ANJURAN UNTUK BERKASIH SAYANG DAN BERSATU [1]


الحث على المودة و الإئتلاف و التحذير من الفرقة و الإختلاف

ANJURAN UNTUK BERKASIH SAYANG DAN BERSATU

SERTA PERINGATAN DARI PERPECAHAN DAN PERSELISIHAN

(Bagian 1)

Oleh :

Fadhilah Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi ‘Umair Al-Madkholiy

KATA PENGANTAR

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Segala puji hanya milik Allah, Shalawat dan Salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah, sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya.

Amma Ba’du :

Berikut ini merupakan ceramah ilmiah seputar manhaj dan tarbiyah (pembinaan) yang bermanfaat, dengan izin Allah, yang disampaikan oleh Fadhilatus Syaikh DR. Rabi’ bin Hadi –semoga Allah menjaga beliau dan menjadikan (ilmu)nya bermanfaat- di saat pertemuan yang mubarak (penuh berkah) yang dihadiri oleh para penuntut ilmu syar’i di Universitas Islam Madinah Munawarah, beberapa minggu yang lalu.

Ceramah ini sungguh mengandung mutiara-mutiara yang berharga dari nasehat-nasehat yang mengagumkan dan pengarahan-pengarahan yang sarat dengan manfaat, yang disampaikan di saat dan kondisi yang sangat tepat sekali –segala puji hanya milik Allah- sebagai petunjuk bagi jalannya dakwah salafiyyah yang mubarakah (penuh berkah) ini, yang pada masa-masa akhir ini telah terkontaminasi oleh sebagian pemikiran asing dan karakter/perangai yang jauh darinya!

Semoga Allah membalas Syaikh Abu Muhammad Rabi’ bin Hadi semoga Allah senantiasa menjaganya- dengan sebaik-baik ganjaran, atas upaya yang yang telah dipersembahkannya –dan apa yang akan beliau persembahkan- dalam menolong da’wah yang mulia ini dan jalan yang menentramkan ini.

Markaz Imam Albani sungguh memandang pentingnya menyebarkan1 ceramah bermanfaat yang penuh berkah ini –insya Allah– agar manfaatnya semakin menyebar dan kebaikannya semakin besar. Allah Ta’ala berfirman : “Saling tolong menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan dan janganlah kalian saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.”

Demikianlah akhir seruan kami, segala puji hanya milik Allah Pemelihara semesta alam.

Amman – Yordan

19 Sya’ban 1425 H.

ANJURAN UNTUK BERKASIH SAYANG DAN BERSATU SERTA PERINGATAN DARI PERPECAHAN DAN PERSELISIHAN

Syaikh al-Allamah Rabi’ bin Hadi bin ‘Umair al-Madkholi –Semoga Allah menjaganya- berkata :

­­­­­­­­­­إنّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيّئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلّ له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنّ محمدا عبده ورسوله

{يا أيّها الذين آمنوا اتقوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ ولا تَمُوتُنَّ إلاَّ وأَنتُم مُسْلِمُونَ}

{يا أيّها الناسُ اتّقُوا ربَّكمُ الَّذي خَلَقَكُم مِن نَفْسٍ واحِدَةٍ وخَلَقَ مِنْها زَوْجَها وبَثَّ مِنْهُما رِجالاً كَثِيراً وَنِساءً واتَّقُوا اللهََ الَّذِي تَسَائَلُونَ بِهِ والأَرْحامَ إِنَّ اللهَ كان عَلَيْكُمْ رَقِيباً }

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمالَكمْ ويَغْفِرْ لَكمْ ذُنوبَكُمْ ومَن يُطِعِ اللهَ ورَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً}

أما بعد،فإن أصدق الحديث كلام الله وخير الهدي هدي محمد وشر الأمور محدثاتها وكلّ محدثة بدعة ، وكل بدعة ضلالة ، وكل ضلالة في النار .

Segala puji hanya milik Allah. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan pada-Nya, meminta pengampunan dari-Nya, dan memohon perlindungan dari buruknya jiwa-jiwa kami dan jeleknya amal-amal kami. Barang siapa yang Allah telah menunjukinya maka tak ada seorangpun yang mampu menyesatkannya dan barang siapa yang Allah mengehendaki kesesatan atasnya maka tak ada seorangpun yang sanggup memberinya petunjuk.

Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali hanyalah Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, dan saya bersaksi pula bahwa Muhammad ada hamba dan utusan-Nya.

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam.” (Ali Imran : 102)

Wahai sekalian manusia, bertakwalah kalian kepada tuhan kalian yang menciptakan kalian dari jiwa yang satu, yang darinya Ia menciptakan pasangannya, dan memperkembangbiakkan dari keduanya kaum lelaki dan wanita yang banyak, maka bertakwalah kepada Allah dengan (mempergunakan nama-Nya) kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturrahim, sesungguhnya Allah senantiasa menjaga dan mengawasi kalian.” (An-Nisa’ : 1)

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amal kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian, dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.” (Al-Ahzab : 70-71).

Amma Ba’du :

Sesungguhnya sebenar-benar suatu perkataan adalah perkataan Allah (Kitabullah) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Sedangkan seburuk-buruk suatu perkara adalah perkara yang diada-adakan, dan setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka2.

Marhaban (Selamat datang) wahai saudaraku seislam, para penuntut ilmu yang mulia3, yang telah melakukan perjalanan jauh dari ujung dunia, dalam rangka meneguk ilmu syar’i yang memancar dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di tempat turunnya wahyu ini, kota Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yang merupakan tempat kedua turunnya wahyu setelah Makkah Mukarramah, yang berangkat darinya panji-panji jihad dan futuh (ekspansi islam) untuk meninggikan kalimat Allah Tabaroka wa Ta’ala, dan untuk menyebarkan agama yang haq (benar) ini, serta untuk memenangkan agama ini di atas seluruh agama lainnya, sebagaimana yang difirmankan Allah Tabaroka wa Ta’ala : “Dialah Allah yang mengutus rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq agar Dia memenangkannya di atas segala agama meskipun orang musyrik benci.” (Ash-Shaff : 9).

Allah sungguh telah memenangkan agama ini melalui tangan (usaha) para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang mulia dengan penuh keikhlasan4. Mereka membuka hati manusia dengan ilmu, petunjuk dan keimanan, mereka membuka benteng-benteng dan negeri dengan pedang kebenaran, dan mereka menolong agama Allah Tabaroka wa Ta’ala dengan segala usaha yang mereka miliki, dengan setiap apa yang mereka sanggupi, baik dengan mengorbankan harta dan jiwa. Mereka adalah orang yang mengimplementasikan kehendak Allah terhadap agama ini, serta mereka adalah orang yang memuliakan dan memenangkan agama ini di atas seluruh agama lainnya. Karena agama ini tegak di atas petunjuk dan ilmu, tidak tegak di atas hawa nafsu, kebodohan, kedunguan dan kekacauan -yang saat ini melanda banyak negeri!- yang bersumber dari orang-orang yang tidak menegakkan dakwah mereka di atas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, namun menegakkan dakwah mereka di atas hawa nafsu –kecuali yang Allah Tabaroka wa Ta’ala selamatkan-.

Universitas Islam ini, -beserta segenap staf dan pendirinya- mengerti akan realita kaum muslimin di dunia Islam yang hidup dalam kebodohan dan jauh dari manhaj Allah yang haq –kecuali hanya sedikit saja-. Oleh karena itu didirikanlah Universitas ini di atas manhaj islam yang shahih (benar), yang terpancar dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ‘alaihi Sholaatu was Salaam. Empat perlima mahasiswanya adalah dari anak-anak dunia islam (luar negeri), dan dan dua puluh persennya adalah anak-anak dari negeri Haramain Syarifain ini, supaya mereka dapat meneguk dari sumber ilmu yang murni ini dan agar setelah mendapatakan ilmu mereka kembali ke negeri mereka dan menyebarkan kebenaran ini. Ini adalah kebaikan, dan ini adalah petunjuk yang kalian mengetahuinya. “Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (at-Taubah : 122)

Ini adalah suatu kesempatan emas bagi kalian, maka pergunakanlah. Dan ambillah ilmu yang bermanfaat yang murni lagi bersih, yang bersandar kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, karena sumber-sumbernya masih banyak di sekitar kalian di kota ini, dan di universitas ini –segala pujian hanya milik Allah-.

Barangsiapa yang menghendaki kebenaran dan kebaikan bagi dirinya, keluarganya, kaumnya dan negerinya, maka hendaklah dia menyingsingkan lengan bajunya dan mengambil ilmu dari para ulama yang ada, yang mana mereka (para ulama) ini mengkhidmatkan diri mereka untuk mengajarkan kebenaran dan menyebarluaskannya, semoga Allah memberkahimu.

Belajarlah kalian dari sumber-sumber (referensi) yang menghimpun aqidah dan manhaj yang benar, bacalah kitab-kitab tafsir salafiyah, yang menafsirkan suatu ayat dengan ayat lain, atau dengan Sunnah Rasulullah, atau dengan pemahaman sahabat yang mulia, yang mana mereka hidup di zaman turunnya wahyu, dan mereka menyertai serta menemani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, mereka mengetahui maksud-maksud al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka adalah orang-orang yang paling layak utl dijadikan rujukan dalam memahami Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Oleh karena itulah Rasulullah yang mulia ‘alaihi Sholaatu wa Salaam pernah bersabda, dan menceritakan tentang Firqoh Najiyah (golongan yang selamat) : “Mereka adalah orang-orang yang berada di atas (pemahaman)-ku dan sahabatku5

Pemahaman sahabat yang mulia tehadap agama Allah yang haq ini, yang mereka ambil dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, ucapan, perbuatan, pendidikan dan pengarahan beliau ‘alaihi Sholaatu wa Salam, maka wajib kita jadikan sebagai referensi. Mereka adalah orang-orang mukmin yang dimaksudkan oleh firman Allah Tabaroka wa Ta’ala : “Barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas atasnya petunjuk dan mengikuti jalannya selain jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisa’ : 115). Ini adalah ancaman yang pedih bagi siapa saja yang menentang Allah dan rasul-Nya, dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin (para sahabat, ed.).

Perhatikanlah benar-benar perkara ini, dan bersemangatlah kalian untuk memahami jalannya orang-orang mukmin, yang mereka menyandarkan (pemahaman)-nya dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, dan dari tazkiyah serta tarbiyah beliau terhadap mereka di atas al-Kitab dan al-Hikmah, semoga Allah memberkahimu.

Ini adalah kesempatan baik bagimu, fahamilah dari mereka (sahabat) agama Allah yang haq ini, dan berusahalah dengan segala kesungguhan kalian di dalam memenangkan agama ini di atas seluruh agama lainnya dengan hujjah (argumentasi yang terang) dan burhan (keterangan yang jelas).

Hendaklah kalian menuntut ilmu dari sumbernya yang asli, dari kitab-kitab tafsir salafiy dan kitab-kitab aqidah salafiyah, yang terpancar dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yang akan menjelaskan kepada kalian perbedaan antara jalannya orang-orang mukmin yang shadiq (jujur) dengan jalannya mubtadi’in (pelaku bid’ah) yang menyelisihi manhaj Allah yang haq. Mereka, yaitu orang-orang mukmin yang shadiq –demi Allah- adalah pengemban amanat ummat ini terhadap agama Allah Azza wa Jalla, terhadap keselamatan aqidah dan manhajnya, dan terhadap ketetapannya (ketsabatannya) di atas apa yang dibawa oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Termasuk hal yang sudah kalian fahami adalah, bahwasanya merupakan suatu kewajiban atas kita untuk meneladani Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, berpegang teguh dengan keduanya, dan menggigitnya dengan gigi geraham, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ketika menasehati sahabatnya dengan nasehat yang indah yang menyebabkan air mata bercucuran dan hati menjadi bergetar, mereka meminta kepada beliau agar memberikan nasehat kepada mereka, mereka berkata : “Wahai Rasulullah, seolah-olah ini nasehat perpisahan, maka berikanlah wasiat kepada kami”, lantas Rasulullah bersabda, “Aku menasehatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah…”, perhatikanlah wasiat ini! “ dan untuk tetap mendengar dan taat (kepada pemimpin kaum msulimin, ed.), sesungguhnya barang siapa diantara kalian masih hidup akan melihat perselisihan yang amat banyak, maka peganglah sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus (ar-Rasyidin) lagi mendapat petunjuk (al-Mahdiyin), gigitlah dengan gigi geraham, dan jauhilah perkara-perkara yang baru (muhdats) karena setiap perkara yang baru itu bid’ah dan setiap kebid’ahan itu sesat.6

Nasehat ini mengandung wasiat untuk bertakwa kepada Allah, yang merupakan suatu keharusan darinya, dan tidaklah hal ini termanifestasikan melainkan hanya pada diri ulama yang jujur lagi shalih, sebagaimana firman Allah Ta’ala : “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama” (Fathir : 28).

Maka bertakwalah kalian kepada Allah Azza wa Jalla agar kalian dapat mencapai derajat ini (derajat ulama, ed.), dan belajarlah agar kalian dapat mencapai kedudukan mereka. Karena barang siapa yang mengetahui aqidah dan manhaj yang benar, hukum, adab dan akhlak yang berasal dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka dialah orang yang takut kepada Allah Azza wa Jalla, karena sesungguhnya takwa itu dapat termanifestasikan melalui perkara-perkara ini seluruhnya.

Dari pengetahuan terhadap perkara ini –sebagaimana telah kami sebutkan-, akan menyebabkan seorang hamba dapat meraih ketakwaan kepada Allah Azza wa Jalla dan meraih khosyah (rasa takut) serta muroqobah (merasa diawasi Allah) pada setiap waktu dan tempat dan pada setiap situasi dan kondisi. Ini merupakan kedudukan yang paling agung –yaitu kedudukan ihsan- (sebagaimana disebutkan dalam hadits Jibril, ed.) : “Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak mampu melihat-Nya maka sesungguhnya Ia melihatmu7.

Tingkatan ihsan ini, menyebabkan manusia yakin bahwasanya Allah melihatnya, dan Allah mendengar setiap apa yang ia ucapkan, Allah mendengar setiap denyut nadi jantungnya dan getaran keinginannya, bahkan apa yang terbetik pada dirinya, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui dan mendengarnya, dan Dia melihat (mengawasi) di saat gerak dan diamnya.

Seorang mukmin sejati akan senantiasa mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya pengagungan, dia mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mendengarkan apa yang ia katakan, dan Allah memiliki “(malaikat-malaikat pengawas) yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (segala perbuatanmu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Infithar : 11-12). Jika perasaan mulia ini terdapat di dalam jiwa seorang mukmin, maka ia akan memperoleh ketakwaan yang akan menjauhkan dirinya dari kemaksiatan, kesyirikan, kebid’ahan serta khurofat, dan dia akan mendapatkan kedudukan ihsan, dikarenakan dia selalu merasa diawasi oleh Allah, dan selalu merasa bahwa Allah melihat dirinya, tidak tersembunyi urusannya di sisi Allah sedikit maupun banyak, walaupun sekecil biji sawi.

Perasaan yang mulia ini akan menghantarkannya –insya Allah– kepada takwa kepada Allah, tidak ada seorangpun dapat mencapai hal ini melainkan dengan mengetahui aqidah shahihah dan syariat yang benar dari perkara halal dan haram, dan mengetahui perintah dan larangan Allah serta janji dan ancaman dari kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Mereka inilah yang berhak mendapatkan pujian Allah Tabaroka wa Ta’ala yang Ia berfirman tentang mereka, “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama” (Fathir : 28) dan firman-Nya, “Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (al-Mujaadalah : 11).

Maka bersemangatlah kalian dalam di dalam meneladani mereka para ulama, yang menghimpun antara ilmu dan amal. Yang demikian ini merupakan buah dari ilmu yang benar dan takwa kepada Allah Tabaroka wa Ta’ala serta muroqobah/merasa diawasi oleh-Nya. Hendaklah kalian juga -wahai saudara-saudaraku-, berusaha meraih keimanan yang yang bersih lagi murni, dan ilmu yang bermanfaat serta amal yang shalih. Karena telah berfirman Rabb kita Jalla Sya’nuhu : “Demi masa! Sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan senantiasa saling menasehati dalam kebenaran dan dalam kesabaran.” (al-Ashri : 1-3).

Keimanan yang bersih sesungguhnya dibangun di atas ilmu. Amal yang shalih tidak akan terpancar melainkan dari ilmu dan dakwah kepada Allah, yang tidak bisa dijalankan melainkan oleh ahlu ilmi. Bersabar atas setiap gangguan adalah suatu tuntutan bagi orang yang berilmu dan mengajar serta berdakwah kepada Allah Tabaroka wa Ta’ala –semoga Allah memberkahimu-.

Maka jadilah kalian seperti mereka yang berilmu dan mengimani ilmu ini, yang menyeru kepada ilmu dan keimanan ini, dan bersabar atas gangguan dalam menyampaikan kebenaran dan kebaikan ini kepada manusia, karena merupakan suatu keniscayaan bagi seorang muslim yang beriman ketika berdakwah kepada Allah akan menghadapi gangguan, yang terkadang belum terlintas di dalam benak mereka!

Seorang muslim sebenarnya tidak perlu aneh dengan hal ini, karena sesungguhnya sebaik-baik makhluk Allah telah diuji di jalan Allah dan di jalan dakwah kepada Allah, yaitu para Nabi dan Rasul ‘alaihim ash-Sholatu was Salam, dan mereka telah diganggu lebih daripada kita, dan diuji dengan musuh yang lebih sengit permusuhannya dan lebih banyak ketimbang kita, dan inilah makna sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Manusia yang paling keras ujiannya adalah para Nabi kemudian orang-orang yang shalih, kemudian yang serupa dengan mereka.”8 Dan sabdanya pula : “Tidak ada seorangpun yang diuji sebagaimana diriku diuji di jalan Allah.”9


(Bersambung insya Alloh)

1 Diperlukan beberapa perubahan dari ceramah ini yang berbentuk (format) suara menjadi transkrip tulisan dengan beberapa perubahan sebagian lafazh dan pembenaran sebagian ungkapan agar sesuai dengan makna yang dimaksudkan tanpa menyelisihi makna aslinya. Catatan kaki (footnote) dalam risalah ini merupakan tulisan dari Departemen Riset Ilmiyah Markaz Imam Albani, harap diperhatikan

2 Ini adalah Khuthbatul Hajah yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memulai dengannya pada setiap khutbah jum’at dan khutbah nikah serta seremoni-seremoni lainnya yang serupa. Banyak para ulama turut menggunakan teks khutbah ini, yang masyhur dari mereka adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullahu. Syaikh kami al-Imam al-Albany Rahimahullahu telah menyusun sebuah risalah tersendiri yang berjudul ‘Khutbatul Haajah allati kaana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yu’allimuha ashhaabahu

3 Sanjungan semacam ini merupakan manhaj yang telah dijalani oleh ahlul ilmi dan ulama, yang mana mereka menyambut para penuntut ilmu dan pengajar sunnah nabi dengannya. Sebagaimana di dalam hadits Shofwan bin ‘Assal al-Muradiy Radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Aku mendatangi Nabi dan beliau saat itu berada di Masjid, beliau memakai jubah bergaris-garis berwarna merah, aku berkata kepada beliau : Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku datang untuk menuntut ilmu, lantas beliau menjawab : “Selamat datang wahai penuntut ilmu, sesungguhnya penuntut ilmu itu dikelilingi oleh malaikat dan mereka menaunginya dengan sayap mereka, kemudian mereka menaiki satu sama lainnya hingga sampai ke langit dunia dikarenakan kecintaan mereka terhadap apa yang dicari oleh penuntut ilmu.” (Shahih at-Targhib wat Tarhib (I/139-hadits:71). Maka hendaklah bergembira dengan bisyarah (kabar gembira) Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang mana beliau bersabda : “Jika datang seseorang kepada suatu kaum dan mereka mengucapakan : Marhaban (selamat datang), maka ia akan disambut dengan marhaban di hari perjumpaan dengan Rabb-nya…” (as-Silsilah as-Shahihah : 1189).

4 “Yang Allah meridhainya dan mereka meridhai Allah”. Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung murka terhadap orang yang merendahkan mereka, atau mencela mereka, ataupun mengurangi kedudukan mereka. Diantara keistimewaan dakwah salafiyah yang mubarakah ini, beserta para ulamanya yang ikhlash dan da’inya yang jujur -walillahil hamdu-, adalah penghormatan, pemuliaan, dan pengagungan serta pembelaan mereka terhadap para Sahabat Nabi… Maka sungguhlah hina dina para pembuat fitnah!

5 Syaikh hafizhahullahu mengisyaratkan kepada hadits iftiraq (perpecahan), yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya (3991-3993) dan Ibnu Abi Ashim dalam kitab as-Sunnah (63-70), dan Syaikh kami, Imam Albani, telah menshahihkannya dengan riwayat yang beraneka ragam. Lihatlah ash-Shahihah (203,204,1492).

6 Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah, dan dishahihkan oleh Syaikh kami di dalam Zhilalul Jannah (24-34), lihatlah ash-Shahihah (934) karya beliau

7 Penggalan dari hadits Jibril ‘alaihi Salam yang diriwayatkan Bukhari (51) dan Muslim (8) dan selainnya.

8 Dikeluarkan oleh at-Turmudzi dan Ibnu Majah, serta dishahihkan oleh syaikh kami al-Imam al-Albani. Lihat ash-Shahihah (143,144).

9 Ash-Shahihah (2222).

– Diposting ulang dari : http://abusalma.net/

~ oleh Thifal Ramadhani pada Mei 23, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: