Qowaidul Fiqhiyyah : “hukum asal dalam hal jima’ ( kemaluan ), daging hewan dan jiwa/nyawa dan harta adalah haram”



الأصل في الأبضاع واللحوم والنفس والأموال التحريم

Al aslu fil abdhi’I wal luhuumi wan nafsi wal amwaali at tahrimu

hukum asal dalam hal jima’ ( kemaluan ), daging hewan  dan jiwa/nyawa dan harta adalah haram

والأصل في الأبضاع واللحوم تحريمها حتى يجيء الحل والنفس والأموال الا للمعصوم فافهم هداك الله ما يُمل  لعلها “ما يَحِلُ” .

Hukum asal jima’ (kemaluan)  dan daging (hewan) adalah haram sampai ada sebab yang menghalalkanya, begitu juga hukum asal  jiwa (kehormatan) kecuali karena perang maka fahamilah semoga Allah memberikan petunjuk terhadap apa yang kamu harapkan (mungkin yang bagus adalah يمل diganti يحل )


الأصل في الأبضاع التحريم. البُضع: قطعة اللحم، في لغة العرب. وفي الاصطلاح يطلق على ثلاثة معان:

Hukum asal dalam hal jima’ (kemaluan) adalah haram, kata البضع (al budh’u) artinya dalam bahasa arab: adalah potongan daging, adapun arti secara istilah syar’ii mencakup tiga hal:

المعنى الأول: الفرج. ولا شك أن الأصل في الفروج التحريم، فلا تستعمل إلا في ما جاء دليل بحله وجوازه. ودليل ذلك: قول الله – عز وجل – { وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7) } (سورة المؤمنون آية : 5-7) .

Makna yang pertama ( البضع ) adalah : الفرج / kemaluan .

Dan tidak diragukan bahwasanya hukum asal dalam hal kemaluan adalah haram, maka tidak boleh memakai dan menjamahnya kecuali ada dalil (sebab) yang membolehkan dan menghalalkanya untuk menjamahnya, adapun dalilnya adalah :

(5)  Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, (6). Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki1); Maka Sesungguhnya mereka dalam hal Ini tiada terceIa. (7). Barangsiapa mencari yang di balik itu2) Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.

 

وجاء في الحديث أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال في النساء: ” اتقوا الله في النساء، فإنكم استحللتم فروجهن بكلمة الله ” فدل ذلك على أن الأصل في النساء تحريم الفروج، حتى يأتي أمر يحلها، وهو كلمة الله. والمراد بكلمة الله -على الصحيح- عقد النكاح. إلى غير ذلك، من النصوص الواردة في تحريم الأبضاع، بمعنى الفروج .

Dan dalam sebuah hadist, Rasulullah bersabda tentang kehormatan perempuan:

“Bertakwalah kepada Allah dalam mempergauli istri-istri kalian, karena sesungguhnya kalian dihalalkan menjamah (menjima’) kemaluan istri kalian dengan kalimat Allah.”

Maka dari hadist ini (dan ayat sebelumnya pent.) dapat kita  ketahui bahwasannya hukum asal perempuan dan kehormatan serta kemaluannya adalah haram sampai ada sebab yang menghalalkannya yaitu dengan kalimat Allah, sedang yang dimaksud kalimat Allah dalam hadist tersebut –yang benar– adalah: ikatan pernikahan, dan masih banyak lagi dalil-dalil yang lainya dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang mengharamkan al-abdho’ yaitu kemaluan.


المعنى الثاني من معاني ذلك: الجماع. والجماع لازم للفرج، وإذا قررنا أن الأصل في الفروج التحريم، فكذلك في الجماع .

Makna ( البضع / الابضاع ) yang kedua adalah: jima’ (bersetubuh) sedang jima’ itu harus pada kemaluan, maka jika kita hubungkan dengan kemaluan (penjelasan diatas pent.) adalah haram, maka demikian juga dalam jima’ (karena jma’ tidak terjadi kecuali  pada kemaluan pent.)

والمعنى الثالث: يراد به عقد النكاح، وذهب بعض العلماء إلى أن الأصل في العقود -عقد النكاح- التحريم، كما رأى ذلك السيوطي -في الأشباه والنظائر- وغيره من أهل العلم. وهو ظاهر عبارة المؤلف هنا، وظاهر عبارته في الشرح. وهذا المعنى لا يصح، بل الأصل في عقد النكاح الجواز والحل، حتى يأتي دليل يدلنا على التحريم.

Makna yang ketiga: yang dimaksud البضع adalah ikatan pernikahan, berpendapat sebagaian ulama’ bahwasanya hukum asal dalam ikatan pernikahan adalah haram, sebagaimana pendapat As-Suyuthi dalam kitabnya “Al-Asbaahu Wan Nadhooiru” dan juga sebagian ahlul ilmi, dan inilah yang nampak dari ungkapan bait syair mualif disini (As-Syeikh As-Sa’dhiy pent) dan juga apa yang nampak dari  syarah / penjelasan bait kaidah tersebut. Maka makna ini kurang benar, bahkan hukum asal dalam ikatan pernikahan adalah adalah boleh dan halal sampai ada dalil yang menunjukkan akan keharamannya.

 

ودليل ذلك: عدد من النصوص الشرعية، منها قوله -جل وعلا-: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ } ( سورة المائدة آية : 1) ومن ذلك عقد النكاح. فالأصل في العقود الصحة والجواز، حتى يأتي دليل يدل على الفساد، وعدم الصحة.

Adapun dalilnya adalah: beberapa nusus (nash-nash) syar’iyyah diantaranya firmannya:

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ } ( سورة المائدة آية : 1)

Artinya:1.  Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu3).

termasuk didalamnya adalah perjanjian dalam pernikahan, maka hukum asal dalam perjanjian tersebut adalah boleh dan syah, sampai ada dalil yang menunjukkan rusak dan batalnya ikatan perjanjian tersebut.

 

ويدل على ذلك: قوله -جل وعلا-: { حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ.…. } (سورة النساء آية : 23) الآية، فإن الله – عز وجل – قد حصر المحرمات، فدل ذلك على أن الباقي على الحل .

Dan menunjukkan hal tersebut firman Allah Jalla Wa’alla :  23. “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan4) (QS An-Nisa : 23 )

dalam ayat ini sesungguhnya Allah membatasi perempaun yang haram di nikahi, maka ini menunjukkan selain yang disebutkan tersebut adalah halal dan boleh di nikahi

 

ويدل عليه آخر الآية في قوله – عز وجل – { وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ } (النساء آية : 24) فدل ذلك على أن الأصل في عقد النكاح الجواز والحل، حتى يأتي دليل يغيره .

Dan menunjukkan yang demikian juga adalah firman Allah di akhir ayat 24 surat An-nisa : 24:

“Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian5) (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina..

Maka ayat ini menunjukkan hukum asal dalam ikatan pernikahan adalah boleh dan halal sampai ada dalil yang memalingkannya.

قال: “والأصل في اللحوم التحريم”. وهذا مذهب بعض الفقهاء، أن الأصل في اللحوم هو التحريم. ويستدلون على ذلك بحديث عدِي، أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ” إذا أرسلت كلبك المعلم، ووجدت معه غيره فقتل، فلا تأكل فإنك لا تدري أيَّهما قتل ” ويستدلون على ذلك: بأنه إذا اجتمع في نوع اللحم سبب مُبيح وسبب حاظر، غلب جانب الحظر. كما في البغل، وكما في الطير إذا صيد بالسهم، فوقع في الماء . وقد ورد في ذلك حديث في النسائي .

Adapun perkataanya : “والأصل في اللحوم التحريم”. Hukum asal daging hewan adalah haram” ini adalah madhab sebagaian fuqoha’, mereka berpendapat bahwasanya hukum asal daging hewan adalah haram, mereka berdalil dengan hadist yang di riwayatkan ‘adhiy bin hatim ( pent.), bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“jika kalian berburu dengan  anjing yang terlatih, dan kamu dapati bersamanya hewan yang lain dan dia membunuhnya, maka jangan kamu makan, karena sesungguhnya kamu tidak tahu siapa yang saling menyerang dan membunuh.”

Mereka berdalil dengan hadist ini: bahwasanya jika berkumpul antara jenis daging yang di halalkan dan jenis daging yang berbahaya/haram, maka mengutamakan pendapat daging yang haram (tidak memakan daging yang halal namun tercampur dengan yang haram tersebut pent.)  sebagaimana pula kuda/keledai bighol (peranakan dari  kuda dengan keledai pent.), dan burung yang mati karena dipanah  kemudian jatuh di air ( karena tidak jelas apakah matinya karena di panah atau karena tengelam dalam air pent.), dan sebagaimana di sebutkan dalam sebuah hadist dalam sunan Nasa’i.

Bersangkutan dengan masalah ini (hal yang mubah bercampur dengan hal yang haram / berbahaya) ana dapatkan dalam kitab Mulakhos Qowaid Al-Fiqhiyyahnya As-Syeikh Sholeh Al-Utsaimin yang di ringkas oleh As-Syeikh Abu Humaid Abdullah Al-Falasiy mengatakan dalam kaidah ke dua puluh satu

القاعدة الحادية والعشرون: إذا اجتمع مباح ومحظور، غلب المحظور.

Idhaa ijtama’a mubahun wa mahthurun, ghulibal mahthuru

Artinya Jika berkumpul menjadi satu antara sesuatu yang halal dengan yang haram/berbahaya  maka di dahulukan (diambil) yang haram/berbahaya.

 

إذا اجتمع مباح ومحظور، غلب جانب المحظور احتياطاً وذلك لأنه لا يمكن تجنب الحرام إلا باجتناب الكامل للحلال والحرام، ويدل على ذلك قوله تعالى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾ [المائدة:90] فحرم الله الخمر والميسر مع أن فيهما منافع للناس، لكن لما غلب جانب الشر منع.

Penjelas dari kaidah ini: jika berkumpul dalam sesuatu antara hal yang mubah dan hal yang haram / berbahaya, maka di utamakan sisi yang haram untuk menjaga diri dari haram tersebut, dan tidak munkin menjauhi / menjaga diri dari sisi yang haram tersebut kecuali jika menjauhi secara total sesuatu yang  yang bercampur antara yang halal dengan yang haram tersebut, adapun dalil yang menunjukkan kaidah ini adalah firman Allah

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah6), adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan” (QS Al-Ma’idah : 90).

Dalam ayat ini Allah mengharamkan khamer (minuman keras) dan judi (serta mengundi nasib pent.) padahal di dalamnya terdapat manfaat dan faedah buat manusia, namun jika banyak mudharat dan kejelekannya maka menjadi haram dan dilarang.

 

ولعل هذه الأدلة ليست في مسألة الأصل؛ لأن هذه الأدلة لما اجتمع فيه سببان: سبب تحريم، وسبب إباحة. كلب صيد وكلب أجنبي، سهم وغرق. ومسائل الأصل -كما تقررت سابقا- يراد بها: المسائل التي ليس فيها دليل. لا دليل إباحة، ولا دليل تحريم؛ ولذلك فإن الأظهر أن الأصل في اللحوم هو الحل، وليس التحريم.

Mungkin saja dalil-dalil ini bukan inti dari permasalahan hukum asalnya, karena dalil-dalil ini jika berkumpul antara daging yang halal dan yang haram didalamnya ada dua sebab yaitu: sebab keharamanya dan sebab kehalalanya, antara daging dari anjing pemburu (terlatih) dan anjing biasa, antara hewan yang mati karena anak panah atau karena tengelam.

Namun permasalahan inti  asalnya  –sebagiamana penjelasan di atas- adalah: perkara dan sesuatu yang tidak ada /tidak didapati dalilnya, baik dalil yang menghalalkannya atapun dalil yang mengharamkannya, oleh karena itu yang nampak jelas dan rajih : bahwasanya hukum asal daging hewan adalah halal bukan haram.

 


كما قلنا في المياه: الأصل فيها الطهارة، ولو اجتمع سبب طهارة، وسبب نجاسة في الماء، حرم. ولا يدل ذلك على: أن الأصل في المياه هو النجاسة

Sebagaimana kami katakan tentang air: hukum asal air adalah suci, seandainya berkumpul antara sebab kesuciannya dan sebab kenajisannya maka air itu menjadi najis (tidak  boleh di gunakan untuk bersuci pent.) maka dari hal tersebut tidak menunjukkan bahwasanya : ” hukum asal air adalah najis “


ويدل على: أن الأصل في اللحوم هو الجواز والحل، قوله سبحانه: { قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً ….. الآية } (سورة الأنعام آية : 145) ، فإنه دل على: أن الأصل هو الحل والجواز، وأن التحريم مستثنى.

Adapun dalil: hukum asal daging adalah boleh dan halal, adalh firman-Nya : 145.  Katakanlah:

“Tiadalah Aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – Karena esungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha penyayang”. (QS Al-An’am : 145 terjemahannya saya nukil dengan lengkap pent. )

Maka dari ayat ini menunjukkan bahwasanya: hukum asal daging hewan adalah halal dan boleh dimakan, dan pengharammnya adalah dengan pengecualian ( istisna’ ) dari yang  halal.

 

ويدل على ذلك: قوله جل وعلا: { وَمَا لَكُمْ أَلَّا تَأْكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ } (- سورة الأنعام آية : 119) فدل أن الأصل هو الحل والجواز في اللحوم المأكولة، وأن التحريم مستثنى .

Dan dalil yang lainya adalah firman Allah  :

Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. (QS Al-An’am : 119 )

Maka ayat ini menunjukkan bahwasanya hukum asal daging adalah halal dan boleh memakanya, sedangkan pengharamnya dengan pengecualain ( istisna’)  dari yang halal.

 

ويدل عليه أيضا: قوله جل وعلا: { إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ } (سورة البقرة آية : 173) فحصر المحرمات بأداة الاستثناء “إنما” الآية، فدل ذلك على أن الأصل في اللحوم هو الإباحة .

Dalil lain yang menunjukkan hukum asal  daging adalah halal firmanya :

{ إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ }

“Sesungguhnya Allah Hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah7). (QS Al-Baqorah : 173 )

dalam ayat ini pengharamannya di batasi dengan kata  “إنما” maka yang demikian itu menunjukkan bahwasanya hukum asal daging adalah halal.

 

ويدل عليه أيضا ما ورد في السنن، من حديث عائشة أن النبي – صلى الله عليه وسلم – ” سئل عن اللحوم التي تؤتى إليهم، ولا يُدرى هل ذكر اسم الله عليها أو لا؟ فقال: اذكروا اسم الله عليها أنتم وكلوا ” ولو كان الأصل في اللحوم التحريم؛ لقيل: لا تأكلوا حتى تعلموا قيام سبب الإباحة. إلى غير ذلك من النصوص الدالة على أن الأصل في اللحوم هو الحل والجواز، حتى يأتي دليل يغيره .

Dan menunjukan demikian juga (asal daging halal) hadist yang ada di sunan, dari hadistnya Aisyah radiallahu ‘anha:

bahwasanya Rasulullah pernah di tanya tentang daging yang diberikan kepada mereka, sedang mereka tidak tahu apakah dalam penyembelihannya menyebut asma Allah apa tidak? maka beliau menjawab : maka bacakan basmalah atasnya kemudian makanlah daging itu” (HR Bukhari kitabul Buyu’ bab: Tidak Memperdulikan Was-Was dan Ssemisalnya dari Subhat hadist no : 2057, Kitabut Tauhid bab: Berdoa Dengan Nama Allah dan Mohon Perlindungan Denga-Nya hadist no:7398)

Kalau seandainya hukum asal daging adalah haram, sungguh akan dikatakan: “janganlah kamu makan sampai kamu tahu dalil (bukti) halalnya daging tersebut.” Dan  masih banyak lagi dalil-dalil yang menyatakan bahwasanya hukum asal daging adalah halal dan boleh, sampai ada dalil yang menyatakan lain (haram/subhat pent.)

 

وقوله هنا: “الأصل في النفس التحريم”. هذا يراد به: أنه لا يجوز سفك الدماء إلا بدليل من الشارع. فالأصل: تحريم الاعتداء على دماء الخلق، حتى يأتي دليل بذلك. ويدل على هذه القاعدة: نصوص شرعية كثيرة، منها قوله جل وعلا: { وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا} ( سورة النساء آية  29 ( ومنها قوله سبحانه: { وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ } (سورة الأنعام آية : 151) وقوله: { وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ } (سورة الفرقان آية : 68) .

Adapun ucapanya disini :

: “الأصل في النفس التحريم”. Al aslu fin nafsi at tahrimu “

Hukum asal jiwa manusia adalah haram ditumpahkan darahnya” yang dimaksud kaidah ini adalah: tidak boleh menumpahkan darah manusia kecuali dengan dalil syar’ii yang menghalalkanya, maka hukum asalnya: haram menumpahkan darah hambaNya sampai datang dalil  tentang masalah tersebut,

 

 

DALIL KAIDAH INI


Dari Al Qur’an

Telah menunjukkan banyak sekali  dalil dari nash-nash syar’ii diantaranya firman Allah  :

{ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا (سورة النساء آية 29)

Artinya: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu(8); Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.( QS An-Nisa: : 29)

Dan juga firman-Nya :

{ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ } (سورة الأنعام آية : 151)

“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar9)“( QS Al-An’am :151).

Firman-Nya :

{ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ } (سورة الفرقان آية : 68)

“Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar,” ( QS:al furqan : 68 )

 

Dari As-Sunnah


وقول النبي – صلى الله عليه وسلم – ” لا يحل دم امرئ مسلم إلا بإحدى ثلاث: الثيب الزاني، والنفس بالنفس، والتارك لدينه المفارق للجماعة ”

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Tidaklah halal darah seorang muslim kecuali salah satu dari tiga alasan: orang dewasa (sudah berumah tangga) yang berzina, orang yang membunuh orang lain, dan orang yang meningalkan agamanya (murtad) dan meninggalkan jama’ah umat islam.(HR Bukhari Kitabut Diyat bab Firman Allah (QS Al-Ma’idah : 45) hadist no :6878 dan Muslim kitab Al Qosamah wal Muharibin bab: Sebab Dihalalkannya Darah Seorang Muslim hadist no : 1676 )

 

وقول النبي – صلى الله عليه وسلم – في المُعاهِد من الذميين: ” من قتل معاهدا لم يرح رائحة الجنة ”

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang orang kafir yang dilindungi negara: barang siapa yang membunuh Al-Mu’ahid (kafir yang dilindungi negara muslim karena suatu perjanjian atau kepentingan, misal bisnis, turis, belajar dsb pent.) maka dia tidak akan mencium baunya surga (HR Bukhari Kitabul Jiziyah wal Muwaada’ah bab: Dosa Orang yang Membunuh Mu’ahid Tanpa Sebab Kejahatan hadist no : 3266)

 

فهذا هو الأصل والقاعدة المستمرة تحريم الدماء .إلا ما جاء دليل بجواز سفك الدم فيه، وذلك في غير المعصوم مثل: الساحر بالنسبة للإمام؛ لقول النبي – صلى الله عليه وسلم – ” حد الساحر ضربة بالسيف ” كما في السنن. ومثل المرتد، ومثل المحارب من غير المسلمين؛ لقوله سبحانه: { فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ } (سورة التوبة آية : 5) .

Dan inilah hukum asalnya dan kaidah ini selalu dan senantiasa dipakai dalam pengharaman dan terjaganya jiwa seseorang, kecuali memang disana ada dalil yang membolehkan untuk menumpahkan darah, (seperti membunuh tanpa sebab, maka hukumnya orang tersebut di qisos (dibunuh juga), atau dalam peperangan dsb pent.) atau selainya seperti jiwa yang tidak terjaga kehormatannya (boleh dibunuh)  seperti: tukang sihir (jaman sekarang lebih terkenal dengan sebutan para normal pent.) dan ini yang boleh membunuhnya adalah pemimpin negara (atau dengan keputusan hakim pent.) sebagaimana sabda Rasulullah r: hukuman bagi tukang sihir (paranormal) adalah dengan pedang (dipengal lehernya) sebagaimana disebutkan dalam kitab sunan, contoh lainya: orang yang keluar dari agama islam (murtad), atau orang yang memerangi kaum muslimin, sebagaiman firman-Nya :

{ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ } (سورة التوبة آية : 5)

“Maka bunuhlah orang-orang musrik (yang memerangi kalian).” ( QS : at taubah:5)

 


________

  1. Maksudnya: budak-budak belian yang didapat dalam peperangan dengan orang kafir, bukan budak belian yang didapat di luar peperangan. dalam peperangan dengan orang-orang kafir itu, wanita-wanita yang ditawan Biasanya dibagi-bagikan kepada kaum muslimin yang ikut dalam peperangan itu, dan kebiasan Ini bukanlah suatu yang diwajibkan. Imam boleh melarang kebiasaan ini. Maksudnya: budak-budak yang dimiliki yang suaminya tidak ikut tertawan bersama-samanya (pent.)
  2. Maksudnya: zina, lesbiaan, homoseksual, dan sebagainya ( pent.)
  3. 3. Aqad (perjanjian) mencakup: janji setia hamba kepada Allah dan perjanjian yang dibuat oleh manusia dalam pergaulan sesamanya, juga perjanjian dalam pernikahan , perjanjian dalam jual beli (pent.)
  4. Mmaksud ibu di sini ialah ibu, nenek dan seterusnya ke atas. dan yang dimaksud dengan anak perempuan ialah anak perempuan, cucu perempuan dan seterusnya ke bawah, demikian juga yang lain-lainnya. sedang yang dimaksud dengan anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu, menurut Jumhur ulama termasuk juga anak tiri yang tidak dalam pemeliharaannya. (pent.)
  5. Ialah: selain dari macam-macam wanita yang tersebut dalam surat An Nisaa’ ayat 23 dan 24. (pent.)
  6. Al Azlaam artinya: anak panah yang belum pakai bulu. orang Arab Jahiliyah menggunakan anak panah yang belum pakai bulu untuk menentukan apakah mereka akan melakukan suatu perbuatan atau tidak. Caranya ialah: mereka ambil tiga buah anak panah yang belum pakai bulu. setelah ditulis masing-masing yaitu dengan: lakukanlah, Jangan lakukan, sedang yang ketiga tidak ditulis apa-apa, diletakkan dalam sebuah tempat dan disimpan dalam Ka’bah. bila mereka hendak melakukan sesuatu Maka mereka meminta supaya juru kunci ka’bah mengambil sebuah anak panah itu. Terserahlah nanti apakah mereka akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sesuai dengan tulisan anak panah yang diambil itu. kalau yang terambil anak panah yang tidak ada tulisannya, Maka undian diulang sekali lagi.
  7. Haram juga menurut ayat Ini daging yang berasal dari sembelihan yang menyebut nama Allah tetapi disebut pula nama selain Allah.
  8. Larangan membunuh diri sendiri mencakup juga larangan membunuh orang lain, sebab membunuh orang lain berarti membunuh diri sendiri, Karena umat merupakan suatu kesatuan.
  9. Maksudnya yang dibenarkan oleh syara’ seperti qishash membunuh orang murtad, rajam dan sebagainya.

 

 

 

Diposting ulang dari Qowaidul Fiqhiyyah Al-Ustadz Sulaiman Abu Syeikha Al-Magetiy

 

 
Baca Artikel Lainnya :

 

~ oleh Thifal Ramadhani pada Februari 18, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: