Qowaidul Fiqhiyyah : “Tidak Menjadi Kewajiban Jika Tidak Mampu Mengerjakan Dan Tidak Ada Keharaman Dalam Keadaan Darurat ( Bahaya )


وليس واجب بلا اقتدار ولا مُحَرَّم مع اضطرار

WALAISA WAJIBUN BILAA IQTIDARIN WALAA MUHARROMUN MA’ADH DHORORIN.

ARTINYA: tidak menjadi  kewajiban jika tidak mampu mengerjakan dan tidak ada keharaman dalam keadaan darurat ( bahaya )

 

يتضمن هذا البيت قاعدتين:
القاعدة الأولى: أن الواجبات تسقط مع عدم القدرة، والمراد بالقدرة: الاستطاعة
والمراد بالقاعدة: أن من لم يكن قادرا على فعل من الأفعال سقط عنه وجوبه، دليل ذلك قول الله – عز وجل – { فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ } (- سورة التغابن آية : 16) وقول النبي – صلى الله عليه وسلم – ” إذا أمرتكم بشيء فأتوا منه ما استطعتم ” .
وأنواع القدرة تختلف باختلاف الواجب، فالواجبات منها بدنية: فعدم القدرة يكون بعدم جزء البدن المتعلق بذلك الواجب ، مثل: غسل اليد، قد تُقْطَع اليد، فحينئذ لا يتمكن من غسل اليد، وقد يكون بعدم قدرة ذلك الجزء على العمل، مثل المُقْعَد الذي لا يستطيع القيام.

Bait ini mengandung dua qaidah yaitu:

Qaidah pertama: annal waajibaat tasquthu ma’a ‘adamil qudroh,

artinya : sesunggunya suatu kewajban menjadi gugur jika tidak ada kemampuan untuk menjalankannya, sedang maksud al qudrah adalah kemampuan.

Jadi maksud dari qaidah ini adalah: barang siapa yang tidak ada kemampuan baginya untuk menjalankan dan melaksanakan salah satu amalan wajib dari kewajiban agama maka gugurlah hukum wajib tersebut.

Dalilnya adalah firman Allah Azza wa jalla :

{ فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ } (- سورة التغابن آية : 16)

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS At-Taqobun : 16 )

Juga hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam :

و ما امرتكم به فأتوا منه مااستطعتم ( متفق عليه )

Jika aku perintahkan dengan sesuatu maka kerjakanlah semampu kalian. (HR Bukhari no: 7288 dan Muslim no: 1337 )

Adapun macam-macam al qudrah (kemampuan) disini berbeda-beda tergantung jenis dari kewajiban tersebut, diantara hal yang wajib kadang berhubungan dengan

1.   Badan, yaitu  tidak ada kemampuan (‘adamul qudrah) berhubungan dengan anggota badan yang berhubungan dengan kewajiban tersebut, contoh : mencuci tangan tatkala berwudhu padahal orang tersebut tidak memiliki tangan ( putus tangannya), maka dalam keadaan seperti itu orang tersebut tidak ada kemampuan untuk mencuci tangan, maka gugurlah kewajiban mencuci tangan baginya.

2.   Kadang tidak ada kemampuan juga berhubungan dengan perbuatan (fiil) ibadah, misal: orang yang lumpuh/duduk di kursi roda maka tidak ada kemampuan baginya untuk berdiri (dalam sholat ataupun ibadah lainnya: misal thowah, sa’ii dsb) maka gugurlah kewajiban berdiri baginya.

 

والواجبات المالية قد يعجز عنها لعدم وجود المال أو لعدم القدرة على التصرف فيه، مثل: من لم يجد الزاد والراحلة في الحج سقط عنه وجوب الحج، وهناك واجبات قولية تسقط عن الأبكم الذي لا يستطيع الكلام، وهذه الواجبات على نوعين:
منها ما له بدل فإذا عجز عن الأصل سير إلى البدل، مثل: الوضوء والتيمم، ومنها ما إذا سقط لا يكون له بدل، مثل: وجوب الحج إذا سقط عن غير المستطيع.

3. Dan kewajiban yang berhubungan dengan harta (wajibaatul maaliyyah) kadang gugur darinya karena tidak memiliki kemampuan untuk mengunakan harta yang cukup, misal: tidak memiliki perbekalan dan biaya untuk bepergian ibadah hajji maka gugurlah kewajiban hajji baginya.

4. Dan ada juga kewajiban yang berhubungan dengan ucapan/perkataan, (wajibaatul qauliyyah) misal: bacaan dalam sholat,  maka gugurlah kewajiban itu dari orang yang bisu yang  tidak bisa berbicara.

 

Dan kewajiban ini terbagi menjadi 2 macam :

  1. Kewajiban yang ada ganti dari kewajiban tersebut jika tidak ada kemampuan  untuk mengerjakannya dengan angota badan misal : wudhu gantinya adalah: tayamum, orang tua yang tidak mampu berpuasa : gantinya memberi makan tiap hari satu orang faqir miskin, dsb
  2. Kewajiban yang tidak ada ganti dari kewajiabn tersebut jika tidak ada kemampuan untuk melaksanakannya, misal : kewajiban haji gugur dari orang yang tidak ada kemampuan untuk melaksanakanya, atau jihad ( berperang melawan orang kafir ) gugur dari orang yang tidak ada kemampuan untuk menegakkannya misal bagi orang yang sakit parah, tua renta, lumpuh, buta dsb.

وإذا تقرر ذلك، هل العجز عن بعض الواجب يسقطه؟
هذه قاعدة مهمة: هل العجز عن بعض الواجب يسقطه؟ هذا يختلف باختلاف بعض الواجبات فإن الواجبات على نوعين:

Jika kita sudah mengetahui hal diatas, sekarang ada pertanyaan apakah lemah ( tidak mampu) mengerjakan bagian dari suatu kewajiban meyebabkan gugurnya kewajiban tersebut ? qaidah ini yang penting dan perlu di garis bawahi : APAKAH LEMAH UNTUK MENGERJAKAN BAGIaN DARI SUATU KEWAJIBAN MENGGUGURKAN KEWAJIBAN TERSEBUT? Ini berbeda dengan jenis dan macamnya  kewajiban, karena hal yang wajib itu ada dua ,macam:

النوع الأول: واجبات لا تتبَعَّض وإنما هي جزء واحد، فإذا عجز العبد عن بعضه سقط الجميع، ومثال ذلك: صاع الفطرة إذا عجز الإنسان عن بعضه سقط الجميع، وهذا يعبر عنه الفقهاء بقولهم: ما لا يتبعَّض فاختيار بعضه كاختيار كله، أو قالوا: فسقوط بعضه كسقوط كله.

Yang pertama: ibadah wajib yang tidak bisa dipotong (dibagi-bagi) karena ibadah tersebut satu bagian yang sempurna, maka jika seorang hamba tidak mampu untuk mengerjakannya sebagiannya maka gugurlah kewajiban tersebut. misalnya: batasan zakat fitrah adalah satu sha’ (ukuran sekarang kira-kira 2,176 kg Dan kita bisa menggunakan tangan untuk menjadi takaran dengan cara kita penuhi kedua telapak tangan sebanyak empat kali. Karena satu mud sama dengan genggaman dua telapak tangan orang dewasa dan satu sha’ sama dengan empat mud pent.) jika dia tidak memiliki satu sha’ maka gugurlah kewajiban tersebut. Dan para ulama mengatakan tentang qaidah ini: maa laa yataba’adu fakhtiaru ba’dhihi ka ikhtiyaru kulihi artinya : apa saja dari ibadah yang tidak bisa di bagi dan di potong sebagian maka memilih bagainnya merupakan pilihan semuanya. Atau mereka berkata: fasuquuthu ba’dhihi ka suquuthu kulihi artinya jika gugur sebagian saja maka gugur semuanya.


والنوع الثاني: واجبات تتبعَّض وليس بعضها مرتبطا بالآخر، فحينئذ إذا عجز عن البعض لم يسقط الباقي، مثل ستر العورة في الصلاة إذا عجزنا عن ستر بعض العورة وجب علينا ستر الباقي، ويعبر عنه الفقهاء بقولهم: الميسور لا يسقط بالمعسور.

Jenis kewajiban yang kedua: ibadah wajib yang bisa di bagi-bagi (di potong sebagian dalam artian: boleh mengerjakan sebagian dan boleh meningalkan sebagian jika tidak mampu melaksanakannya secara sempurna) dan bagian satu tidak berkaitan dengan bagian yang lain maka jika tidak mampu untuk melaksanakanya sebagian tersebut maka tidak gugur sebagian kewajiban tersebut, misal: menutup seluruh aurat waktu sholat,  maka jika kita tidak mampu menutup semua aurat dan terbuka  sebagain, maka kita wajib menutup aurat yang kita mampu untuk menutupinya, dan para ulama mengungkapkan qaidah ini dengan: al maisuuru laa yasqutu bil ma’suuri artinya : hal yang mudah tidak membatalkan hal yang sulit secara mutlaq.


وهناك واجبات تتردد بين الأمرين: هل هي وحدة واحدة أو هي أجزاء تتبعَّض فيقع الخلاف بين الفقهاء، مثال ذلك: الوضوء إذا عجز الإنسان عن غسل جميع أعضائه في الوضوء، وتمكن من غسل بعض الأعضاء، فهل يجب غسل البعض المقدور عليه؟ يقول: هل الوضوء يتبعَّض أو لا يتبعض؟ إن كان الوضوء يتبعض فإنه حينئذ يجب غسل ما يستطاع منه، وإن كان لا يتبعض فإنه لا يجب الغسل.

Dan disana ada ibadah wajib yang terkandung didalamnya dua hal diatas: apakah dia satu bagian yang utuh atau dia itu bisa dibagi-bagi, di sini ada perselisihan diantara fuqoha’: contohnya: wudhu’, jika seseorang tidak mampu mencuci semua angota badan yang wajib di basuh, dan hanya mampu mencuci sebagian saja, apakan wajib baginya uintuk mencuci anggota wudhu yang tersisa? para fuqoha’ berkata : apaka wudhu bisa dibagi dan di potong sebagian atau satu kewajiban yang utuh yang tidak bisa di bagi-bagi? maka jika wudhu’ merupakan ibadah yang bisa dibagi dan di potong maka wajib bagianya mencuci angota badan yang dia mampu untuk mencucinya, dan meningalkan yang lain, namun jika tidk bisa di bagi maka tidak wajib baginya untuk mencuci dan mengantinya wudhu dengan tayamum. Wallahu a’lam.

 

القاعدة الثانية: لا مُحَرَّم مع اضطرار، يعبر عنه كثير من الفقهاء بقولهم: الضرورات تبيح المحظورات، والمراد بالضرورة ما يلحق العبد ضرر بتركه بحيث لا يقوم غيره مقامه، هذا المراد بالضرورة على الصحيح

Kaidah kedua yang terkandung dalam bait kaidah ke enam adalah :

Laa muharromun ma’a ithdororin, artinya: tidak ada keharaman jika bersaman dengan darurat ( bahaya )  dan banyak dikalangan para fuqoha mengatakan dengan teks lainya: al dhororu tubihul mahdhuurot keadaan darurat menghalalkan hal yang haram” dan yang dimaskud ad dhoruruh disini adalah: apa-apa yang menyebabkan bahaya bagi hamba jika di tingalkan, dimana tidak ada  lainnya yang menempati  sebagai penganti, inilah yang dimaksud ad dhoruroh yang benar.

بخلاف الحاجة فإن الحاجة هي ما يلحق المكلَّف ضرر بتركه، لكنه قد يقوم غيره مقامه .
مثال الضرورة: إذا كان الإنسان مضطرا ولم يجد إلا الميتة، فهنا لو ترك الميتة لحقه ضرر ولا يقوم غيره مقامه، ما يجد إلا الميتة فهذا ضرورة ز ليس مطلقا و لكن مقيدة بقدرها

Berbeda dengan makna al haajah (kebutuhan /keperluan) maka hajah / kebutuhan maknanya: apa saja yang bisa menyebabkan bahaya bagi seseorang jika meninggalkannya, akan tetapi ada yang lainnya yang bisa meenempatinya sebagai penganti.

Misal dhoruroh: jika seseorang dalam keadaanya sangat genting dan lapar sekali dan tidak mendapati hal yang halal untuk dimakan kecuali bangkai padahal bangkai haram, jika dia meninggalkan bangkai tersebut untuk tidak dimakan maka orang tersebut akan mendapatkan bahaya, dan tidak ada lagi selain bangkai sebagai pengantinya (namun jika ada makanan yang halal yang bisa dia capai dan dapatkan  maka dia harus mencari yang halal itu), maka dia mendapati bangaki tersebut sebagai dhoruroh, dan ini tidak mutlaq semuanya halal, namun ada muqoyyadnya yaitu: sesui kadar nya saja (tidak boleh berlebih lebihan, akan datang penjelasnya insya Allah)

 

ودليل القاعدة -قاعدةالمحظورات تباح بالضرورات-: عدد من النصوص الشرعية، منها

Adapun dalil dari qaidah ini (al makdhurootu tubahu bil dorurooti / hal yang haram menjadi mubah jika dalam kondisi kritis, bahaya) adalah beberapa ayat diantaranya :

قوله جل وعلا: { فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ } (سورة البقرة آية : 173)

“Barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya.” (QS : Al-Baqorah : 173 )

وقوله سبحانه: { وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ } (سورة الأنعام آية : 119)

Dan firmanya :119.  “Sesungguhnya Allah Telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu membutuhkanya.” (QS Al-An’am :119 )

 

فالأولى -الآية الأولى- قد يقال: بأنها خاصة بالمطعومات. لكن الثانية ظاهرها عام { وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ } (سورة الأنعام آية : 119) ومن أمثلة القاعدة، أكل لحم الميتة للمضطر.

Di ayat yang pertama hanya khusus berhubungan dengan masalah makanan, akan tetapi dalam ayat kedua ini dhohirnya berupa umum Sesungguhnya Allah Telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu membutuhkanya (QS Al-An’am : 119) sedang misal dari qaidah ini adalah: memakan bangkai yang asalnya haram di halalkan jika dalam keadaan bahaya (lapar sekali dan ngak ada penganti selain bangkai tersebut).

وللقاعدة شروط: لا بد أن نلاحظها، وهذه الشروط مهمة؛ لأن بعض الناس يريد التخفف من أحكام الشريعة بهذه القاعدة، ولا يلاحظ شروطها.

Namun dalam qaidah ini ada syarat yang harus kita perhatikan, dimana syarat ini sangat penting sekali karena sebagain manusia mengiginkan keringanan dari hukum syari’at dengan alasan qaidah ini dan tidak memperhatikan syarat-syaratnya


فمن شروط هذه القاعدة: أن تكون الضرورة تندفع بفعل المحظور. فإن لم تندفع، لم يجز فعل المحظور. ومثلوا له بالظمآن الذي لا يجد إلا ماء خمر، الذي لا يجد إلا الخمر، فهذا لا يجوز له تناول الخمر؛ لأن الخمر لا يبعد الظمأ، وإنما يزيد الإنسان ظمأً إلى ظمئه. فالمحظور هنا زاد الضرورة، ولم يدفعها .

Termasuk syarat dari qaidah ini adalah :

Syarat pertama:  hendaknya kondisi genting, gawat dan bahaya  tersebut bisa hilang dengan mengerjakan hal yang haram tersebut , jika tidak bisa hilang keadaan genting tersebut maka tidak boleh mengerjakan hal yang haram tersebut, ahlul fiqh memberikan misal : orang yang sangat kehausan dan tidak mendapati air kecuali khomer (minuman keras) maka ini tidak boleh diambil untuk di minum karena khamer (minuman keras) tidak menhilangkan dahaga dan haus, bahkan akan membuat orang tersebut semakin kehausan dan semakin dahaga  dan menyebabkan ketagihan dan ketergantungan,maka hal yang haram disini malah justru menambah bahaya dan tidak bisa menhilangkan bahaya tersebut .

الشرط الثاني: ألا يوجد طريق آخر تندفع به الضرورة. إن وجد، لم يجز -حينئذ- فعل المحظور. مثال ذلك: طبيبة مسلمة، وطبيب رجل، وعندنا امرأة مريضة، يمكن دفع الضرورة بكشف المرأة الطبيبة.

Syarat kedua: tidak ada jalan lain untuk menghilangakn kondisi gawat dan bahaya tersebut, namun jika ada jalan lain maka tidka boleh mengerjakan hal yang haram tersebut, misalnya: ada dokter laki laki dan dokter perempaun , sedang pasiennya adalah pasien perempuan maka kita mengunakan dokter perempuan untuk memeriksa tubuh pasien perempuan yang sakit tersebut, dan kita tidak boleh memilih dokter laki-laki untuk memeriksa pasien perempuan dikarenakan adanya dokter wanita yang siap dan ada.


ومن شروط هذه القاعدة: أن يكون المحظور أقل من الضرورة. فإن كانت الضرورة أعظم، لم يجز. مثال ذلك: إذا اضطر إلى قتل غيره لبقاء نفسه، كما في مسألة الإكراه السابقة، فهنا الضرورة أقل من المحظور. المحظور هو قتل الغير، والضرورة هو أنه سيُقتل الإنسان، بعد تهديده بالقتل. قيل له: أقتل غيرك، وإلا قتلناك.

Dan juga termasuk syarat dari qaidah ini adalah: hendaknya hal yang haram tersebut lebih sedikit dari dhorurah (bahaya) maka jika dhorurohnya (bahayanya) lebih besar maka tidak boleh, misalnya: jika bahayanya adalah menghilangkan nyawa orang lain agar dirinya selamat  sebagaimana dalam misal paksaan  (dalam qaidah ke empat) disini dhorurah lebih sedikit dibanding hal yang diharamkan yaitu membunuh orang lain sedang dhorurohnya (bahayanya ) ancaman manusia kepada dirinya akan dibunuh, dengan ucapan mereka: bunuh orang lain jika tidak maka kami akan membunuhmu, maka ini tidak boleh dituruti.

 

ويلاحظ أنه إذا زالت الضرورة، زال حكم استباحة المحظور. ولا يجوز للإنسان أن يتوسع في المحظور، بمقدار لا تندفع به الضرورة. وهذا سيعبر عنه المؤلف في القاعدة الآتية، وإذا زالت الضرورة لم يجز فعل المحظور؛ ولذلك من شاهد الماء بطل تيممه. وعبروا عنه بقولهم: ما جاز لعذر بطل بزواله. نعم.

Dan perlu diperhatikan: jika hilang bahaya tersebut (setelah melakukan hal yang dilarang) maka hilang lah hukum halal untuk melakukan hal yang dilarang tersebut, (artinya tidak boleh menambah lebih banyak hal yang di haramkan) dan tidak boleh bagi manusia untuk menambah lebih banyak dalam melakukan hal yang dilarang tersebut, hanya sekedar hal yang bahaya tersebut bisa hilang. Dan ini akan di jelaskan oleh mualaif (As-Syeikh As-Sa’di) dalam qaidah berikutnya,dan jika hilang bahaya (  dhoruroh )nya maka tidak boleh melakukan hal yang di larang, untuk itu jika melihat air maka tayamumnya menjadi batal, dan ulama’ mengatakan: ma jaaza li ‘udrin bathola bizawalihi artinya: apa saja yang bisa menghilangkan udhur maka batallah dhorurah tersebut.

 

 

Diposting ulang dari Qowaidhul Fiqhiyyah Al-Ustadz Abu Syeikha Al-Magety

 

 

Baca Artikel Lainnya :

 

~ oleh Thifal Ramadhani pada Februari 18, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: