Hukum Menolak Menikah karena Hendak Dimadu


 

Oleh Asy Syaikh Ubaid bin Abdillah bin Sulaiman Al-Jabiri

Tanya :

Jika seseorang yang hendak berpoligami menghadap kepada seorang ayah untuk menikahi anak wanitanya, lalu sang ayahnya menolak karena hendak dimadu, karena dia memiliki istri yang lain, apakah ini termasuk ke dalam sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam » jika datang kepada kalian orang yang kalian senangi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dengannya. Jika engkau tidak melakukan, akan timbul fitnah di muka bumi dan kerusakan besar?


Jawab :

Yang nampak bagiku bahwa hal ini dibangun di atas beberapa perkara :

1) Bahwa wanita yang dilamar tersebut tidak suka dijadikan madu atas wanita yang lain, dia lebih senang sendiri dan tidak menginginkan ada saingan baginya. Ini adalah hal yang bersifat umum yang harus dibedakan dengan orang-orang yang membenci syari’at ini. Seorang wanita tidak suka suaminya menikah lagi dan tidak senang ada wanita sebelumnya yang menjadi saingannya. Ini tidak mengapa. Ini adalah fitrahnya yang sudah menjadi tabi’atnya para wanita yang benci untuk diduakan. Namun apabila dia membenci syari’at ini dan membenci perkara ini, maka berarti dia telah membenci salah satu bagian dari syariat Allah sehingga dia berdosa.

2) Jika si wali yang menolak laki-laki yang melamar tersebut atas dasar apa yang dia pahami dari anak wanitanya bahwa dia tidak mau atau mengerti keadaan wanita tersebut bahwa dia tidak mampu memikul beban poligami, karena dia mengetahui dari wanita itu sifat kecemburuan serta tabi’atnya yang keras, sehingga dia takut lelaki tersebut akan menyakitinya. Maka hal ini juga tidak mengapa. Ini hubungannya dengan kemaslahatan wanita tersebut. Adapun kalau dia membenci syi’ar ini yang berasal dari Allah, maka ia telah terkena hukum sebagai orang yang berdosa, yang dikhawatirkan padanya ancaman Rasulullah Shallallaahu ‘alahi wasallam yang disebut dalam hadits tersebut. Dan kami katakan : “Bahwa dia menolak seorang muslim yang baik agamanya serta akhlaknya dan dikhawatirkan akibatnya akan buruk, sebab Nabi Shallallaahu ‘alahi wasallam menganjurkan untuk menikahkan seorang wanita dengan lelaki yang baik agama dan akhlaknya. Jika dia menolaknya karena sebab apa yang telah disebutkan, yaitu membenci syi’ar ini, maka menghawatirkan padanya ancaman Rasulullah Shallallaahu ‘alahi wasallam.

 

[“30 Soal Jawab Seputar Poligami” oleh Asy Syaikh Ubaid bin Abdillah bin Sulaiman Al-Jabiri; Penerbit Pustaka Ats Tsabat Balikpapan; Hal. 37 ]

 

Posting Ulang dari : http://ummuammar88.wordpress.com/2010/11/20/hukum-menolak-menikah-karena-hendak-dimadu/

 

 

Baca Artikel Lainnya:

~ oleh Thifal Ramadhani pada Februari 15, 2011.

3 Tanggapan to “Hukum Menolak Menikah karena Hendak Dimadu”

  1. assalamu ‘alaykum. menarik dari apa yg dipaparkan. cuma sy sebagai org awam hanya mempertanyakan apa salafi sdh menganggap dirinya sebagai kelompok yang paling benar dalam mengikuti Rasulullah Saw dan para shahabat, begitupun shalafusshaleh dan mengannggap kelompok lainnya salah dalam mengikuti mereka, bahkan menganggap mereka ahli bid’ah dan masuk dalam 72 golongan. sejak kapan salafi di nobatkan sebagai kelompok yang paling benar. kalo demikian berarti mayoritas ummat islam di indonesia dan mungkin di dunia adalah kelompok yang menyimpang. saya mungkin tidak mengetahui dasar-dasar pijakan masing2 kelompok karena saya tidak masuk dari mereka semua, namun yang saya pikir bahwa mereka sudah berusaha dengan usahanya mencontoh Rasulullah Saw untuk berdakwah. jadi kalo salafi saja yang merasa dirinya benar dan menganggap yang lainnya ahli bid’ah dll,apa bedanya islam pada masa mazhab, dimana antara mazhab yang satu merasa dirinya paling benar dan mengannggap mazhab yang lainnya salah. sampai2 dikampung saya seorang anak muda salafi tidak mau bergaul dengan orang-orang disekitarnya karena mereka masuk pada organisasi yang bukan salafi, padahal ayahnya seorang tokoh muhammadiyah saudaranya seorang jama’ah tabligh. dan antara salafi sendiri kabarnya sdh saling menyalahkan antara syeikh mereka di yaman, dan ustad yang ada di indonesia. jadi kalo begitu salafi mana yang benar?karena masing2 mengannggap dirinya paling benar sdg kelompok lainnya adalah hizbi

  2. maaf saya tambah lagi…sebagai orang awam kami sepertinya sudah tidak mempercayai lagi kelompok mana yang benar karena masing2 menganggap dirinya benar…jadi pertikaian kalian antara kelompok sudah membuat bingung ummat…ada diantara mereka yang hanya ingin menjalankan ibadahnya tapi sepertinya pertikaian kalian yang membuat umat menjauh…tidak ada bedanya NU,muhammadiyah, Salafi, waHDAH karena masing-masing cuma merujuk pada ustad-ulama mereka dan tidak menghargai ulama-ustad dari kelompok lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: