BERULANGKALI WALINYA MENOLAK ORANG YANG MEMINANG, APAKAH BOLEH WANITA MENIKAH SENDIRI?


Saya seorang pengajar berumur 31 tahun. Saya bekerja di Departeman Pendidikan dan Pengajaran sejak tahun 1996. Pada akhir tahun 1997, seorang teman mendatangiku di sekolah dan mengajukan lamaran kepadaku. Saya minta dia menunggu sampai kakak perempuanku menikah. Setelah dia menikah tahun 2000, pengajar ini datang lagi ke rumah untuk melamarku. Akan tetapi ayahku menolaknya, meskipun ibuku telah menyetujuinya. Alasan ayah agar saya dapat melanjutkan ke jenjang Magister dan kemungkinan akan ditugaskan sebagai dosen di Universitas. Begitulah penolakan yang berkali-kali selama rentang waktu ini. Alasannya adalah bahwa setelah saya bekerja di Universita, akan datang orang yang lebih baik dari mereka (di antara profesi orang yang ditolak adalah insinyur dan lainnya). Pada tahun 2002 saya ditugaskan mengajar sebagai dosen di Universitas. Lalu ada orang yang melamar, akan tetapi ditolak juga dengan alasan yang berbeda. Dahulu sebab penolakan para pelamar adalah karena sibuk belajar di Magister. Di antara yang ditolak adalah seorang dokter dengan alasan khawatir dia mengincar gaji saya. Latu datang seorang guru baru pertama kali mengajukan lamaran. Meskipun saya terang-terangan telah menyatakan setuju, tapi ayahku menolak karena dianggap beda pekerjaan (guru dan dosen). Padahal saya merasa dia sesuai dengan diriku dari sisi keilmuan, karena dia sedang menyelesaikan Magister pada bidang yang sama, sesuai dari sisi keilmuan dan strata sosial. Sebagaimana dia juga memiliki kemudahan dari sisi materi. Begitu juga berakhlak dan beragama. Sejak tahun 2003 sampai sekarang tahun 2006, tidak ada yang melamar kecuali orang tersebut yang tetap ingin menikah dengan diriku. Saya juga ingin menikah dengannya. Ayahku memberitahu kepada diriku bahwa lebih baik tetap tidak bersuami daripada menikah dengan guru. Dengan alasan, bahwa saya bekerja di tempat terjamin dan mempunyai pemasukan yang besar tidak perlu menikah. Kecuali kalau ada kesempatan yang tepat dan sesuai dengan pekerjaan tertentu (lebih tinggi) dengan persyaratan materi tertentu. Dia serius masalah ini. Hal ini menyebabkan saya sangat tertekan secara psikis. Harapan saya dalam bekerja hanyalah karena ingin membangun mahligai rumah tangga. Pertanyaannya, apakah saya berhak menikahkan diri saya sendiri tanpa sepengetahuan wali? Apakah orang teresbut termasuk tidak sebanding (sekufu) dengan diriku. Tolong berikan penjelasan kepadaku, semoga Allah merahmati anda. Saya mengharap penjelasan secara rinci. Terima kasih.

——————

Alhamdulillah

 

Pertama.

Tidak dibolehkan menikah dan tidak sah tanpa wali menurut pendapat mayoritas fuqaha.

Berdasarkan sabda Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam,

” لا نكاح إلا بولي ” رواه أبو داود ( 2085 ) والترمذي (1101 ) وابن ماجه (1881) من حديث أبي موسى الأشعري ، وصححه الألباني في صحيح الترمذي.

“Tidak (sah) nikah kecuali dengan wali.” (HR. Abu Daud, no. 2085, Tirmizi, no. 1101, Ibnu Majah, no, 1881, dari hadits Abu Musa Al-Asy’ari. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Tirmizi)

Juga sabda Nabi sallallahu’alaihi wa sallam,

” لا نكاح إلا بولي وشاهدي عدل ” رواه البيهقي من حديث عمران وعائشة ، وصححه الألباني في صحيح الجامع برقم 7557

“Tidak (sah) nikah kecuali ada wali dan dua orang saksi adil.”  (HR. Baihaqi dari hadits Imran dan Aisyah radhiallahu’anhuma. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam shahih Al-Jami’, no. 7557)

Juga sabda Nabi sallallahu’alaihi wa sallam:

أيما امرأة نكحت بغير إذن وليها فنكاحها باطل فنكاحها باطل فنكاحها باطل فإن دخل بها فلها المهر بما استحل من فرجها فإن اشتجروا فالسلطان ولي من لا ولي له ” رواه أحمد ( 24417) وأبو داود (2083) والترمذي (1102) وصححه الألباني في صحيح الجامع برقم (2709) .

“Wanita mana saja yang menikah tanpa izin dari walinya, maka nikahnya batal, maka nikahnya batal, maka nikahnya batal. Kalau dia menggaulinya, maka dia berhak mendapatkan mahar sebagai (ganti) terhadap apa yang dihalalkan dari kemaluannya. Kalau mereka bertengkar, maka penguasa sebagai wali bagi yang tidak mempunyai wali.” (HR. Ahmad, no. 24417, Abu Daud, no. 2083, Tirmizi, no. 1102. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami, no. 2709)

Walinya wanita adalah ayahnya, lalu kakeknya sampai ke atas, kemudian anak laki-lakinya, kemudian cucunya sampai ke bawah (ini kalau dia mempunyai anak), kemudian saudara laki-laki sekandung, saudara laki-laki seayah saja, kemudian anak-anaknya sampai ke bawah, kemudian paman, lalu anak-anaknya sampai ke bawah, kemudian paman dari bapaknya, kemudian penguasa. (AL-Mugni, 9/355).

Akan tetapi kalau walinya seringkali menolak orang yang sekufu (setara) maka ini termasuk menghalangi orang yang diwalikan, sehingga hal itu menggugurkan kewaliannya. Maka haknya berpindah kepada orang (wali) setelahnya dari (ahli waris) ashobah.

 

Kedua.

Setara yang diakui adalah setara dalam agama, tidak ada perbedaan antara keturunan arab maupun orang asing, tidak (warna kulit) merah maupun putih kecuali ketakwaan. Sebagian ulama mengakui persyaratan lain dalam kesetaraan seperti keturunan dan lainnya. Keberadaan peminang guru sementara anda dosen, tidak berarti itu tidak setara dengan anda. Selagi dalam akhlak dan agamanya (bagus) dan mudah dari sisi materi seperti yang anda sebutkan.

 

Ketiga.

Kami memandang sebaiknya anda terus memberikan nasehat kepada orang tua, dan mohon bantuan kepada orang yang diterima (nasehatnya) baik dari kerabat dekat maupun temannya. Kalau dia bersedia menikahkan dengan pelamar tersebut, maka ini yang diinginkan. Kalau tidak, maka tawarkan urusan kepada wali setelahnya sesuai dengan urutan tadi. Kalau tidak mau mengawinkan anda atau terjadi perselisihan di antara para wali, maka adukan masalah anda ke hakim. Dan dia yang akan menangani perkawinan anda.

 

Keempat.

Sungguh sangat aneh sekali apa yang dilakukan oleh wali ini, yang mirip dari menjajakan anak perempuannya seperi barang dagangan bagi yang membayar lebih atau kepada orang yang lebih kaya dari yang lainnya. Bahkan yang lebih mengherankan lagi, persangkaannya bahwa dia tidak membutuhkan pernikahan!! Apa yang dia pahami orang bermasalah seperti ini tentang kebutuhan. Bukankah dia mengetahui akan kebutuhan jiwa terhadap ketenangan, keterikatan hati dan kasih sayang. Dimana jiwa yang normal membutuhkan hal itu sebagaimana telah Allah berikan berdasarkan hikmah yang dalam. Maka hendaknya wali bagi wanita tersebut takut kepada Allah Ta’ala. Hendaknya dia mengetahui bahwa melarang anak perempuan atau saudarinya menikah dengan orang yang setara yang dia sukai, termasuk kategori kezaliman dan melampaui batas. Dapat menyebabkannya menjadi orang fasik, gugur sifat adil dan ditolak persaksiannya.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:

“Kalau walinya menghalangi untuk menikahkan dengan orang yang meminangnya, padahal dia sepadan (sekufu) dalam agama dan akhlaknya, maka perwaliaannya berpindah kepada wali setelahnya dari kerabat asobah secara berurutan. Kalau mereka tidak mau menikahkan sebagaimana umumnya, maka perwalian pindah ke hakim agama. Sehingga wanita tersebut dinikahkan olah hakim agama. Dan seharusnya ketika masalahnya sampai kepadanya, dan mengetahui para walinya menghalangi untuk menikahkannya, hendaknya hakim menikahkannya karena dia mempunyai perwalian umum selagi tidak mendapatkan perwalian khusus.

Telah disebutkan oleh para ulama fiqih rahimahumullah bahwa kalau wali berulangkali menolak peminang yang sepadan, maka walinya menjadi fasik, gugur sifat adil dan kewaliannya. Bahkan yang dikenal dalam mazhab Imam Ahmad gugur haknya menjadi imam. Maka dia tidak sah menjadi imam masjid dalam shalat jamaah orang Islam. Ini masalah yang sangat serius. Sebagian orang sebagaimana yang kami sebutkan tadi,menolak orang yang mendatangi kepada orang yang diberikan wilayah kepada para wanita sementara mereka setara (sekufu). Akan tetapi terkadang wanita malu untuk mengadukan kepada hakim meminta untuk dinikahkan. Ini realita.

Akan tetapi selayaknya dia membandingkan antara kebaikan dan keburukannya. Mana yang lebih banyak keburukannya, sendiri tanpa suami dan walinya yang mengendalikan hidupnya sesuai seleranya, dan kalau umur semakin tambah dan dia sudah enggan  menikah, maka baru wali tersebut bersedia menikahkan. Atau mengadukan kepada hakim dan meminta untuk menikahkan. Dan hal itu merupakan haknya yang sesuai agama.

Tidak diragukan lagi bahwa opsi kedua itu yang lebih utama, yaitu mengadukan ke hakim meminta untuk menikah karena itu merupakah hak baginya. Karena pengaduan ke hakim dan dinikahkannya ada kebaikan orang lain juga. Karena selain anda juga akan berani mengadukan seperti pengaduan anda. Juga, dengan mengadu ke hakim akan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang berbuat zalim yang mezalimi orang yang berada di bawah perwaliannya dengan melarang untuk menikah dengan yang sepadan. Hal itu ada tiga kebaikan, kebaikan untuk wanita agar tidak sendirian tanpa menikah. Kebaikan untuk orang lain dengan membuka pintu bagi wanita lain menunggu orang yang melamar agar mengikuti (jejak dia). Menghalangi para wali yang berbuat zalim yang mengekang para wanita, atau kepada orang yang diberikan perwalian oleh Allah kepada para wanita, agar mereka tidak berbuat apa yang mereka inginkan. Begitu juga ada kebaikan menunaikan perintah Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam, dimana beliau bersabda:

“Jikalau datang kepada kamu, orang yang kamu sukai agama dan akhlaknya. Maka nikahkanlah dia, kalau tidak. Akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan besar.”

Begitu juga ada kebaikan khusus yaitu menyalurkan biologis orang yang meminang kepada para wanita dalam kondisi setara dalam agama dan akhlaknya.” (Kitab Fatawa Islamiyah, 3/148)

Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar memberikan taufik kepada anda yang terkandung kebaikan, kemaslahatan dan kesuksesan,

wallahu’alam.

Soal Jawab Tentang Islam
***************************
Naskah aslinya :

تكرر رفض وليها للخطّاب فهل تزوج نفسها
السؤال: أنا معلمة سني 31 سنة أعمل بالتربية والتعليم منذ أول 1996 وفي آخر 1997 تقدم لي في المدرسة زميل ، وطلب منى التقدم لخطبتي ، فطلبت منه الانتظار لحين زواج أختي الكبرى . وبعد زواجها عام 2000 تقدم هذا المعلم لخطبتي في المنزل ، ولكن أبي رفض رغم موافقة والدتي ، بحجة أنها أمامها دراسات عليا واحتمال تعينها في الجامعة كمعيدة ، وكذلك تم رفض العديد من المتقدمين خلال هذه الفترة ، والسبب أنه بعد العمل بالجامعة سيأتي من هم أفضل من هؤلاء ( من المهن التي رفضت مهندس ، وغيرها ) . وفي عام 2002 تم تعيني بالجامعة كمعيدة ، وتقدم آخرون ، ولكن كان الرفض أيضاً لأسباب مختلفة ، وكان سبب الرفض الذي يقال للمتقدمين أنها مشغولة بالدراسات العليا … منها طبيب بحجة طامع في مرتبك . ـ وتقدم لي المدرس التي تقدم أول مرة ، ورغم إعلاني بموافقتي التامة إلا أن أبي رفض بحجة اختلاف المهن ( مدرس ـ معيدة) ، رغم أن يتناسب معي علمياً حيث أنه يستكمل دراساته العليا في نفس المجال ، ويتناسب معي ثقافياً واجتماعيا ، كما أنه متيسر مادياً وعلى خلق ودين. ـ ومنذ 2003 حتى الآن آخر 2006 لم يتقدم أحد سوى هذا الشخص الذي مازال متمسكا بالزواج مني ، وأنا أرغب في الزواج منه ، وأخبرني أبي أنه من الأفضل أن أبقى بلا زواج ، أفضل من الزواج من مدرس ، بحجة أنني أعمل في وظيفة مضمونة ولي دخل كبير وغير محتاجة للزواج ، إلا إذا جاءت الفرصة المناسبة ، والتي تتمثل في مهن معينة قليلة بشروط مادية معينة ، وهو جاد في هذا ، وهذا يسبب لي ضرراً نفسياً بالغاً ، حيث إنني لا أرى طموحي في العمل بل في تكوين أسرة . والسؤال : ـ فهل يحق لي تزويج نفسي به بدون علم الولي ؟ وهل يعتبر غير كفء لي، أفيدوني يرحمكم الله أرجو تفصيل الرد وجزاكم الله خيراً .

الجواب :
الحمد لله
أولا :
لا يجوز النكاح ولا يصح إلا بولي ، في قول جمهور الفقهاء ، لقوله صلى الله عليه وسلم : ” لا نكاح إلا بولي ” رواه أبو داود ( 2085 ) والترمذي (1101 ) وابن ماجه (1881) من حديث أبي موسى الأشعري ، وصححه الألباني في صحيح الترمذي.
وقوله صلى الله عليه وسلم : ” لا نكاح إلا بولي وشاهدي عدل ” رواه البيهقي من حديث عمران وعائشة ، وصححه الألباني في صحيح الجامع برقم 7557
وقوله صلى الله عليه وسلم :” أيما امرأة نكحت بغير إذن وليها فنكاحها باطل فنكاحها باطل فنكاحها باطل فإن دخل بها فلها المهر بما استحل من فرجها فإن اشتجروا فالسلطان ولي من لا ولي له ” رواه أحمد ( 24417) وأبو داود (2083) والترمذي (1102) وصححه الألباني في صحيح الجامع برقم (2709) .
وولي المرأة : أبوها ، ثم أبوه وإن علا ، ثم ابنها وابنه وإن سفل (هذا إن كان لها ولد) ، ثم أخوها لأبيها وأمها ، ثم أخوها لأبيها فقط ، ثم أولادهم وإن سفلوا ، ثم العمومة ، ثم أولادهم وإن سفلوا ، ثم عمومة الأب، ثم السلطان. (المغني 9/355)
ولكن إذا تكرر رفض الولي للخاطب الكفؤ ، اعتبر عاضلا لموليته ، وسقطت ولايته بذلك ، وانتقل الحق إلى من بعده من العصبات .
ثانيا :
الكفاءة المعتبرة هي الكفاءة في الدين ، فلا فرق بين عربي ولا عجمي ، ولا أحمر ولا أبيض إلا بالتقوى . واعتبر بعض الفقهاء شروطا أخرى في الكفاءة ، كالنسب ، وغيره ، وكون الخاطب مدرسا وأنت معيدة ، لا يعني أنه غير كفؤ لك ، ما دام على خلق ودين ومتيسر ماديا كما ذكرت .
ثالثا :
الذي نراه هو معاودة نصح الوالد ، والاستعانة في ذلك بمن له قبول عنده من قريب أو صديق ، فإن رضي تزويجك بهذا الخاطب ، فهذا هو المراد ، وإلا فاعرضي الأمر على من بعده من الأولياء حسب الترتيب السابق ، فإن أبى تزويجك ، أو حصل نزاع بين الأولياء ، فارفعي الأمر إلى القاضي ، ويتولى هو تزويجك .
رابعا :
إن من أعجب العجب ما يفعله هذا الولي ، وأشباهه ، من تحويل بناتهم إلى سلع تجارية لمن يدفع أكثر ، أو لمن يكون أيسر يدا من الآخر ، ثم أعجب من ذلك أن يزعم أنها ليست بحاجة إلى الزواج !! فماذا يفهم من الحاجة هذا المسكين ، ألم يعلم حاجة النفوس إلى السكن ، والمودة والرحمة ، وحاجة النفوس الطبيعية التي غرسها الله فيها ، لحكمه البالغة ، سبحانه . فعلى ولي المرأة أن يتقي الله تعالى ، وأن يعلم أن منع ابنته أو أخته من الزواج بالكفء الذي رضيته ، يعتبر ظلما وعدوانا ، يوجب فسقه وسقوط عدالته وردّ شهادته .
قال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله : ( إذا منع الولي تزويج امرأة بخاطب كفء في دينه وخلقه فإن الولاية تنتقل إلى من بعده من الأقرباء العصبة الأولى فالأولى ، فإن أبوا أن يزوجوا كما هو الغالب ، فإن الولاية تنتقل إلى الحاكم الشرعي ، ويزوج المرأة الحاكم الشرعي ، ويجب عليه إن وصلت القضية إليه ، وعلم أن أولياءها قد امتنعوا عن تزويجها ، أن يزوجها ، لأن له ولاية عامة ، ما دامت لم تحصل الولاية الخاصة.
وقد ذكر الفقهاء رحمهم الله أن الولي إذا تكرر رده للخاطب الكفء فإنه بذلك يكون فاسقا ، وتسقط عدالته وولايته ، بل إنه على المشهور من مذهب الإمام أحمد تسقط حتى إمامته ، فلا يصح أن يكون إماما في صلاة الجماعة في المسلمين ، وهذا أمر خطير!!
وبعض الناس كما أشرنا إليه آنفا يرد الخطاب الذين يتقدمون إلى من ولاه الله عليهن ، وهم أكفاء .
ولكن قد تستحي البنت من التقدم إلى القاضي لطلب التزويج ، وهذا أمر واقع ، لكن عليها أن تقارن بين المصالح والمفاسد ، أيهما أشد مفسدة : أن تبقى بلا زوج ، وأن يتحكم فيها هذا الولي على مزاجه وهواه ، فإن كبرت وبرد طلبها للنكاح زوجها ، أو أن تتقدم إلى القاضي بطلب التزويج ، مع أن ذلك حق شرعي لها.
لا شك أن البديل الثاني أولى ، وهو أن تتقدم إلى القاضي بطلب التزويج لأنها يحق لها ذلك ؛ ولأن في تقدمها للقاضي وتزويج القاضي إياها مصلحة لغيرها ، فإن غيرها سوف يقدم كما أقدمت ، ولأن في تقدمها إلى القاضي ردعا لهؤلاء الظلمة الذين يظلمون من ولاهم الله عليهن لمنعهن من تزويج الأكفاء .
أي أن في ذلك ثلاث مصالح :
مصلحة للمرأة حتى لا تبقى بلا زواج.
مصلحة لغيرها إذ تفتح الباب لنساء ينتظرن من يتقدم ليتبعنه.
منع هؤلاء الأولياء الظلمة الذين يتحكمون في بناتهم أو فيمن ولاهم الله عليهن من نساء ، على مزاجهم وعلى ما يريدون.
وفيه أيضا مصلحة إقامة أمر الرسول صلى الله عليه وسلم حيث قال : ” إذا أتاكم من ترضون دينه وخلقه فأنكحوه إلا تفعلوا تكن فتنة في الأرض وفساد كبير”.
كما أن فيه مصلحة خاصة وهي قضاء وطر المتقدمين إلى النساء الذين هم أكفاء في الدين والخلق) انتهى ، نقلا عن فتاوى إسلامية 3/148).

نسأل الله تعالى أن يوفقك لما فيه الخير والصلاح والفلاح .

والله أعلم .

الإسلام سؤال وجواب

Sumber : islamqa.com

 

 

 

 

Baca Artikel Lainnya :


~ oleh Thifal Ramadhani pada Februari 22, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: