Membawa Jenazah Untuk Dikuburkan di Daerah Lain ( Syaikh Kholid bin Ali Al Musyaiqih )


Peristiwa membawa mayat untuk dikubur di daerah lain tidak hanya terjadi pada zaman sekarang ini, akan tetapi sudah ada pada zaman-zaman sebelumnya. Hanya saja pada zaman sekarang telah menggunakan alat-alat modern sehingga lebih mudah untuk melakukannya.  Lantas, bolehkah perbuatan semacam ini ?

Ada beberapa keadaan yang tidak diperbolehkannya membawa mayat untuk dikubur di lain daerah.

Pertama : Apabila perbuatan ini akan menyebabkan rusaknya kehormatan dan jasad si mayit. Seperti dikarenakan lamanya waktu yang digunakan untuk pemindahan sehingga dapat merusak kehormatan dan jasadnya, maka hal ini tidak boleh. Wajib untuk dikubur di daerah ia meninggal.

Kedua : Jasad para Syuhada’. Tidak boleh dipindahkan dan wajib dikuburkan ditempat ia maninggal dunia.

Dalilnya adalah hadits Jabir radhiallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh Ahmad dan selainnya,

أن شهداء أحد نُقلوا إلى المدينة فأمر النبي r بأن يردوا إلى مضاجهم فردوا إلى الأماكن التي استشهدوا فيها

Sesungguhnya syuhada’ Uhud hendak dipindahkan ke Madinah. Maka nabi memerintahkan supaya mereka dikembalikan ke tempat semula. Merekapun lantas dikembalikan lagi ke tempat meninggalnya.

Ketiga : Pemindahan mayat dengan sebab darurat. Hal ini boleh seperti orang yang meninggal di Negara kafir dan dikhawatirkan jasadnya akan dipermainkan oleh orang-orang kafir seperti dijadikan patung, dimutilasi, dibakar, dijual dsb. Dalam hal ini para ulama memperbolehkan pemindahannya.

Apabila diluar ketiga kondisi ini, apakah boleh dilakukan pemindahan atau tidak ?Ada sebagian orang yang berwasiat supaya ia dikuburkan di daerah tertentu. Baik dengan alasan karena daerah itu adalah daerah asalnya sehingga lebih dekat dengan sanak keluarganya atau karena daerah itu daerah suci seperti Makkah, Madinah atau Baitul Maqdis. Apakah wasiat seperti ini perlu untuk dilaksanakan ? atau sebenarnya tidak ada wasiat, hanya saja pihak keluarga menghendakinya. Apakah mereka boleh melakukannya atau tidak ?

Dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat :

  1. Madzhab Hanbali dan Maliki berpendapat boleh. Madzhab ini adalah madzhab yang paling longgar dalam masalah ini. Bahkan mereka memberikan izin untuk memindahkan mayat setelah dikuburkan. Mereka mengatakan bolehnya menggali dan memindahkan mayat setelah dikubur.
  2. Madzhab Hanafi berpendapat makruhnya membawa mayat untuk dikubur di daerah lain kecuali pada jarak yang dekat. Mereka membatasi pada jarak 2 mil atau sekitar 3 km. adapun diatas jarak itu maka tidak diperbolehkan. Mereka tidak membedakan apakah dipindahkan ke tanah suci atau selainnya. Madzhab ini adalah madzhab yang paling keras dalam permasalah ini.
  3. Madzhab syafii merinci permasalahan ini. Apabila dipindahkan ke tanah suci maka boleh. Adapun selain tanah suci maka tidak diperbolehkan.

Perhatian ! Pembahasan  diatas adalah dengan catatan bahwa pemindahan itu tidak menyebabkan rusaknya kehormatan dan jasad orang yang meninggal. Apabila menyebabkan kerusakannya maka hal ini tidak boleh dilakukan.

Pada zaman sekarang ini dimana telah banyak peralatan maju maka sangat memungkinkan untuk memindahkan  orang yang telah meninggal ke Makkah ( atau selainnya-pent)  dalam beberapa jam tanpa merusaknya.

Dalil-dalil yang mengatakan diperbolehkannya pemindahan mayat.

1. أن موسى عليه السلام لما حضرته الوفاة سأل الله أن يدنيه من الأرض المقدسة رمية حجر

“ Musa alaihis salam tatkala akan meninggal dunia, ia berdoa kepada Allah supaya dikubur didekat baitul maqdis sejauh leparan batu.” ( HR Bukhari- Muslim )

2.أن عمر t استأذن عائشة رضي الله تعالى عنها أن يدفن في حجرتها  بجوار النبي r وأبي بكر رضي الله عنه

Umar meminta izin Aisyah supaya ia dimakamkan di kamar Aisyah mendampingi Nabi dan Abu Bakar ( HR Bukhari )

Diqiyaskan dari hadits diatas apabila ada orang yang meninggal dunia dan ia pernah mewasiatkan supaya dibawa ke negerinya atau dikubur di dekat dengan keluarganya.

3. Saad bin Abi Waqqosh meninggal di Uqaiq dan dikubur di Baqi’. ( apabila riwayat ini benar, maka ini adalah perkara yang mudah )

4. Abdurrahman bin Abu Bakar meninggal Khubasyi dan dikuburkan di Makkah. Kedua tempat ini berdekatan.

Siapa saja yang memperhatikan sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dan atsar para sahabat, tentu dia akan mendapati bahwa para sahabat menguburkan mayit di daerah tempat ia meninggal. Nabipun tidak memerintahkan supaya membawa orang-orang yang meninggal di Madinah untuk dibawa ke Makkah meskipun Makkah lebih afdhal daripada Madinah. Atau Nabi memerintahkan orang yang meninggal diluar Madinah untuk dibawa ke Madinah atau Makkah. Hal ini sama sekali tidak disebutkan dalam sunnah nabi dan atsar para sahabat.

Adapun atsar yang menyebutkan bab ini seperti kisah Saad bin Abi waqqosh adalah karena pemindahan itu dirasa mudah, inipun  apabila atsar itu benar. Adapun riwayat tentang Abdurrahman bin Abu bakar diatas adalah dhoif.

Kita simpulkan bahwa diperbolehkannya membawa jasad orang yang telah meninggal pada dua keadaan,

Pertama : Apabila hal itu mudah dilakukan seperti kisah 10 atau 20 km sebagaimana jenazah Saad bin Abi Waqqosh dibawa dari Uqaiq ke Baqi dan dikubur disana. Begitu pula Musa alaihis salam yang meminta kepada Allah supaya dikuburkan dekat Tanah Suci berjarak sejauh lemparan batu dan ini bukanlah jarak yang jauh.

Kedua : Apabila meninggal di negeri kafir dan keluarga menghendaki supaya dibawa ke negeri kaum muslimin maka ini diperbolehkan karena tujuannya benar.

Selain dua keadaan diatas maka tidak disyariatkan.

Tidak ada riwayat yang menyebutkan para sahabat membawa jenazah sahabat lainnya pada jarak yang jauh. Kecuali riwayat yang menceritakan jenazah syuhada Uhud  yang hendak dimakamkan bersama kaum muslimin di Baqi’. Nabipun bersabda bahwa orang yang mati syahid memiliki hukum khusus. Yaitu ia dikubur ditempat meninggalnya. Ditambah lagi, sebenarnya tujuan para sahabat itu membawa jenazah syuhada uhud bukan untuk dipindahkan akan tetapi supaya bisa dikubur bersama-sama kaum muslimin.

Assunnah mengajarkan supaya menyegerakan penyelenggaraan jenazah. Segera mengkafaninya, menyolatkannya, dan menguburkannya, sebagaimana hadits Abu Hurairah dari nabi beliau bersabda,

أسرعوا بالجنازة فإن تك صالحة فخير تقدمونها إليه ، وإن تكون سوى ذلك فشر تضعونه عن رقابكم

“ Bersegeralah dalam mengurus jenazah. Apabila jenazah itu orang sholih maka kamu menyegerakannya kepada kebaikan. Adapun apabila sebaliknya, maka engkau segera menyingkirkan beban dari pundakmu.” ( HR Bukhari Muslim )

Membawa jenazah ke tempat yang jauh menyebabkan sunah ini tidak dapat segera dilaksanakan atau malah sunah ini tertinggalkan. Selain itu, akan menambah beban dan biaya yang ditanggung oleh keluarga ahli waris.

Wallahu a’lam

 

Diposting ulang dari artikel http://www.direktori-islam.com/?p=700

~ oleh Thifal Ramadhani pada Juni 3, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: