Qowaidul Fiqhiyyah : ” Hukum Melakukan Hal Yang Dilarang, Atau Meningalkan Suatu Kewajiban Karena Lupa Atau Salah Tanpa Disengaja, Atau Dipaksa


ارتكاب المحظور نسيانا أو خطأ أو إكراها

Hukum melakukan hal yang dilarang, atau meningalkan suatu kewajiban karena lupa atau salah tanpa disengaja, atau dipaksa

والخطأ الإكراه والنسيان أسقطه معبودنا الرحمن
لكن مع الإتلاف يثبت البدل وينتفي التأثيم عنه والزلل

( al khotho u al ikroohu wan nisyanu asqothohu ma’budunar rahmanu
lakin ma’al itlaafi yusbitul badhalu wa yantafiyal taksiimu ‘anhu waz zalalu)
salah ( tanpa di segaja) da dipaksa serta lupa adalh dimaafkan oleh sembahan kita yang maha pemurah , namun jika merugikan harus mengantinya sehingga dia tidak mendapat dosa dan kesalahan ).

Pembahsan ini terbagi dalam tiga pasal :
PERTAMA : KESALAHAN TANPA SENGAJA

الخطأ يراد به معنيان:
الأول: ضد الصواب، كما في قول إخوة يوسف: { يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ (97) } (سورة يوسف آية : 97) المراد به: على خلاف الصواب. واسم الفاعل من هذا المعنى: “خاطئ”.

الخطأ Al khotho ( salah ) ada dua makna :
1.salah lawan dari benar, sebagaiamana perkataan saudara nabi yusuf kepada bapaknya :
. Mereka berkata: “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)”. ( yusuf : 97) maknanya : menyelisihi kebenaran , dan isim fail ( pelaku ) dari kata ini adalah : khootik “خاطئ”.

والمعنى الثاني: عدم القصد للفعل. يقال: أخطأ فلان، بمعنى: أنه لم يقصد الفعل، واسم الفاعل منه: “مخطِئ”. ومراد المؤلف المعنى الثاني، وليس المعنى الأول .

2.kesalahan tanpa sengaja, dikatakan : orang itu salah, maksudnya orang tersebut tidak sengaja melakukannya, dan isim fail ( pelaku ) dari makna ini adalah : “mukthik ” “مخطِئ dan ini yang dimaksud dari kaidah ini bukan makna yang pertama ( lawan dari kebenaran ) namun maknanya adalah kesalahan tanpa sengaja.

والخطأ لا يلحق به الإثم، بدلالة عدد من النصوص منها: قوله سبحانه: { رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا } (سورة البقرة آية : 286) قال الله: “قد فعلت”. ومنها قوله جل وعلا: { وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ } (سورة الأحزاب آية : 5)

Salah tanpa disengaja tidaklah mendapatkan dosa dengan dalil beberapa nash diantaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa:
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. ( Qs al baqorah : 286 ) dalam riwayat dikatakan : dan di riwayat lain dikatakan allah menjawabnya : aku telah maafkan (iya ( HR muslim kitab iman bab allah tidak membebani sesuatu kecuali sesui kemampuan manusia hadist no :125 dan 126 )

dan firmanNya : dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf ( salah ) padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. ( QS al ahzab : 5 )

ورد في الحديث ” إن الله تجاوز عن أمتي الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه ” .ولا يصح لهذا الحديث إسناد؛ ولذلك كثير من أهل العلم يضعف هذا الحديث، منهم الإمام أحمد، وبعضهم قواه؛ لأن طرقه متعددة، فقال: يقوي بعضها بعضاز

Dan dalam sebuah hadist dikatakan : ” sesungguhnya Allah memaafkan atas umatku :kesalahan tanpa disengaja, dan lupa serta orang yang terpaksa/dipaksa” akan tetapi hadist ini tidak shahih dari segi sanadnya, karena itu banyak kalangan ahlul ilmi mendhaifkan hadist ini, diantaranya iamam ahmad, akan tetapi sebagian ulama lainya mengatakan hadist ini kuat sanadnya, karena diriwayatkan dengan banyak jalan, mereka berkata : antara riwayat satu dengan yang lainya saling menguatkan
.
إذا تقرر ذلك، فهل الخطأ يترتب عليه الضمان؟ أو لا يترتب عليه الضمان؟ إن كان في حقوق المخلوقين، فإنه يترتب عليه الضمان.من أخطأ فأتلف غيره، أو أتلف مالا لغيره، وجب عليه الضمان، قولا واحدا. ولذلك وجبت الدية على المخطئ، ووجب ضمان الأموال على من أتلفها مخطئا بالإجماع.

Jika sudah jelas dalam masalah ini , sekarang timbul pertanyaan apakah melakukan kesalahan harus mengantinya ataukah tidak ? Jika kesalahan tersebut berhubungan dengan hak-hak manusia, maka diharuskan baginya untuk menganti, jika kesalahan itu menyebabkan kerugian bagi orang lain, baik berupa harta atau yang lainya, dan dalam masalah ini semua ulama telah sepakat, wajibnya membayar denda bagi orang yang salah , atau wajib menganti harta / hak orang lain yang dirugikan .

Misal : anda tanpa sengaja menabrak mobil orang lain yang sedang parkir di depan rumahnya, maka anda harus menganti rugi kerusakan mobil tersebut, atau anda menghilangkan barang yang anda pinjam dari temen / orang lain maka anda harus mengantinya sesui bentuk barang atau harga barang tersebut.( pent .)

أما إن كان الخطأ في حق الله – عز وجل – فحينئذ، هل يجب الضمان؟ نقول: لا يخلو الحال، إن لم يوجد إتلاف، فإنه لا يجب كفارة ولا ضمان في قول أكثر الفقهاء .
مثال ذلك: من غطى رأسه وهو محرم، ناسيا أو مخطئا، فلا كفارة عليه. وكذلك من لبس المخيط خطأً، لا كفارة عليه.

Jika kesalahan tersebut berhubungan dengan hak Allah, apakah juga haurs mengantinya dengan yang lain ? maka di sini ada perinciannya : jika tidak merugikan ( mengurangi hak-hak allah ) maka tidak wajib mengantinya dan tidak ada kafarahnya, dan ini pendapat kebanyakan para ulama’, contohnya : seorang yang sedang ihram ( umrah / hajji )

dan dia menutupi kepalanya tanpa sengaja dan lupa ,maka tidak ada kafarah baginya, begitu juga memakai kain yang berjahit karena lupa atau tanpa sengaja tidak ada kafarah baginya.

النوع الثاني مما يتعلق بحقوق الله: إذا كان فيه إتلاف، مثل: قص الأظافر للمحرم، وحلق الرأس للمحرم، وقتل الصيد للمحرم. وقد اختلف الفقهاء في ذلك على قولين:
القول الأول: بأنه لا يجب الضمان، ودليل ذلك قوله – عز وجل – { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ } (سورة المائدة آية : 95) فقوله: “متعمدا” يدل على أن المخطئ لا يجب عليه الضمان، ولا يجب عليه المثل، وهذا بدلالة مفهوم المخالفة.

Pembahasan yang kedua kesalahan yang berhubungan dengan hak allah ( ibadah ) yang merugikan atau mengurangi hak allah misal, memotong kuku dan memotong rambut, atau membunuh binatang buruan waktu ihram, maka disini para fuqoha berselisih , ada dua pendapat :

01/ pendapat yang pertama : tidak wajib menganti atau membayar kafarah, adapun dalil mereka adalah : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, Maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, (QS : al maidah : 95)

dalam ayat ini di sebutkan kata : ) “متعمدا”dengan sengaja ) yaitu orang yang sengaja membunuh binatang buruan di waktu ihram, maka jika tanpa sengaja tidak wajib membayar ganti atau kafarah , dalil ini diambil hari mafhumul mukholafah dari ayat ini ( jika dilakukan dengan sengaja harus menganti, mafhum mukhaolafahnya jika tidak sengaja tidak wajib menganti pent. )

والقول الثاني: بأنه يجب على المخطئ في حق الله -إذا ترتب على خطئه إتلاف- الضمان والكفارة، ويستدلون على ذلك بعدد من النصوص، منها قوله – عز وجل – { وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ } (سورة النساء آية : 92) قالوا: أوجب الكفارة مع كونه خطأ.

02/ pendapat yang kedua : wajib mengantinya atau membayar kafarah, jika berhubungan dengan hak Allah yang merugikan / mengurangi hak tersebut, mereka berdlail dengan nash-nash syar’iyyah diantaranya firman Allah : dan barangsiapa membunuh seorang mukmin tanpa sengaja (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu ( an nisa’ : 92 )
Dalam ayat ini Allah menjelaskan wajibnya menganti rugi atau membayar kafarah, walaupun dilakukan tanpa sengaja.

قالوا: وقوله “متعمدا” في الآية، ليس المراد إعمال المفهوم، وإنما المراد التشنيع على الفاعل. ومن ولعل هذا القول -القائل بوجوب الكفارة والضمان على المخطئ في حقوق الله، إذا ترتب على خطئه إتلاف- هو الأرجح، لعل هذا القول هذا الأرجح

.Mereka berkata : adapun kalimat”متعمدا” ( dengan sengaja ) dalam ayat diatas ( al maidah : 95), maksudnya bukan untuk diambil dan digunakan mafhumnya, adapun yang dimaskud ayat diatas adalah sebagai penegas sifat kesalahan orang yang mengerjakannya.

adapun yang rajih dari dua pendapat diatas adalah : pendapat wajibnya membayar ganti atau kafarah bagi orang yang salah tanpa sengaja yang berhubungan dengan hak Allah ( ibadah) jika kesalahannya tersebut menyebabkan kerugian atau mengurangi hak –hak allah.

ويدل على ذلك: حديث كعب بن عجرة، فإنه قد أصابه الضرر، حتى أن القمل أصبح يتساقط من شعره، ومع ذلك لما جاز له حلق الشعر، لم يسقِط ذلك الكفارة، مع كونه مضطرا إلى حلق الشعر. فإذا كان المضطر -الذي يلحقه الضرر والأذى، وأجاز له الشارع هذا الفعل- يلحقه الكفارة، فمن باب أولى المخطئ. نحن لا نرتب الإثم، لكن نرتب الكفارة إذا ترتب على فعله إتلاف.
Dan dalil yang menunjukkan hal itu adalah hadistnya ka’ab bin ‘uzrah, tatkala dia berihram dan dia ditimpa musibah dan ganguan di kepalanya, sampai kutu-kutu jatuh dari rambut kepalanya, maka tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membolehkan untuk mencukur rambutnya namun beliau tidak mengugurkan kafarah baginya, padahal dia ( ka’ab )

dalam keadaan terkena musibah dan ganguan dikepalanya, dan syari’at membolehkan untuk mencukurnya namun harus membayar kafarah, maka hal ini lebih utama di terapkan bagi orang yang berbuat salah walaupun tanpa sengaja, kita tidak membahas tentang dosa, namun kita sedang membahas kafarahnya jika kesahannya menyebabkan kerugian bagi selainnya.

KEDUA: ORANG YANG DIPAKSA DAN TERPAKSA

وأما الإكراه فالمراد به: حمل الإنسان على ما لا يريده، ولا يرغبه. والإكراه على نوعين:
النوع الأول: إكراه يزول معه الاختيار بالكلية. مثل: من ألقي من شاهق، فهذا يزول معه التكليف، ولا يلحق فعله ضمان، ولا غيره ويسميه الجمهور “إكراها ملجئا”، هذا الذي يزول فيه الاختيار. ويسميه الحنفية “اضطرارا”، يسمونه اضطرارا. وبالإجماع أن التكليف يزول بهذا النوع من أنواع الإكراه .

Adapun makna terpaksa / dipaksa adalah : membawa manusia kepada hal yang tidak diinginkanya dan tidak ada kemauan untuk melakukannya, dalil tentang dipaksa adalah إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ ( النحل : 106)
kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (Dia tidak berdosa), ( an nahl : 106)

dan dipaksa / terpaksa terbagi menjadi dua jenis :
pertama : dipaksa secara total yang tidak ada kemampuan untuk memilih seperti orang yang di lemparkan dari gunung ( tempat yang tinggi ) maka keadaan seperti ini hilang beban syariat darinya, maka tidak ada beban ganti rugi baginya, atau selainnya, dan jumhur ulama menyebutnya dengan : ” ikrohohan malja an ”

yaitu yang tidak ada kemampuan memilih sama sekali, sedang hanafiyyah menamakanya: ” idhroron “, yang jelas secara ijma ( kesepakatan para ulama’) beban syariat terlepas dari orang yang dipaksa dalam dalam keadaan seperti ini.

النوع الثاني من الإكراه: إكراه يبقى معه الاختيار. كمن هدد بالقتل، أو بقطع عضو، أو بالحبس والضرب، ويسميه الجمهور “إكراها غير ملجئ”. والحنفية يقسمون هذا القسم إلى قسمين: إن كان التهديد بالقتل أو بالقطع، سموه “إكراها ملجئا”، وإن كان الإكراه بالحبس أو الضرب، سموه “إكراها غير ملجئ”.

Kedua : dipaksa / terpaksa yang masih bisa memilih, seperti orang yang diancam untuk dibunuh, atau diancam mau di potong anggota tubuhnya, atau di tahan dan disiksa, dsbnya, jumhur ulama’ menamakan hal ini ” ikroh ghoiru maljaak ” sedang kalangan hanafiyyah membagi lagi menajdi dua bagian : jika di paksa dan diancam mau dibunuh atau di potong angota tubuhnya di sebut ” ikrohan malja an” adapun jika di ancam akan di tahan atau di pukul dinamakan ” ikrohan ghoiru maljaak”

ولهذا النوع من الإكراه شروط: منها أن يكون المكرِه قادرا على إيقاع ما هدد به، ومنها أن يكون المكرَه عاجزا عن دفع ما أكره عليه، ومنها أن يغلب على ظن المكرَه أن المكرِه سيوقع ما هدد به، ومنها أن يكون التهديد عاجلا غير آجل.

Adapaun terpaksa / dipaksa dalam jenis ini ada syarat-syaratnya baru bisa di sebut dipaksa :
1. yang memaksa bisa dan mampu melakukan ancaman tersebut.
2. yang dipaksa tidak mampu ( lemah ) menentang paksaan tersebut.
3. lebih banyak kemunkinannya yang dipaksa bisa jatuh kedalam paksaan dan ancaman

4. paksaan dan ancaman tersebut bisa dilakukan dalam waktu cepat ataupun lambat.

فهذا النوع من الإكراه، هل يزول به التكليف؟ جمهور أهل العلم قالوا: لا يزول به التكليف؛ لأن معه اختيارا، فهو يقدر على الفعل، ويقدر على عدمه. والمعتزلة يقولون: يرتفع التكليف في هذه الحالة.
وثمرة الخلاف بين المعتزلة والجمهور -في هذه المسألة- مَن أُكرِه على فعل الصلاة، أو أكره على الدخول في الإسلام، فنوى بصلاته، أو بدخوله في الإسلام، وجه الله تعالى، فحينئذ تصح صلاته على مذهب الجمهور، خلافا للمعتزلة .

Dipaksa dalam jenis ini ( masih mempunyai pilihan ) apakah meniadakan beban syari’at atau tidak ? jumhur ahlul ilmi berpendapat : tidak menghilangkan dan meniadakan beban syari’at darinya, karena di memiliki kemampuan untuk memilih, dan dia bisa memilih melakukan paksaan dan bisa memilih untuk meningalkan paksaan tersebut,

adapaun golongan muktazilah berpendapat: keadaan seperti ini mengugurkan beban syari’at, adapun hasil yang rajih dari perselisihan pendapat antara jumhur dengan mu’tazilah dalam masalah ini yaitu orang yang dipaksa melakukan sholat atau dipaksa masuk islam, maka dia niatkan sholatnya atau dia masuk islam karena allah, maka yang demikian itu sah sholatnya menurut pendapat jumhur berbeda dengan kelompok mu’tazilah yang menyatakan tidak sah sholatnya.

إذا تقرر ذلك، فإذا أكره الإنسان على شيء، هل يجوز له أن يفعل ما أكرِه عليه؟ بعض الفقهاء يقول: نعم، يجوز ذلك مطلقا. وبعضهم يقول: يجوز في الأفعال دون الأقوال. والصواب في هذه المسألة: أن الإنسان يقارن بين موجب الإكراه، وبين الفعل الذي أُكره عليه، فيفعل أدناهما مفسدة.
مثال ذلك: من قيل له: ادخل بيت غيرك، وإلا قتلناك. هنا أيهما أقل مفسدة؟ الدخول أقل مفسدة، فيدخل البيت. ولو قيل له: اقتل فلانا وفلانا، وإلا قتلناك. فحينئذ موجب الإكراه أقل مفسدة، فلا يقدم على فعل ما أكره عليه. هذه هي القاعدة في باب الإكراه .

Jika sudah jelas dalam masalah tersebut , kita masuk pembahasan berikutnya : jika seseorang dipaksa melakukan sesuatu, apakah boleh dia melakukan paksaan tersebut atau tidak ? berpendapat sebagaian fuqoha’ boleh melakukan secara mutlaq, dan sebagian fuqoha yang lain berpendapat : boleh dilakukan jika berupa perbuatan dan tidak boleh jika berupa perkataan,

adapaun yang rajih dan shahih dari masalah ini adalah : bahwasanya seseorang yang dipaksa harus memperhatikan dan menimbang, antara akibat dan bahaya paksaan tersebut dengan berat tidaknya paksaan tersebut, maka jika sudah demikian diambil mafsadah ( bahaya ) yang paling ringan ( sesui kaidah jika antara bahaya ( mudharat ) satu dengan yang lainya bertabrakan maka diambil bahaya yang paling ringan , lihat kaidah ke 04 ).

Contohnya : jika sesorang dipaksa dan dikatakan kepadanya : masuklah ke rumah orang lain jika tidak mau maka kami akan membunuh kamu ! dlaam hal ini mana yang lebih ringan mafsadahnya? Tentu masuk kerumah orang lain lebih ringan mafsadahnya, maka ngak apa-apa masuk kerumah orang lain dari pada di bunuh, contao yang lain , jika dikatakan : bunuhlah si A dan si B, kalo tidak mau kami akan membunuhmu,

Maka kita harus menimbang , akibat jika tidak mau melakukan paksaan dan akibat jika melakukan paksaan , maka kita mesti memilih yang lebih ringan mafsadahnya, maka kaidahnya : jika akibat meningalkan paksaan lebih ringan dari pada melakukan paksaan, maka tidak boleh melakukan perbuatan yang dipaksakan tersebut , inilah kaidah dalam hal paksaan.

KETIGA : ORANG YANG LUPA.

وأما النسيان فالمراد به: الغفلة عما كان يستحضره الإنسان. هذا المراد بالنسيان. والنسيان يسقط به الفعل، ويسقط به التأثيم، فلا يأثم الإنسان إذا ترك شيئا ناسيا، أو فعل شيئا ناسيا. وإن كان النسيان متعلقا بحقوق الخلق، وجب على الإنسان ضمان ما أتلفه. وأما إذا كان النسيان في حقوق الله، فحينئذ هل يطالب الإنسان بأداء ما نسيه؟ أو يلحقه وجوب تدارك ما نسيه؟ نقول: لا تخلو الأفعال من شيئين:

Adapun yang dimaksud dengan ” an nisyan ” ( lupa ) adalah : lalai dan lupa yang biasa terjadi pada manusia, ini yang dimaksud dengan an nisyan, dan jika lupa mengerjakan suatu perbuatan, gugur darinya dosa, maka tidak ada dosa bagi manusia jika meninggalkan sesuatu kewajiban karena lupa, atau mengerjakan sesuatu yang melangar karena lupa.

Adapun jika lupa/ lalai yang berhubungan dengan hak-hak orang lain dan merugikannya maka wajib baginya untuk menganti rugi sesui kadar kerugiannya, kedua lupa atau lalai yang berhubungan dengan hak- hak Allah Subhanahu wa Ta’alaa , maka apakah wajib bagi manusia untuk mengerjakan kewajiban yang ia tingalkan karena lupa ? atau mengantinya dilain waktu tatkala ingat ? kami katakan : maka dalam keadaan seperti ini tidak lepas dari dua hal yaitu :

أفعال مأمور بها شرعا، فهذه إذا وقع النسيان فيها، فإنها -إذا نُسيت- يجب تداركها وفعلها. مثال ذلك: من نسي الصلاة، فإنه يجب عليه تدارك ما نسيه؛ لقول النبي – صلى الله عليه وسلم – -كما في البخاري-: ” من نام عن صلاة أو نسيها، فليصلها إذا ذكرها، لا كفارة لها إلا ذلك ” .

Pertama : Perkara yang diperintahkan dan diwajibkan dalam syari’at, maka jika manusia lalai dan lupa mengerjakanya maka wajib mengantinya tatkala ingat, misalnya : orang yang lupa belum mengerjakan sholat, maka wajiba baginya mengantinya tatkala ingat ( walaupun sudah berlalu cukup lama waktunya pent.)

sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam shohih imam bukhari: ” barang siapa yang tertidur atau lupa dari sholatnya maka hendaknya dia mengantinya tatkala ingat, dan tidak ada kafarah kecuali mengerjakanya seperti itu”

والنوع الثاني: منهيات. فالمنهيات إذا فُعل فيها الشيء نسيانا، فإنها لا تؤثر على الفعل. ودليل ذلك: حديث أبي هريرة – رضي الله عنه – في الصحيح ” من أكل أو شرب ناسيا، وهو صائم، فليتم صومه، فإنما أطعمه الله – عز وجل – وسقاه ” .

Kedua : perkara yang dilarang dalam syari’at, maka jika seseorang melakukan hal yang di dilarang tersebut karena lupa maka tidak apa-apa dan tidak ada dosa, dalilnya adalah hadist yang di riwayatkan oleh abu hurairah Radiallahu ‘anhu dalam kitab shahih : ” barang siapa makan dan minum karena lupa sedang dia dalam keadaan puasa maka hendaklah menyempurnakan puasanya ( tidak membatalkan puasanya pent ) karena hal tersebut merupakan nikmat Allah baginya”

وهناك أفعال يقع فيها الجانبان: جانب حق المخلوق، وجانب حق الخالق سبحانه. فحينئذ يرتَب على الفعل الأمور المتعلقة بحق المخلوق، دون حق الخالق، إذا كان في نسيان الفعل في المنهيات. مثال ذلك: رجل طلق زوجته، ثم خرجت من العدة، ثم وطئها ناسيا كونه قد طلقها.
فحينئذ بالنسبة للإثم ساقط، بالنسبة للأمور المترتبة على هذا الفعل في حقوق الله؛ ولأنه في منهي، فلا تعتبر. فلا يقام عليه حد الزنا، إلى غير ذلك مما يتعلق بحق الله. وأما ما يتعلق بحق المخلوق، حق المرأة، ما يجب لها من المال، أو لإثبات النسب، فهذا ثابت.

Disana ada perbuatan-perbuatan yang terdapat didalamnya dua sisi, satu sisi berhubungan dengan hak-hak makluq satu sisi berhubungan dengan hak-hak khooliq subhaanahu wata’ala, maka diutamakan yang berhubungan dengan hak makluq baru hak sang khaliq jika dia lupa melakukan suatu perkara dari perkara-perkara yang dilarang misal, seorang laki-laki telah menceraikan ( thalaq satu ) istrinya,

kemudian telah selesai iddahnya, kemudian dia mengaulinya dan dia lupa kalo sudah menthalaqnya, maka jika seperti ini gugur dosanya karena dia lupa , dan melakukan perkara yang dilarang yang berhubungan dengan khaliq, maka hal ini di maafkan dan tidak dihukumi zina, ataupun selainya yang berhubungan dengan hak-hak khaliq ,
adpaun yang behubungan dengan hak-hak makhluq adalah hak sang istri yaitu wajib bagi sang suami untuk menafkahinya, baik lahir ataupun batin, atau untuk mendapatkan keturunan dan sebagianya dimana hal tersebut merupakan hal yang pasti.

وبهذه القاعدة -قاعدة النسيان- نفرق بين الشروط والموانع. فإن الشرط إذا تُرك نسيانا، أثر في العبادة. وأما المانع إذا فعل نسيانا، فإنه لا يؤثر في العبادة . نقف على هذا.

Maka dalam kaidah ini ( kaidah orang lupa ) kita bedakan antara syarat dan larangan, maka jika dia meningalkan salah satu syarat karena lupa maka hal ini mempengaruhi dalam ibadahnya, adapun jika mengerjakan perbuatan yang terlarang karena lupa , maka ini tidak memperngaruhi dalam hal ibadah, ini yang perlu diperhatikan.
Wallahu a’lam bisshowab

نسأل الله – عز وجل – أن يرزقنا -وإياكم- العلم النافع، والعمل الصالح، وأن يجعلنا -وإياكم- من عباده المتحابين فيه، وأن يغفر لنا ولكم ذنوبنا، وأن يوفق علماء الشريعة لبيان أحكامها، وأن يوفق جميع المسلمين للدعوة لهذا الدين، وللتمسك به، وأن يوفق ولاة أمور المسلمين للحكم بهذه الشريعة. والله أعلم، وصلى الله على نبينا محمد. أحسن الله إليكم، وأثابكم، حفظكم الله.

Kita berdoa : semoga Allah menganugerahkan kepada kami dan anda semuanya ilmu yang bermanfaat, dan amalan yang shalih, dan menjadikan kami dan anda semuanya termasuk hamba-hambanya yang saling menyayangi dan mencintai, dan mengampuni semua dosa-dosa kami dan dosa-dosa anda semuanya,

dan menjadikan kami semua termasuk orang yang sesui dengan ilmunya para ulama’ us sholeh yan telah mereka jelaskan kepada kita, dan menjadikan para pemimpin-peminpin kaum muslimin berhukum dengan syari’at islam , hanya Allah yang tahu itu semuanya, sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada nabi kita muhammad , semoga allah membalas kebaikan anda semuanya, dan menjadikan kalian orang-orang yang istiqomah dijalannya.

Diposting ulang dari Al-Ustadz Abu Syaeikha al-magethy.

~ oleh Thifal Ramadhani pada Mei 29, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: