NIAT YANG BAIK TIDAK MENGELUARKAN SESUATU YANG BID’AH DARI KEBID’AHANNYA


Oleh : Zakariyya bin Ghulam Qodir al-Bakistani

النية الحسنة لا تخرج الشيء المحدث عن كونه بدعة بتلك النية الحسنة
((Niat yang baik tidak mengeluarkan sesuatu yang bid’ah dari kebid’ahannya dengan sebab niat yang baik tersebut))

Sabda Rasulullah :
إنما الأعمال بالنيات
“Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya.”

Yang dimaksud bukanlah perbuatan apa saja, tetapi yang dinaksud adalah perbuatan yang datangnya dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Jika suatu perbuatan datang perintahnya dari al-Qur’an dan as-Sunnah, maka perbuatan tersebut menjadi benar. Muhammad bin ‘Ajlan[*], sebagaimana dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (10), berkata : “tidak sah suatu perbuatan kecuali dengan tiga : taqwa kepada Allah, niat yang baik, dan dilakukan dengan benar.”

Telah datang kisah Abdullah bin Mas’ud bersama orang-orang yang berhalaqoh yang ketika itu mereka membawa kerikil untuk berdzikir kepada Allah dengan kerikil tersebut, Ibnu Mas’ud berkata kepada mereka : “demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya (apakah) kalian berada pada agama yang lebih baik dari agamanya Muhammad atau kalian membuka pintu kesesatan!” Mereka menjawab : “demi Allah wahai Abu Abdirrahman, kami tidak menginginkan melainkan kebaikan.” Ibnu Mas’ud berkata : “betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi tidak mendapatkannya.” [HR. ad-Darimi (1/68), sanadnya shohih]

Abdullah bin Mas’ud telah mengingkari orang-orang tersebut walaupun niat mereka baik, akan tetapi niat yang baik tersebut tidak menjadi sebab menjadi baiknya perbuatan mereka yang menyelisihi sunnah, karena niat yang baik tidak menjadikan sesuatu yang bid’ah menjadi sunnah.

[diterjemahkan dari Ushulul Fiqh ‘ala Manhaji Ahlil Hadits bab Qowa’id fil Bid’ah, karya Zakariyya bin Ghulam Qodir al-Bakistani]

http://tholib.wordpress.com/2007/01/10/niat-yang-baik-tidak-mengeluarkan-sesuatu-yang-bidah-dari-kebidahannya/

————–
catatan kaki :

[*] Muhammad bin ‘Ajlan al-Qurosyi (Wafat 148 H), Abu Abdillah al-Madini, bekas budak Fathimah bintu al-Walid bin Utbah bin Robi’ah. Ia termasuk shighor tabi’in (thobaqot ke-5). Al-Mizzi berkata dalam Tahdzibul Kamal : “ia adalah seorang yang ahli ibadah dan faqih, ia dahulu memiliki halaqoh di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Masjid an-Nabawi), dan ia memberi fatwa.” (pent)

~ oleh Thifal Ramadhani pada Juni 2, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: