البنيان الذي يحتاج إليه الناس في طرقاتهم، ومثل: المال المؤذي الذي يؤذي الناس مثل الجمل الهائج.
فهذه تصرفات بحق، ومع ذلك لم يذكر المؤلف هذا القيد. فلو لم يذكر القيد الأول، لكان أضبط على منهج الأصوليين، في ذكر القاعدة بدون ذكر مستثنياتها.

Dan lebih bagus dang afdhol jika tidak disebutkan ististna’ (“إلا للمعصوم”) dalam kaidah ini maka cukup dikatakan :  الأصل في الأموال التحريم (hukum asal harta adalah haram) tanpa di sebutkan kalimat “إلا للمعصوم”karena tujuannya disini adalah untuk mejelaskan kaidah asalnya, dan hukum asal adalah umum,tanpa ada pengecualian, adapaun mustasniyat (pengecualian-pengecualian) tidak seharusnya diambil dalam menjelaskan kaidah asal, dan menunjukkan hal yang demikian itu adalah: bolehnya mengunakan harta dalam hal-hal tertentu, misalnya : mengunakan untuk kebenaran / kepentingan umum, misalnya: mengambil / menghancurkan sebagian bangunan yang di butuhkan manusia untuk memperbaiki / memperluas jalan bagi kepentingan umum, dan misal yang lain: harta benda orang yang yang meganggu orang lain, misal: onta/ sapi gila yang bisa membahayakan orang lain, maka ini boleh diambil (di bunuh) untuk kebaikan / kepentingan umum,  walauapun mualaif di sini tidak menyebutkannya penguat (pengecualian) diatas maka sungguh lebih bagus dan sesui dengan penjelasan para ahlu usul, dalam meyebutkan kaidah umum tanpa menyebutkan pengecualian-pengecualain.


ومن القواعد المهمة -مثل هذه القواعد- قاعدة “الأصل في الأعراض”. فإن الأصل في الأعراض التحريم، بحيث لا يجوز أن يُتناول عرض المسلم بفعل ولا بقول. هذا هو الأصل، والقاعدة مستمرة. فلا يجوز الحديث في الآخرين، ولا غيبتهم، ولا الكلام في معائبهم، إلا إذا قام دليل على جواز ذلك .

 

____________________

  1. Tanah yang belum diinjak ialah: tanah-tanah yang akan dimasuki tentara Islam.
  2. Maksudnya: pembagian harta rampasan itu menurut ketentuan Allah dan RasulNya.
  3. 3. Yang dimaksud dengan rampasan perang (ghanimah) adalah harta yang diperoleh dari orang-orang kafir dengan melalui pertempuran, sedang yang diperoleh tidak dengan pertempuran dinama fa’i. pembagian dalam ayat Ini berhubungan dengan ghanimah saja. Fa’i dibahas dalam surat al-Hasyr.

 

 

Diposting ulang dari Qowaidul Fiqhiyyah Al-Ustadz Sulaiman Abu Syeikha Al-Magetiy

 

 


Baca Artikel Lainnya :


 

~ oleh Thifal Ramadhani pada Februari 18, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: