KATAKANLAH : ” SAYA TIDAK TAHU ” Atau ” DIAMLAH “


Dari Abu Ruqayyah Tamiim bin Aus Ad Daari, sesungguhnya Nabi shalallahu alaihi wa salam bersabda: ”Agama itu adalah nasehat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Sabda beliau: ”Untuk Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan bagi seluruh kaum muslimin.” (HR Muslim).

 

“…..karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka.”(QS. Ar Ra’d :40)

————-

‘ Saya Tidak Tahu ‘ Itulah jawaban orang yang ditanya saat ia tidak mengetahui jawabannya. Kalimat tersebut sebenarnya bukan kalimat yang luar biasa. Bahkan tidak indah menurut sebagian orang tentunya. Akan tetapi, kalimat ini menjadi sangat indah dan luar biasa ketika dikatakan pada tempatnya.

Allah berfirman:

وَاللّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُونَ شَيْئاً وَجَعَلَ لَكُمُ الْسَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur. (An-Nahl: 78)

Inilah keadaan gambaran manusia ketika pertama kali ia lahir ke dunia yang fana ini. Ia tidak mengetahui apa-apa, hanya menangis dan tidur yang bisa ia lakukan. Akan tetapi, Allah yang maha Pemurah memberikan kepadanya beberapa sarana dari anggota tubuhnya yang dapat dipergunakan untuk mengetahui banyak hal yang masih asing baginya.

Pendengaran, penglihatan, dan hati (akal). Inilah sarana yang sangat berperan dalam menuntut ilmu. Yaitu untuk mendengar, melihat, dan memahami ayat-ayat tanda kebesaran Allah dengan tujuan pada akhirnya manusia dapat mengetahui dan mewujudkan tujuan penciptaannya di muka bumi ini, yaitu beribadah semata-mata kepada Allah.

Allah telah memberi peringatan dan ancaman yang keras bagi manusia dan jin yang tidak menggunakan pendengaran, penglihatan, dan hati mereka pada tempat semestinya yang diridhoi dan diperintahkan Allah, yaitu untuk mentauhidkannya. Mereka digambarkan bagaikan binatang ternak, bahkan lebih hina.

Di antara manusia ada yang mampu menggunakan sarana-sarana di anggota tubuhnya untuk menuntut ilmu syar’i yang digali dari Al-Quran dan Sunnah Rasulullah. Merekalah para ulama dan penuntut ilmu di jalan Allah.

Namun, berapapun banyaknya pembendaharaan ilmu yang dimiliki oleh manusia, seluas apapun bidang ilmu yang mampu dikuasainya, hanyalah sedikit sekali dari pemberian Allah:

Allah berfirman:

وَمَا أُوتِيتُم مِّن الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً

Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali hanya sedikit (Al-Isra:85)

Hendaklah seorang alim maupun penuntut ilmu mengetahui kadar ilmu yang ia miliki. Agar ia hanya berkata dan menjawab sebatas apa yang diketahuinya ketika ia memikul tangggung jawab untuk menjawab pertanyaan orang-orang awam. Selebihnya, ia hanya bisa menyerahkan kepada Allah dengan menjawab Allahu A’lam (Allah lebih mengetahui) atau Saya tidak tahu.

Ucapan ini ( baca : Saya Tidak Tahu ) bukanlah menunjukkan kebodohan seseorang, tapi malah merupakan suatu sikap yang sangat terpuji dan mulia, akhlaq sunni salafi yang diwariskan dari Rasulullah dan para Sahabat beliau, menunjukkan sifat wara’ dan tawadhu’ seseorang di hadapan syariat Allah. Karena, di atas orang alim ada yang lebih alim.

Berikut  nukilan singkat nan indah [Menurut pandangan saya], mereka-mereka yang telah mengucapkannya. Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran…..

دَّثَنَا مَخْلَدُ بْنُ مَالِكٍ حَدَّثَنَا حَكَّامُ بْنُ سَلْمٍ عَنْ أَبِي خَيْثَمَةَ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ رُفَيْعٍ قَالَ سُئِلَ عَطَاءٌ عَنْ شَيْءٍ فَقَالَ لَا أَدْرِي قَالَ قِيلَ لَهُ أَلَا تَقُولُ فِيهَا بِرَأْيِكَ قَالَ إِنِّي أَسْتَحْيِي مِنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدَانَ فِي الْأَرْضِ بِرَأْيِي

Telah menceritakan kepada kami Makhlad bin Maalik : Telah menceritakan kepada kami Hakkaam bin Salm, dari Abu Khaitsamah, dari ‘Abdul-‘Aziiz bin Rufai’, ia berkata : ‘Atha’ pernah ditanya tentang satu permasalahan. Ia pun berkata : “Aku tidak tahu”. Dikatakan kepadanya : “Mengapa engkau tidak menjawabnya menurut pendapatmu ?”. ‘Atha’ berkata : “Sesungguhnya aku malu kepada Allah ‘azza wa jalla untuk menjadikan pendapatku sebagai pedoman di muka bumi” [Diriwayatkan oleh Ad-Daarimiy no. 108, tahqiq : Husain Saliim Asad; Daarul-Mughniy, Cet. 1/1421 – sanadnya shahih].

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ الْفَزَارِيِّ عَنْ ابْنِ عَوْنٍ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ لَأَنْ أَرُدَّهُ بِعِيِّهِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَتَكَلَّفَ لَهُ مَا لَا أَعْلَمُ

Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin ‘Uyainah, dari Abu Ishaaq Al-Fazaariy, dari Ibnu ‘Aun, dari Ibnu Siiriin, dari Humaid bin ‘Abdirrahmaan, ia berkata : “Menjawab dengan jawaban tidak tahu, itu lebih aku sukai daripada harus memaksakan diri menjawab sesuatu yang tidak aku ketahui” [Diriwayatkan oleh Ad-Daarimiy no. 149 – sanadnya jayyid].

أَخْبَرَنَا جَعْفَرُ بْنُ عَوْنٍ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ مُسْلِمٍ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ مَنْ عَلِمَ مِنْكُمْ عِلْمًا فَلْيَقُلْ بِهِ وَمَنْ لَمْ يَعْلَمْ فَلْيَقُلْ لِمَا لَا يَعْلَمُ اللَّهُ أَعْلَمُ فَإِنَّ الْعَالِمَ إِذَا سُئِلَ عَمَّا لَا يَعْلَمُ قَالَ اللَّهُ أَعْلَمُ وَقَدْ قَالَ اللَّهُ لِرَسُولِهِ { قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنْ الْمُتَكَلِّفِينَ }

Telah mengkhabarkan kepada kami Ja’far bin ‘Aun, dari Al-A’masy, dari Muslim, dari Masruuq, dari ‘Abdullah, ia berkata : “Barangsiapa diantara kalian yang memiliki suatu ilmu, hendaklah ia mengatakannya. Dan barangsiapa yang tidak memiliki ilmu, katakanlah dalam permasalahan yang ia tidak ketahui itu : ‘Allaahu a’lam’ (Allah lebih mengetahuinya), karena seorang ulama itu adalah seorang yang jika ditanya tentang sesuatu yang tidak diketahuinya ia akan mengatakan : ‘Allahu a’lam’. Allah telah berfirman kepada Rasul-Nya : ‘Katakanlah (hai Muhammad): “Aku tidak meminta upah sedikit pun kepadamu atas dakwahku; dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan[Diriwayatkan oleh Ad-Daarimiy no. 179 – sanadnya shahih].

أَخْبَرَنَا فَرْوَةُ بْنُ أَبِي الْمَغْرَاءِ أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَهُ عَنْ مَسْأَلَةٍ فَقَالَ لَا عِلْمَ لِي بِهَا فَلَمَّا أَدْبَرَ الرَّجُلُ قَالَ ابْنُ عُمَرَ نِعْمَ مَا قَالَ ابْنُ عُمَرَ سُئِلَ عَمَّا لَا يَعْلَمُ فَقَالَ لَا عِلْمَ لِي بِهِ

Telah mengkhabarkan kepada kami Farwah bin Abil-Maghraa’ : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Aliy bin Mus-hir, dari Hisyaam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari Ibnu ‘Umar : Bahwasannya ada seorang laki-laki yang bertanya kepadanya tentang satu permasalahan, lalu ia berkata : “Aku tidak mempunyai ilmu tentang hal itu”. Ketika laki-laki itu pergi, Ibnu ‘Umar berkata : “Sebaik-baik yang dikatakan Ibnu ‘Umar saat ditanya tentang sesuatu yang tidak ia ketahui, ia berkata : ‘aku tidak mempunyai ilmu tentang hal itu[Diriwayatkan oleh Ad-Daarimiy no. 185 – dengan sanad shahih].

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَمَّادٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ مُغِيرَةَ عَنْ الشَّعْبِيِّ قَالَ لَا أَدْرِي نِصْفُ الْعِلْمِ

Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Hammaad : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awaanah, dari Mughiirah, dari Asy-Sya’biy, ia berkata : “(Perkataan) aku tidak tahu adalah setengah dari ilmu” [Diriwayatkan oleh Ad-Daarimiy no. 186 – sanadnya shahih].

أَخْبَرَنَا هَارُونُ بْنُ مُعَاوِيَةَ عَنْ حَفْصٍ عَنْ أَشْعَثَ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ قَالَ مَا أُبَالِي سُئِلْتُ عَمَّا أَعْلَمُ أَوْ مَا لَا أَعْلَمُ لِأَنِّي إِذَا سُئِلْتُ عَمَّا أَعْلَمُ قُلْتُ مَا أَعْلَمُ وَإِذَا سُئِلْتُ عَمَّا لَا أَعْلَمُ قُلْتُ لَا أَعْلَمُ

Telah mengkhabarkan kepada kami Haaruun bin Mu’aawiyyah, dari Hafsh, dari Asy’ats, dari Ibnu Siiriin, ia berkata : “Aku tidak peduli, aku ditanya tentang sesuatu yang aku ketahui atau yang tidak aku ketahui. Jika aku ditanya tentang sesuatu yang aku ketahui, maka akan aku katakan apa-apa yang aku ketahui. Namun jika aku ditanya tentang sesuatu yang tidak aku ketahui, maka akan aku katakan : ‘Aku tidak tahu’[Diriwayatkan oleh Ad-Daarimiy no. 189 – sanadnya shahih].

حدثنا عبد الوارث بن سفيان، ثنا قاسم بن أصبغ، ثنا أحمد بن زهير، ثنا الوليد بن شجاع، ثنا ابن نمير قال : ثنا عبد الملك بن أبي سليمان قال : سئل سعيد بن جبير عن شيء فقال ؛ لا أعلم، ثم قال : ويل اللذي يقول لما لا يعلم : إني أعلم.

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Waarits bin Sufyaan : Telah menceritakan kepada kami Qaasim bin Ashbagh : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Zuhair : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Syujaa’ : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Malik bin Abi Sulaimaan, ia berkata : Sa’iid bin Jubair pernah ditanya tentang satu permasalahan, lalu ia menjawab : “Aku tidak tahu”. Kemudian ia melanjutkan : “Sungguh celaka orang yang mengatakan sesuatu yang tidak ia ketahui : ‘Sesungguhnya aku mengetahuinya’[Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil-Barr dalam Jaami’ Bayaanil-‘Ilmi wa Fadhlih no. 1568, tahqiq : Abul-Asybaal Az-Zuhairiy; Daar Ibnil-Jauziy, Cet. 1/1414 – sanadnya hasan].

أخبرنا عبد الله بن محمد بن يوسف قال حدثنا عبد الله ابن محمد بن ابراهيم الرازي بمكة قال حدثنا أبو محمد عبد الرحمن بن أبي حاتم الرازي قال حدثنا أحمد بن سنان قال سمعت عبد الرحمن بن مهدي يقول كنا عند مالك بن أنس فجاءه رجل فقال له يا أبا عبد الله جئتك من مسيرة ستة أشهر حملني أهل بلدي مسئلة أسألك عنها قال فسل فسأله الرجل عن المسئلة فقال لا أحسنها قال فبهت الرجل كأنه قد جاء إلى من يعلم كل شيء فقال أي شيء أقول لأهل بلدي إذا رجعت إليهم قال تقول لهم قال مالك لا أحسن

Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad bin Yuunus, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad bin Ibraahiim Al-Raaziy di Makkah, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad ‘Abdurrahman bin Abi Haatim Ar-Raaziy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Sinaan, ia berkata : Aku mendengar ‘Abdurrahman bin Mahdiy berkata : Kami pernah berada di sisi Maalik bin Anas. Lalu datanglah seorang laki-laki dan berkata kepadanya : “Wahai Abu ‘Abdillah, aku mendatangimu dari daerah yang berjarak enam bulan perjalanan. Penduduk negeriku telah menitipkan satu permasalahan kepadaku untuk aku tanyakan kepadamu”. Maalik berkata : “Bertanyalah”. Laki-laki itu pun bertanya tentang permasalahannya”. Maalik berkata : “Aku tidak dapat menjawabnya”. Laki-laki  itu bingung/tercengang karena ia beranggapan telah menemui orang yang mengetahui segala sesuatu. Ia berkata : “Apa yang harus aku katakan kepada penduduk negeriku apabila aku kembali kepada mereka nanti ?”. Maalik menjawab : “Katakan saja pada mereka bahwa Maalik tidak bisa menjawab pertanyaan mereka” [Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil-Barr dalam Jaami Bayaanil-‘Ilmi wa Fadhlih no. 1573 – sanadnya shahih].

حدثنا عبد الرحمن بن يحيى قال حدثنا علي بن محمد قال حدثنا أحمد بن داود قال حدثنا سحنون قال حدثنا ابن وهب قال قال لي مالك بن أنس وهو ينكر كثرة الجواب للمسائل يا عبد الله ما علمته فقل به ودل عليه وما لم تعلم فاسكت عنه وإياك أن تتقلد للناس قلادة سوء

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahmaan bin Yahyaa, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Muhammad, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Daawud, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sahnuun, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, ia berkata : Maalik pernah berkata kepadaku – dan ia mengingkari banyaknya jawaban terhadap pertanyaan (yang diajukan) – : “Wahai ‘Abdullah, apa-apa yang engkau ketahui, maka katakanlah dan tunjukkanlah hal itu. Adapun yang tidak engkau ketahui, maka diamlah darinya. Janganlah engkau mengikuti manusia seperti qiladatu sau’[Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil-Barr Jaami Bayaanil-‘Ilmi wa Fadhlih no. 2080 – sanadnya shahih].

وأخبرنا أبو الحسين بن الفضل، أبنا عبد الله بن جعفر، ثنا يعقوب، ثنا زيد بن بشر، أخبرني ابن وهب، أخبرني مالك بن أنس، أنه سمع عبد الله بن يزيد بن هرمز يقول : ينبغي للعالم أن يحدث جلساءه من بعده لا أدري، حتى يكون ذلك أصلا في أيديهم، يفزعوون إليه إذ سئل أحدهم عما لا يدري قال : لا أدري.

Telah mengkhabarkan kepada kami Abul-Husain bin Al-Fadhl : Telah memberitakan kepada kami ‘Abdullah bin Ja’far : Telah menceritakan kepada kami Ya’quub : Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Bisyr : Telah mengkhabarkan kepadaku Ibnu Wahb : Telah mengkhabarkan kepadakmi Maalik bin Anas : Bahwasannya ia mendengar ‘Abdullah bin Hurmuz berkata : “Sepatutnya bagi seorang ‘aalim (ulama) untuk mengatakan kepada teman-temannya : ‘aku tidak tahu’; sehingga hal itu menjadi asal dan penolong bagi mereka saat ia ditanya permasalahan yang tidak diketahui, lalu ia akan menjawab : ‘aku tidak tahu’[Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Madkhal 2/271 no. 809, tahqiq : Prof. Muhammad Dliyaaur-rahman Al-A’dhamiy; Adlwaaus-Salaf, Cet. 2/1420 – sanadnya shahih].

قال سليمان : قال الخليل بن أحمد : الناس ثلاثة؛ فأثنان يعلمان وواحد لا يعلم، رجل عالم يعلم أنه عالم هذا يعلم، ورجل عالم لا يعلم أنه عالم فهذا يعلم، ورجل لا يعلم وهو يرى أنه يعلم فهذا لا يعلم.

Sulaimaan berkata : Telah berkata Al-Khaliil bin Ahmad : “Ada tiga manusia, dua diantaranya termasuk orang yang mengetahui, dan yang lain tidak mengetahui. (Pertama), seorang yang ‘aalim dan mengetahui bahwasannya dirinya seorang yang ‘aalim, maka ia termasuk orang yang mengetahui. (Kedua), seorang yang ‘aalim, namun tidak mengetahui bahwa ia ‘aalim, maka ia juga termasuk orang yang mengetahui. (Ketiga), bukan seorang yang mengetahui, namun berpandangan dirinya mengetahui, maka ia termasuk  orang yang tidak mengetahui” [Diriwayatkan oleh Al-Fasaawiy dalam Al-Ma’rifah wat-Taariikh 2/38, tahqiq/ta’liq : Dr. Akram Dliyaa’ Al-‘Umariy; Maktabah Ad-Daar, Cet. 1/1410 – sanadnya shahih].

قال المروذي : قلتُ لأبي عبد الله : إن العالم يظنونه عنده علم كل شيء، فقال : قال ابن مسعود رضي الله عنه : إن الذي يفتي الناس في كل ما يستفتونه لمجنون. وأنكر أبو عبد الله على من يتهجم في المسائل والجوابات. وسمعتُ أبا عبد الله يقول : ليتق الله عبد ولينظر ما يقول وما يتكلم، فإنه مسؤول.

Telah berkata Al-Marwadziy : Aku bertanya kepada Abu ‘Abdillah : “Sesungguhnya ada seorang yang ‘aalim (ulama) menyangka pada dirinya terdapat ilmu segala macam sesuatu. Ahmad berkata : Telah berkata Ibnu Mas’uud : ‘Sesungguhnya orang yang memberi fatwa pada setiap orang yang meminta fatwa kepadanya adalah orang gila’. Abu ‘Abdillah pernah mengingkari orang yang memberanikan diri menghadapi berbagai permasalahan dan jawabannya. Dan aku telah mendengar Abu ‘Abdillah berkata : “Hendaknya seorang hamba bertaqwa kepada Allah dan melihat apa yang dilihat dan dikatakannya, karena kelak ia akan ditanya” [Dibawakan oleh Ibnu Muflih dalam Al-Adabusy-Syari’ah 2/62, tahqiq/takhrij : Syu’aib Al-Arna’uth & ‘Umar Al-Qayyaam; Muassasah Ar-Risaalah, Cet. 3/1419].

Allah ta’ala berfirman :

وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ * قَالُوا سُبْحَانَكَ لا عِلْمَ لَنَا إِلا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!“. Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana[QS. Al-Baqarah : 31-32].

 

Itulah ketawadhuan yang dimiliki oleh orang-orang yang terbaik dari umat ini, kemudian diwarisi oleh para ulama sesudah mereka. Mereka tidak segan untuk mengucapkan tidak tahu, dan tidak malu untuk mengucapkan Allahu A’lam.

Mereka sangat paham, bahwa ucapan itu tidak akan menurunkan derajat keilmuan mereka. Bahkan, ucapan itu menunjukkan keilmuan dan kefaqihan seseorang.

Karena, hanya orang-orang bodohlah yang berani berbicara tanpa dilandasi ilmu. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesunggahnya Allah tidak akan mencabut ilmu secara sekaligus. Tetapi,Allahmencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama. Sehingga, apabila tidaktersisa lagi orang alim, manusia mengangkat pemimpin yang bodoh, mereka ditanyai dan berfatwa tanpa didasari ilmu, mererka sesat lagi menyesatkan.(HR. Bukhari dan Muslim)

Alangkah sangat memilukan pemandangan yang dapat kita saksikan di sekitar kita. Memasyarakatnya bid’ah dan menyebarnya kerancuan, salah satu penyebabnya adalah karena fatwa yang tidak didasari ilmu dari orang-orang yang diulamakan; dianggap cendekiawan; atau dijuluki pemikir Islam oleh mayarakat awam. Mungkin merasa gengsi untuk mengucapkan tidak tahu di depan para penggemarnya. Allahu Musta’an…… .

Marilah kita mengoreksi diri kita masing-masing, agar kita mengetahui kedudukan kita dibanding para sahabat Rasulullah dan ulama umat ini untuk berfatwa dalam syariat Allah.

Mari kita ambil pelajaran dari nasehat Abu Dziyal: Belajarlah mengucapkan ‘saya tidak tahu’, jangan kamu belajar mengucapkan ‘saya tahu’. Karena, jika kamu mengatakan ‘saya tidak tahu’, kamu akan diajarkan sampai kamu tahu. Tapi, kalau kamu mengatakan ‘saya tahu’, kamu akan terus ditanyai sampai akhirnya kamu mengucapkan ‘tidak tahu’

Pahamilah ini adalah Ilmu yang sangat penting ” Jika kamu tidak mempunyai Ilmu dengan-nya lebih baik ” DIAM “ atau katakanlah ” Saya Tidak Tahu “

Terakhir, masih malukah kita untuk mengatakan saya tidak mengetahui’  pada sesuatu yang tidak kita ketahui ? – sedangkan malaikat saja tidak malu mengatakannya….!!!

Wallaahul-Musta’aan.

Sumber : Faedah dari Blog Ustadz Abul- Jauza’ ( http://abul-jauzaa.blogspot.com/ ) dan,Hilyatul ‘Alimil Mu’allim wa Bulghatut Thalibil Muta’allim,Syaikh Salim Al-Hilaly.

~ oleh Thifal Ramadhani pada Mei 22, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: