Beberapa Pembahasan Masalah Puasa Catatan Pribadi DR.Ahmad bin Abdurrahman Al Qodhi


Syaikh DR.Ahmad bin Abdurrahman bin Utsman Al Qodhi  hafidzahullah tinggal dikota yang sama dengan Al Allamah Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah di kota Unaizah KSA.Beliau bermulazamah dan berhubungan dengan Syaikh Utsaimin sekitar 21 tahun,yakni sejak tahun 1400 H  hingga wafatnya Syaikh Utsaimin rahimahullah di tahun 1421H.

Catatan pribadi beliau  ini adalah kumpulan  permasalahan yang pernah ditanyakan kepada gurunya,berupa permasalahan yang terasa rumit bagi beliau atau berupa pertanyaan titipan atau pertanyaan ikhwah tholabul ilmi.Catatan pribadi beliau ini atas dorongan beberapa muridnya dibuat menjadi sebuah buku diberi nama “Tsamarat At tadwin min Masail Ibn Utsaimin”. Keseluruhan catatan ini dapat diunduh di situs www.al-aqidah.com

Redaksi Direktori Islam saat ini sedang menerjemahkan keseluruhan catatan ini (semoga Allah mudahkan usaha ini),namun berkaitan dengan bulan suci ramadhan, maka kami dahulukan beberapa pembahasan dalam masalah puasa .Silahkan menyimak :

MASUKNYA WAKTU RAMADHAN

Masalah No.251 (18/08/1417H)

Saya bertanya kepada guru saya,Syaikh Ibn Utsaimin rahimahullah : Apakah kita boleh menggunakan hisab observasi ahli falak dalam penetapan hilal?

Jawaban Syaikh Utsaimin rahimahullah : Menurut pendapat saya,kita bisa memakai hisab dalam menolak ketetapan ru’yat, tapi tidak untuk penetapan.Maknanya : Jika seandainya ada seseorang mengatakan telah melihat (ru’yat) hilal,sedangkan menurut ahli hisab hilal tidak mungkin terlihat atau belum akan tampak pada malam ini ditempat tersebut,maka kita mengambil apa yang dinyatakan hisab dalam penafian hail rukyat.Apabila menurut hisab dinyatakan bulan sudah lahir pada malam ini, namun melalu metode rukyat tidak dapat dilihat oleh seorangpun,maka kita tidak mengambil keputusan hisab,karena hukum yang teranggap adalah berdasarkan rukyat secara normal.

Masalah No.252 (16/10/1420H)

Saya bertanya kepada guru saya,Syaikh Ibn Utsaimin rahimahullah : Anda menyebutkan sebelumnya mengenai batasan dalam masalah hilal,bahwasannya ucapan ahli falak dapat digunakan dalam penafian namun tidak untuk penetapan (itsbat).Apakah yang dimaksud adalah Hisab ahli falak atau hisab melalui observasi terhadap pergerakan bulan?

Syaikh menjawab : Yang saya maksud adalah hisab  pengamatan atau observasi terhadap benda-benda langit.Yakni mereka mengamati perjalanan bulan dalam sebulan.Apabila mereka menetapkan bahwa hilal belum akan terlihat (muncul) di malam tertentu maka pendapat mereka diambil.Akan tetapi jika para ahli hisab menyatakan bahwa hilal dapat dilihat,tapi kemudian terhalang sebelum tenggelamnya matahari,kita tidak mengambil pendapat ahli hisab,karena Allah hanya menyatakan dimulainya ibadah dengan rukyat mata telanjang

Masalah No.253 (16/08/1419H)

Saya bertanya kepada guru saya,Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah : Apakah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berpendapat bahwa rukyat seorang dari kaum muslimin yang melihat hilal,berlaku hukumnya bagi seluruh umat islam dimanapun?

Syaikh Utsaimin menjawab :”Tidak”

Kemudian saya meminta izin kepada beliau untuk membacakan sebagian ucapan Syaikhul Islam dari Al Fatawa Juz 25 hal.103 s/d 113.

Syaikh Utsaimin mengatakan :Jika itu dianggap dari fatawa Syaikhul Islam,maka tidak.Yang dianggap adalah yang tertera dalam Al Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah wal Furu’.Mungkin yang tadi itu dikatakan Syaikhul Islam diawal kehidupannya kemudian beliau rujuk sebagaimana yang beliau jelaskan hal itu yang ditulisnya dalam Al Manasik di awal kehidupannya.

Masalah No.254 (9/10/1420H)

Saya bertanya kepada guru saya,Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah : Jika wanita yang sedang haidh berkata,”Jika nanti pagi saya suci, maka saya akan berpuasa”. Rupanya wanita ini melihat dirinya sudah suci pada saat bangun tidur,namun setelah masuk waktu shubuh.Bagaimana hukum puasanya? Apakah ucapan ini sama dengan ucapan “(Besok saya berpuasa),jika besok ternyata masuk awal puasa, maka itu sebagai puasaku yang wajib, (tapi kalau ternyata belum ramadhan maka aku jadikan sebagai puasa sunnah)”

Syaikh menjawab :  Puasa wanita ini tidak sah, dan tidak ada kaitan dengan peryataan yang disebutkan tadi, karena pada asalnya masih ada larangan terhadap wanita tadi (masih teranggap haidh ketika masuk shubuh,pent)

Masalah No.255 (13/10/1419H)

Saya bertanya kepada guru saya,Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah : Apa hukum mengucapkan selamat atas masuknya bulan ramadhan dengan berdiri, berkunjung dan sebagainya?

Syaikh menjawab : Saya tidak menganggapnya terlarang mengucapkan selamat terhadap yang membuatnya bahagia,karena ini ada asalnya dalam sunnah seperti sahata yang bertahniah (mengucapkan selamat) terhadap taubat Ka’ab bin Malik yang diterima oleh Allah.Juga Nabi yang memberi kabar gembira atas kelahiran anaknya Ibrahim,juga para malaikat yang memberi kabar gembira kepada Nabi Ibrahim mengenai anaknya.Asal dari tahniah pada sesuatu yang membuat bahagia adalah tidak mengapa (la ba’sa biha) dan ada dasarnya dalam As Sunnah.Adapun mengenai berdiri dan berkunjung maka ini dikemabalikan kepada adat setempat.

 

PEMBATAL PUASA

Masalah No.256 (15/01/1417H)

Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah : Apa hukum istinsyaq (menghisap) inhaller seperti di rumahsakit untuk penderita asma disiang hari ramadhan. Seperti diketahui bahwa obat isap itu tersebut melepaskan suara yang menyemprot?

Syaikh menjawab : Tidak membatalkan puasa, karena yang dikeluarkan sama seperti udara (yang biasa kita hirup,pent.).Dan hanya masuk sampai paru-paru,tidak sampai masuk lambung.

Masalah No.257 (26/08/1420H)

Saya bertanya kepada guru saya,Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah : Apa hukum perawatan bagi penderita gagal ginjal dengan melakukan peritoneal dialysis[1] membatalkan puasanya?

Jawaban Syaikh : Jika tidak mengandung makanan, dan tidak sampai ke perut besar ,maka tidak membatalkan.

 

KAFARAH

Masalah No.258 (26/08/1420H)

Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah : Apa hukum mendahulukan dalam pemberian makanan  untuk sebulan ramadhan bagi orang sakit yang kecil kemungkinan sembuh?

Jawaban Syaikh : Jangan dilakukan karena belum terealisasi kepada jatuhnya kewajiban.Bisa saja dia meninggal ditengah bulan ramadhan.Kalau dia berkata, “Saya akan lakukan,adapun adanya kemungkinan lebih dari yang wajib,maka menjadi shadaqoh” Maka pemberian makanan ini menjadi tidak jelas antara shadaqoh dengan kewajiban.Maka ini tidak sah.Oleh karena itu, Anas radhiallahu ‘anhu mengumpulkan tiga puluh orang miskin bersama-sama di akhir bulan ramadhan untuk diberi makan.

Masalah No.259 (17/10/1417H)

Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah : Seseorang pingsan dan koma sebelum Ramadhan, kemudian lewat ramadhan dia meninggal.Bagaimana dengan orang ini?

Jawaban Syaikh : Berikan makanan (kepada orang miskin) bagi orang ini,karena semisal penyakit ini kecil kemungkinan pulih yang kemudian menyebabkan kematian.

Masalah No.260 (13/01/1419H)

Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah : Seseorang mengalami stroke (pendarahan otak) dibulan ramadhan kemudian meninggal.Adakah kewajiban atas orang ini?

Jawaban Syaikh : Tidak ada qodho dan kafarah atasnya.

Masalah No.261 (09/10/1420H)

Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah : Seseorang yang wajib memberikan makanan sebagai pengganti puasa yang ditinggalkannya,apakah terpenuhi dengan mengadakan “Buka Puasa Bersama” di masjid bagi para pekerja dan orang miskin?

Jawaban Syaikh :Iya, asalkan yakin bahwa jumlah mereka sesuai dengan hari puasa yang ditinggalkan dan makanannya tidak tercampur dengan makanan yang dimaksudkan selainnya.Juga makanan terebut mengenyangkan mereka.

Masalah No.262 (20/01/1419H)

Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah : Seseorang yang membatalkan puasanya di siang bulan ramadhan tanpa alasan yang dibenarkan (syar’iy) kemudian bercampur dengan istrinya.Dia berbuka puasa tersebut tidak diniatkan untuk bisa bercampur dengan istrinya.Apakah wajib kafarah?

Jawaban Syaikh :Iya, dia terkena kafarah dari melakukan jima’ disiang bulan ramadhan.Karena dia (pada asalnya) terkena kewajiban berpuasa.

Masalah No.263 (13/10/1419H)

Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah : Seseorang yang melakukan jima’ dua hari berturut-turut, apakah  dia mendapatkan satu kafarah atau dua kafarah?

Jawaban Syaikh : Dua kafarah

Kemudian saya bertanya : Anda menyebutkan dalam Asy Syarh Al Mumti’ bahwa pendapat yang mengatakan satu kafarah bisa dipertimbangkan….

Jawaban Syaikh : Iya,betul.Tapi kami tidak berfatwa demikian.Karena kalau demikian,maka orang akan menggampangkan urusan ini[2]

Masalah No.264 (11/11/1419H)

Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah : Apakah batasan “mampu” dalam menunaikan puasa bagi yang terkena kafarah jima’ di siang bulan ramadhan

Jawaban Syaikh : Perkara “kemampuan” adalah antara dia dengan Allah.Siapa yang tahu dirinya mampu,namun mengalihkannya dari yang seharusnya puasa kepada memberikan makanan,maka seharusnya dikatakan pada yang bertanya: ”Apakah anda mampu berpuasa dibulan ramadhan?, maka begitulah, berpuasalah anda dua bulan berturut-turut atas kafarah dari apa yang telah anda perbuat kecuali ada udzur.

Masalah No.265 (11/11/1419H)

Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah : Apakah ada udzur lain selain sakit dan safar bagi yang mampu berpuasa di bulan ramadhan?

Jawaban Syaikh : Bisa jadi dia badannya memang lemah tidak mampu berpuasa dua bulan berturut-turut.Atau dia punya syahwat yang kuat sehingga tidak bisa bersabar menahan untuk tidak berbuat  jima’ diselang waktu tersebut.Atau dia memiliki pekerjaan yang menghalanginya untuk berpuasa berturut-turut.

 

QODHO

Masalah No.266 (07/02/1420H)

Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah : Seseorang meninggal dan dia memiliki kewajiban berpuasa,apakah mungkin bagi wali-walinya untuk berserikat melakukan puasa untuknya?

Syaikh menjawab : Iya, kecuali dengan salah satu  syaratnya adalah berturutan.Namun meskipun ada 30 orang mempuasakannya dalam satu hari untuk puasa ramadhan maka hal itu mencukupi.

Masalah No.267 (07/02/1420H)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya: Mengapa jika sejumlah orang melakukan puasa untuknya, tidakkah diharuska berurutan satu demi satu?

Syaikh Menjawab: Tidak perlu , karena “berurutan” adalah sifat yang terjadi jika satu orang yang melakukannya.

Masalah No.268 (16/02/1421H)

Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah : Seseorang meninggal dan dia punya kewajiban puasa dua bulan berturut-turut.Maka salah seorang walinya berpuasa untuknya pada sebagian hari dan dilanjutkan olah yang lain sebagian sisanya,tanpa terputus satu haripun.Apakah ini telah memenuhi?

Syaikh menjawab : Tidak terpenuhi,karena puasa yang diganti terebut disyaratkan “berurutan” yang tidak terlaksana kecuali oleh satu orang.Jadi, wajib bagi walinya tadi untuk mengulang karena sempat terputus,dan puasa yang sudah dikerjakan tadi insyaAllah menjadi amalan nafilah (sunnah) bagi si mayit.Ini berbeda dengan mempuasakan seseorang untuk bulan ramadhan,seperti jika seorang meninggal dan punya qodho puasa ramadhan,maka mungkin saja berserikat sejumlah orang untuk melakukan qodho si mayit tersebut,bahkan bisa saja melakukan puasa bersama-sama dalam satu hari.

 

PUASA SUNNAH

Masalah No.269 (13/06/1419H)

Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah : Seseorang bermaksud berpuasa sunnah 3 hari dalam sebulan,apakah yang afdhal melakukannya di hari-hari putih (ayyamul bidh,tanggal 13,14 dan 15,pent) ataukah berpuasa pada senin kamis?

Syaikh menjawab : Berpuasa di hari-hari putih (ayyamul bidh)

Masalah No.270 (18/11/1419H)

Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah : Apa hukum seseorang berpuasa sunnah dihari jumat bukan bermaksud puasa jumat secara khusus,akan tetapi karena dia tidak punya kesempatan melakukannya kecuali dihari jumat tersebut?

Syaikh menjawab : Tidak mengapa melakukannya,karena yang terlarang adalah mengkhususkan berpuasa dihari jumat.Olehkarenanya boleh berpuasa arafah bagi yang tidak berhaji jika bertepatan jatuhnya dihari jumat,dan tidak perlu puasa sehari sebelumnya.

Kemudian saya bertanya : Jika saya hendak berpuasa dihari jumat tanpa maksud mengkhususkan,namun sebenarnya saya bisa saja berpuasa dihari selain jum’at?

Syaikh menjawab : Tidak boleh,harus dengan adanya sebab yang nampak

Masalah No.271 (6/1/1419H)

Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah : Apa hukum mengkhususkan berpuasa dihari asyura?

Syaikh menjawab : Imam Abu Hanifah rahimahullah memakruhkannya dan ucapan Imam Ahmad pun menunjukkan atas kemakruhannya

Masalah No.272 (10/1/1421H)

Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah : Apa hukum mengkhususkan berpuasa dihari asyura?

Syaikh menjawab : Boleh,paling tinggi hukumnya makruh,namun meninggalkannya lebih utama. Kemudian saya bertanya : Akan tetapi apa jawaban terhadap yang mengatakan bahwa sebab larangannya adalah tasyabuh dengan yahudi? Maka Syaikh menjawab : Mungkin saat ini keadaan tasyabbuh tersebut sudah tidak ada lagi.

Masalah No.273 (10/01/1418H)

Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah : Apa hukum melakukan puasa di hari asyura dengan tidak berpuasa satu hari sebelum maupun sesudahnya dengan ada udzur atau tidak ada udzur?

Syaikh menjawab : Adapun apabila memang ada udzur,maka tidak apa-apa.Adapun jika tida ada udzur maka terjadi kontradiksi antara asal puasa yang disyariatkan dengan asal keharusan menyelisihi ahli kitab.Maka saya berpendapat : Bisa dia berpuasa dengan diiringi puasa dihari sebelumnya atau sesudahnya.Kalau tidak,maka tinggalkan puasa ini.Dan jika dikatakan demikian maka pada umumnya akan melakukan.

Kemudian Syaikh mengomentari betapa perhatiannya manusia dengan puasa asyura ini,banyak sekali pertanyaan melalui telepon  ataupun langsung ditanyakan mengenainya,padahal bersamaan dengan itu pada sebagian amalan wajib kurang diperhatikan.Sebagian salaf tidak setuju dengan puasa ini karena berpendapat terhapus (mansukh) dengan diganti puasa ramadhan.Jika benar bahwa terjadi penghapusan hukum,maka  yang dimansukh adalah hukum wajibnya saja,adapun pensyariatannya tidak berubah dan tidak diragukan.

Masalah No.274 (10/1/1417H)

Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah : Apakah boleh melunasi puasa nadzar di hari asyura, dan mendapatkan dua pahala sekaligus?

Syaikh menjawab : Iya, tidak terlarang.Demikian pula seandainya dia menqodho puasa ramadhan dihari arafah.

Masalah No.275 (22/10/1418H)

Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah : Seseorang tidak memungkinkan baginya untuk berpuasa 6 hari bulan syawal karena udzur syar’i apakah dia berpuasa di bulan dzulhijjah?

Syaikh menjawab : Iya,betul.

Masalah No.276 (26/12/1417H)

Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah : Apa hukum seseorang yang berpuasa sebulan penuh di bulan Dzulhijjah,apakah salah?

Syaikh menjawab : Tidak apa-apa.Itu secara umum termasuk amal shalih yang diperintahkan dalam 10 hari bulan dzulhijjah.Tidak ada keterangan dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam akan larangan dari melakukan berturut-turut sebulan penuh.Tida ada larangan.Siapa yang menganggap hal ini sebagai kesalahan,maka dia telah salah.Sebagaimana juga salahnya orang yang menyebutkan bahwa jika bertepatan dengan hari senin atau kamis, maka tidak berkumpul padanya dua pahala.

 

SHOLAT MALAM

Masalah No.277 (09/10/1420H)

Fadhilatus Syaikh Utsaimin menceritakan bahwa sebagian penuntut ilmu kebanyakannya di masjidil haram tahun ini mengingkari “do’a khataman”.Dimana sebagian mereka segera berbalik keluar jika Imam hendak membaca doa khataman.Dan meninggalkan Imam serta membuat kegaduhan dengan suara dentingan cangkir kopi atau teh untuk menunjukkan pengingkaran mereka atas hal ini,dimana mereka menganggapnya sebagai perbuatan bid’ah.Dan Syaikh Utsaimin rahimahullah memerintahkan mereka agar tetap sholat bersama Imam hingga Imam berpaling,dan jika imam berdoa maka diaminkan doanya,dan ikut mengangkat tangan,dan agar mereka tidak menampakkan khilaf ,dan agar mereka datang menemui Syaikh Muhammad Sabil kepala rumah tangga Al Haramain untuk mengungkapkan pendapat mereka.Dan Syaikh Utsaimin juga menyebutkan bahwa Syaikh Abdurrahman As Sa’di (guru Syaikh Utsaimin,pent) rahimahullah melakukan khataman ini.

Lantas saya bertanya kepada Syaikh, apa yang mengeluarkannya dari batasan bid’ah?

Syaikh Utsaimin menjawab : Mereka (yang melakukan) memandang amalan tersebut dengan sebuah hadist lemah ” Bersama setiap “khataman” ada doa yang dikabulkan”.Seandainya kita menghukumi segala permasalahan yang diperselisihkan ulama dengan bid’ah maka banyak dari permasalahan fiqih menjadi bid’ah.

Masalah No.278 (09/10/1420H)

Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah : Apakah disyaratkan niat khusus untuk sholat witir bagi makmum dalam sholat taraweh? Dimana sebagian Imam menyambung bacaannya dan tidak membaca “Sabbihisma” dan Surat Al Kafirun, dan “Qulhuwallahu ahad“, tidak menyadarinya kecuali setelah selesai imam melakukan witir ini.

Syaikh menjawab : Yang perlu diperhatikan bagi seorang Imam adalah untuk membedakan witirnya dari tahajjudnya.Dan kami membedakan keduanya dengan duduk atau meringankan bacaan, ruku’ ,dan sujud pada sholat witir.Dan untuk sholat witir harus dengan niat khusus sebelumnya.Kecuali jika dikatakan bahwa hal ini seperti kalau makmum berkata :”Jika Imamku qoshor maka aku qoshor” dan semisalnya.

Kemudian saya tanyakan : Apabila bisa kalau dikatakan :”Jika terjadi hal itu maka menggenapkannya  dengan menambah satu rokaat”?

Syaikh menjawab : Iya bisa.

Kemudian Syaikh mengkritik sebagian Imam yang melakukan witir dengan 9 rakaat atau tujuh rakaat atau lima rakaat dengan disambung,karena orang yang terlambat masuk sholat (masbuk) tidak tahu dengan sifat sholat yang dimasukinya.Dan beliau juga memperingatkan hal ini dicetakah terakhir  dari Majalis Syahru Ramadhan.Dan Syaikh menyebutkan bahwa beliau terkadang sholat dengan 11 rakaat , terkadang juga dengan 13 rakaat ,tapi kemudian meninggalkaan sholat dengan 13 rokaat ,dan menguranginya dengan melakukan 11 rakaat untuk meringankan manusia.

Masalah No.279 (09/10/1420H)

Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah : Apa hukum doa minta hujan pada saat berdoa qunut?

Syaikh menjawab : Boleh

Masalah No.280 (09/10/1420H)

Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah : Sebagian wanita dalam sholat taraweh menutup wajahnya padahal ada tirai dari kaum lelaki, apa hukumnya?
Syaikh menjawab : Selayaknya dia membukanya agar jidatnya bisa menyentuh langsung tempat sujud ketika sujud?
Saya bertanya : Apakah wajib bagi wanita membuka wajahnya dalam sholat?
Syaikh menjawab : Tidak
Saya bertanya lagi : Sebagian mereka menutup wajahnya agar tidak dikenal sebagian wanita lain,apakah baik jika Imam memperingatkan mereka bahwa yang utama adalah membuka wajah tatkala tidak ada lelaki?
Syaikh menjawab : Tidak perlu, biarkan mereka dengan keadaannya seperti itu

Sumber :  http://www.al-aqidah.com/?aid=show&uid=q8re0y20

Diterjemahkan oleh : http://www.direktori-islam.com/


[1] Metode penanganan penderita gagal ginjal dengan memanfaatkan membran perut sebagai penganti ginjal.Perut diisi dengan cairan dialysis(dianel) dan dibiarkan selama biasanya 4 jam (tergantung jenis dan konsentrasi cairan dianel).Setelah dikeluarkan dan diganti cairan baru.Dalam sehari dibutuhkan sekian kali penggantian cairan,sehingga  sebelumnya dibutuhkan operasi pemasangan selang didalam perut (Pent.)

[2] Salah seorang ikhwan mengkhabarkan kepada Syaikh Utsaimin bahwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Alu Syaikh ditanya dalam program “Sual ‘alal Hatif” (Pertanyaan Telepon),yakni apakah seseorang yang bercampur setiap hari selama ramadhan terakhir maka beliau mewajibkan atas orang ini 30 kafarah.Maka Syaikh kami (Syaikh Utsaimin) membenarkannya jazaahullah khoiron.Dan mengatakan bahwa Inilah yang seharusnya difatwakan mengenai hal ini untuk menghalangi manusia meremehkan dalam melanggar ketentuan Allah.Dan juga beliau menyebutkan bahwa ada pendapat yang mengatakan cukup satu kafarah,namun menurutnya tidak pantas menfatwakannya (11/11/1419H)

==============

Teks Asli

دخول الشهر والنية فيه
`    مسألة ( 251 )                        ( 18/8/1417هـ )
سألت شيخنا رحمه الله : هل يعمل بحساب المراصد الفلكية في إثبات الهلال ؟
فأجاب : الذي نرى أن يعمل به في النفي لا في الإثبات . ومعنى ذلك : أنه لو قال شخص أنه رأى الهلال ، والمراصد تقول إن الهلال لا يمكن أن يولد هذه الليلة في هذا المكان ، فإنا نعمل بنفي المرصد . ولو قرر المرصد أن الهلال مولود الليلة ، ولم يره أحد من الناس رؤية مجردة لم نعمل بإثبات المرصد ، لأن العبرة بالرؤية الطبيعية .                  
                                                                                                     
`    مسألة ( 252 )                        ( 16/10/1420هـ )
سألت شيخنا رحمه الله :  ذكرتم فيما مضى ضابطاً في مسألة الهلال : أنه يؤخذ بكلام الفلكيين في النفي لا في الإثبات ، فما المراد : حسابات الفلكيين أم مراصدهم ؟
فأجاب : المقصود المراصد ، بمعنى أنهم يتابعون القمر طوال الشهر بالمراصد ، فإذا حكموا بأن الهلال لا يمكن أن يولد في ليلة معينة أُخِذَ بقولهم . لكن لو قالوا إنهم رأوه أو أنه يولد تلك الليلة فيغيب قبل مغيب الشمس ، لم نعتمد قولهم ، لأن الله إنما تعبدنا برؤيته بالعين المجردة.             
                                                                                                                 
`    مسألة ( 253 )                        ( 16/8/1419هـ )
سألت شيخنا رحمه الله :  هل كان شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله يرى أن رؤية واحدٍ من المسلمين للهلال تصوِّم جميع الأمة ؟
فأجاب : لا .
فاستأذنته في قراءة بعض كلامه من الفتاوى ( ج 25 ص 103_113 ) .
 فقال : إن كانت من الفتاوى فلا . المعتبر ما جاء في الاختيارات الفقهية والفروع ، لأنه ربما قال ذلك في أول حياته ثم رجع عنه ، كما يتضح ذلك فيما كتبه في المناسك في أول حياته .                              
 
`    مسألة (254 )                         ( 9/10/1420هـ )
سألت شيخنا رحمه الله :إذا قالت الحائض :( إن أصبحت طاهراً فأنا صائمة ) ، فرأت الطهر لما استيقظت بعد الفجر ، فما حكم صومها ؟ وهل هذا كمسألة : ( إن كان غداً من رمضان فهو فرضي ) ؟
فأجاب : صومها لا يصح ، وليست كالمسألة المذكورة،لأن الأصل بقاء المانع.
                                                
`    مسألة ( 255 )                        ( 13/10/1419هـ )
سألت شيخنا رحمه الله :  ما حكم التهنئة بدخول رمضان والقصد إليه بالقيام والزيارة ونحو ذلك ؟
فأجاب : لا أرى في هذا بأساً أن يهنأ بكل ما يسُر . لأن هذا ورد أصله في السنة ، كتهنئة الصحابة بتوبة الله على كعب بن مالك . كذلك النبي r بشر بابنه إبراهيم ، والملائكة بشرت إبراهيم بابنه ، فالأصل في التهنئة بكل ما يسر لا بأس بها ، ولها أصل في السنة . أما القيام والزيارة فهذه ترجع إلى العادات .  
             
المفطرات
`   مسألة : ( 256 )                      ( 15/1/1417هـ )
سألت شيخنا رحمه الله :  ما حكم استنشاق البخار المستعمل في المستشفيات لمرضى الربو في نهار رمضان ، علماً أنه متحلل من سائل له جرم ؟
فأجاب : لا يفطر ، لأنه يستحيل إلى ما يشبه الهواء ، كما أنه لا يصل إلى المعدة بل إلى الرئة . 
                                                                                                         
`   مسألة : ( 257 )                      (26/8/1420هـ)
سألت شيخنا رحمه الله :  هل “الغسيل البريتوني” لمريض الكلى يفسد صومه ؟
فأجاب : إذا كان لا يتغذى به ، ولا تصل مادته المعدة فليس بمفطر .
 
الكفارة
`   مسألة : ( 258 )                      ( 17/10/1417هـ )
سألتشيخنارحمه الله :ماحكم تقديمالإطعاملمريضلايُرجىبُرؤهأولشهر  رمضان؟
فأجاب : لا يُفعل لعدم تحقق الوجوب ، فقد يموت أثناء الشهر . فإن قال أفعل وما يحتمل أن يكون زائداً عن الواجب فهو صدقة ، صار إطعامه متردداً فيه بين الصدقة والواجب ، ولا يصح . ولهذا كان أنس رضي الله عنه يجمع ثلاثين فقيراً آخر الشهر فيطعمهم .
 
`   مسألة : ( 259 )                      ( 17/10/1417هـ )
سألت شيخنا رحمه الله :  أُغمي على رجل قبل رمضان واستمر به حتى شوال ثم مات ، فماذا عليه ؟
فأجاب : يطعم عنه لأن مثل هذا المرض لا يُرجى برؤه ، ولهذا اتصل بالموت .
 
`   مسألة : ( 260 )                      ( 13/ 1/1419هـ )
سألت شيخنا رحمه الله : من أغمي عليه في رمضان بسبب جلطة في الدماغ واستمر به حتى مات فهل عليه شيء ؟
فأجاب : لا قضاء عنه ولا كفارة .
 
 
`   مسألة : ( 261 )                      ( 9/10/1420هـ )
سألت شيخنا رحمه الله : مَن كان عليه إطعامٌ عن ترك الصيام ، فهل تبرأ ذمته بصرفه في ” تفطير الصائمين ” الذي يقام في المساجد للعمال الفقراء ؟
فأجاب : نعم ، إذا تأكد أن العدد يقابل الأيام ، ولا يختلط معه طعام غيره ، وأشبعهم.              
 
`   مسألة : ( 262 )                      ( 20/1/1419هـ )
سألت شيخنا رحمه الله : مَن أفطر في نهار رمضان لغير عذر ، ثم جامع أهله   ­ ولم يفطر ليجامع ­ فهل عليه كفارة ؟
فأجاب : نعم عليه كفارة الجماع نهار رمضان ، لأن الإمساك واجب عليه .
  
`   مسألة : ( 263 )                      ( 13/10/1419هـ )
سألت شيخنا رحمه الله :  من جامع في يومين متتاليين في نهار رمضان ، فهل عليه كفارة واحدة أم كفارتان ؟
فأجاب : عليه كفارتان .
ثم سألته : ذكرتم في (الشرح الممتع) أن القول بأن عليه واحدة له حظ من النظر .. ؟
فأجاب : نعم ، ولكنا لا نفتي بذلك. وإلا لتتايع الناس وتساهلوا في هذا الأمر(1).
 
 
`   مسألة : ( 264 )                      ( 11/11/1419هـ )
سُئل شيخنا رحمه الله :  ما هو ضابط القدرة في الصيام فيمن وجب عليه كفارة جماع في نهار رمضان؟
فأجاب : أمر “القدرة” بينه وبين الله . فمَن علم من نفسه القدرة لم يجزئه الانتقال من الصيام إلى الإطعام . وينبغي أن يُقال للمستفتي : ألم تصم شهر رمضان ؟ فكذلك صم شهرين متتابعين كفارة لما وقع منك . إلا أن يكون معذوراً .
            
`   مسألة : ( 265 )                      ( 11/11/1419هـ )
سألتشيخنا رحمه الله :  هل يكون عذرٌ بغير مرضٍ أو سفر لمن قدر على صيام رمضان ؟
فأجاب : ربما كان ضعيف البنية لا يتمكن من صوم شهرين متتابعين ، أو كان شديد الشهوة لا يصبر عن الجماع هذه المدّة ، أو كان صاحب حرفة وعمل يمنعه الصوم المتتابع من القيام بها . 
 
القضاء
`   مسألة : ( 266 )                      ( 7/2/1420هـ )
سألتشيخنا رحمه الله :  مَن مات وعليه صيام ، فهل يمكن أن يشترك أولياؤه في الصوم عنه ؟
فأجاب : نعم ، إلا فيما كان من شرطه التتابع . فلو صام عنه ثلاثون شخصاً في يومٍ واحد عن رمضان أجزأ .                     
              
`   مسألة : ( 267 )                      ( 7/2/1420هـ )
سُئل شيخنا رحمه الله : لو تعاقب عدة أشخاص على صيام ما وجب فيه التتابع ،
الواحد تلو الآخر ؟
فأجاب : لا يجزئ ، لأن التتابع وصف لا يتحقق إلا في شخصٍ واحد
 
`   مسألة : ( 268 )                      ( 16/2/1421هـ )
سُئل شيخنا رحمه الله :  مات رجل وعليه صيام شهرين متتابعين ، فصام عنه أحد أوليائه بعضها ، ثم أتبعه الآخر ، دون انقطاع في الأيام ، فهل يجزئه ؟
فأجاب : لا يجزئه ، لأن الصوم الذي يشترط فيه التتابع لا يتحقق إلا بصدوره من شخصٍ واحد . وعليه ، فلا بد أن يستأنف لحصول الانقطاع وما وقع منه من صيام فإنه إن شاء الله يقع نفلاً عن الميت . بخلاف لو مات إنسان وعليه قضاء من رمضان ، فيمكن أن يشترك في القضاء عدة أشخاص ، حتى لو وقع صومهم جميعاً عنه في يومٍ واحد .                                                                       
 
صوم التطوع
`   مسألة : ( 269 )                      ( 13/6/1419هـ )
سألت شيخنا رحمه الله :  شخص يريد أن يصوم ثلاثة أيام من الشهر ، فهل الأفضل أن يسردها في أيام البيض أم يصوم أيام الاثنين الخميس ؟
فأجاب: الأفضل أن يصوم البيض .                      
 
`   مسألة : ( 270 )                      ( 18/11/1419هـ )
سألت شيخنا رحمه الله :  ما حكم مَن أفرد يوم الجمعة بصيام نفل ، لا لقصد الجمعة ، ولكن لكونه لا يفرغ من عمله إلا ذلك اليوم ؟
فأجاب :  لا بأس بذلك ، لأن المنهي عنه التخصيص . ولهذا يُصام يوم عرفة لغير الحاج ­ إذا وافق يوم الجمعة ، ولا يلزم أن يصوم يوماً قبله .
قسألته :  فلو قال : أريد أن أصوم يوم الجمعة ، لغير قصد الجمعة ، مع إمكانه أن يصوم أي يوم سواه ؟
فأجاب :  لا يجوز ، لابد من سبب ظاهر .                         
 
`   مسألة : ( 271 )                      ( 6/1/1419هـ )
سألت شيخنا رحمه الله :ما حكم إفراد عاشوراء بالصيام ؟
فأجاب : كرهه أبو حنيفة رحمه الله . وكلام الإمام أحمد يدل على الكراهة .
                                 
`   مسألة : ( 272 )                      (10/1/1421هـ )
سألت شيخنا رحمه الله : ما حكم إفراد عاشوراء بالصيام ؟
فأجاب : جائز ، وأعلى أحواله الكراهة ، بل هو من ترك الأولى .
فسألته : لكن ما الجواب عن علة التشبه باليهود ؟
فأجاب : ربما كان زال الآن .
                                              
`   مسألة : ( 273 )                      ( 10/1/1418هـ )
سألت شيخنا رحمه اللهما حكم الاقتصار على صيام يوم عاشوراء ، دون يومٍ قبله أو يومٍ بعده ، لعذرٍ أو لغير عذر ؟
فأجاب : أما إن كان لعذر فلا بأس . وأما إن كان لغير عذر فقد تعارض عندنا أصل مشروعية الصوم مع أصل طلب مخالفة أهل الكتاب ، فأرى أن يقال : إما أن تصوم معه يوماً قبله أو يوماً بعده ، وإلا فدع الصيام . وإذا قيل ذلك ، فسوف يفعل غالباً .
ثم علق الشيخ على ظاهرة اعتناء الناس بصوم عاشوراء ، وكثرة الأسئلة الهاتفية والمباشرة عنه ، مع وقوع التقصير في بعض الواجبات ، وبين أن بعض السلف كان لا يرى صيامه وأنه منسوخ بصوم رمضان وإن كان الصواب أن المنسوخ وجوبه فقط وأما مشروعيته فثابتة ولا ريب .                                        
 
`   مسألة : ( 274 )                      ( 10/1/1418هـ )
سألت شيخنا رحمه الله : هل لـه أن يصوم وفاء صوم نذر في يوم عاشوراء ، ويحصل له ثواب الأمرين ؟
فأجاب : نعم ، لا مانع . وكذلك لو قضى ما عليه من رمضان في يوم عرفة .
                                     
`   مسألة : ( 275 )                      ( 22/10/1417هـ )
سألت شيخنا رحمه الله :  مَن لم يتمكن من صيام ست شوال لعذرٍ شرعي فهل يصومها من ذي القعدة ؟
فأجاب : نعم .                                                        
 
`   مسألة : ( 276 )                      ( 26/12/1417هـ )
سألتشيخنارحمه الله :   ما حكم من صام جميع أيام عشر ذي الحجة ، وهل يُخَطَّأ ؟
فأجاب : لا بأس في ذلك . وهو من جملة العمل الصالح المطلوب في العشر . ولم يرد عن النبي r نهي عن سرد صومها . فلا مانع . ومن عدّ ذلك من الأخطاء فقد أخطأ ، كما أخطأ أيضاً في دعوى أنه إن وافق صومه صوم اثنين أو خميس ، لم يجتمع له الأجران .                                                        
 
 
 
القيام
`   مسألة : ( 277 )                      ( 9/10/1420هـ )
ذكر فضيلته أن بعض طلبة العلم أكثروا عليه في المسجد الحرام هذا العام إنكار “الختمة” وأن بعضهم ، إذا أراد الإمام في الحرم أن يختم تظاهروا بالخروج ، ومفارقة الإمام ، وقعقعة فناجيل القهوة والشاي إظهاراً لإنكار الختمة ، بوصفها بدعة . وأنه كان يجيبهم بأنه لا يزال يصلي مع الإمام حتى ينصرف ، وإن دعا أمَّن على دعائه ، ورفع يديه ، وأن عليهم ألا يجاهروا بالخلاف ، وأن يتقدموا بما عندهم إلى الشيخ محمد السبيل ، بوصفه رئيس شؤون الحرمين . وذكر فضيلته أن الشيخ عبد الرحمن السعدي رحمه الله كان يختم .
ثم سألتشيخنارحمه الله :  ما الذي يخرج ذلك عن حدّ “البدعة” ؟
فأجاب : هم يروون في ذلك حديثاً ضعيفاً : “مع كل ختمة دعوة مستجابة”. ولو حكمنا على كل مسألة جرى فيها الخلاف بالبدعة لصار كثير من مسائل الفقه من البدع .          
 
`   مسألة : ( 278 )                      ( 9/10/1420هـ )
سألت شيخنا رحمه الله:  هل تشترط نية خاصة للوتر للمأموم في صلاة التراويح ؟ حيث إن بعض الأئمة يصل قراءته ، ولا يقرأ بـ “سبح ، و الكافرون ، وقل هو الله أحد” ، فلا يشعر إلا وقد أوتر إمامه .
فأجاب : الذي ينبغي للإمام أن يميز وتره عن تهجده ، ونحن نفصل بينهما بجلسة ، ونخفف القراءة ، والركوع ، والسجود ، في الوتر . ولابد للوتر من نية خاصة تسبقه ، إلا أن يقال إنها مثل لو قال المأموم إن قَصَر إمامي قصرت ، ونحوه .
فسألته :  هل يتوجه إذاً أن يقال : إذا وقع ذلك فإنه يشفع بركعة ؟
فأجاب : نعم ، يتوجه . وانتقد فضيلته بعض الأئمة الذين يوترون بتسعٍ ،  أو سبعٍ ، أو خمسٍ متصلة ، لكون الداخل المسبوق لا يدري بأي صفةٍ يدخل ، وأنه نبه على هذا في الطبعة الأخيرة، من مجالس شهر رمضان . وذكر أنه كان يصلي تارة بإحدى عشرة ، وتارة بثلاث عشرة ، ثم ترك الثلاث عشرة ، واقتصر على إحدى عشرة تخفيفاً على الناس .                                                                             
 
`   مسألة : ( 279 )                      ( 9/10/1420هـ )
سألتشيخنارحمه الله : ما حكم الاستسقاء في دعاء القنوت ؟
فأجاب : يجوز .                                                           
 
`   مسألة : ( 280 )                      ( 9/10/1420هـ )
سألت شيخنا رحمه الله : بعض النساء في صلاة التراويح تغطي وجهها ، رغم وجود الساتر من الرجال ، فما الحكم ؟
فأجاب : ينبغي أن تكشف لتباشر جبهتها الأرض في السجود .
فسألته : هل يجب عليها كشف وجهها في الصلاة ؟
فأجاب : لا .
فسألته : بعضهن تغطي وجهها ، لئلا تعرفها بقية النساء ، فهل يحسن أن ينبه الإمام على أن الأولى كشف الوجه عند عدم الرجال ؟
فأجاب : لا ، يدعهن على حالهن .                             


(1) وقد ذكر أحد الإخوان أن الشيخ عبد العزيز بن عبد الله آل الشيخ سُئل في “سؤال على الهاتف” عن رجل جامع أهله في كل يومٍ من رمضان الفائت فألزمه بثلاثين كفارة ، فصوبه شيخنا، وجزاه الله خيراً ،  وقال : هذا الذي ينبغي أن يفتى به ليرتدع الناس عن انتهاك حرمات الله . وذكر القول الآخر في المسألة في أن كفارة واحدة تكفي وقال لا ينبغي أن يُفتى به . ( 11/11/1419هـ )

~ oleh Thifal Ramadhani pada Juni 2, 2011.

Satu Tanggapan to “Beberapa Pembahasan Masalah Puasa Catatan Pribadi DR.Ahmad bin Abdurrahman Al Qodhi”

  1. bahasan yg ringks tetapi menarik..afadanallah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: