Qowaidul Fiqhiyyah: “Jika Dalam Suatu Masalah Bertabrakan Antara Manfaat Satu Dengan Yang Lainnya Maka Di Dahulukan Dan Diambil Manfaat Yang Paling Besar / Tinggi”


 

فإذا تزاحم عدد المصالحِ  يُقدَّم الأعلى من المصالحِ

(FA IDHA TAZAKHUMA ADADUL MASHALIKHI YUQODDAMUL A’LA MINAL MASHOLIKHI )

Artinya : jika dalam suatu masalah bertabrakan antara manfaat satu dengan yang lainnya maka di dahulukan dan diambil manfaat yang paling besar / tinggi

Dalam kitab Mulakhos Mandhumah Fiqhiyyah yang di ringkas oleh Abu Humaid Abdullah Al Falasi dari kitabnya As Syeikh Muhammad Sholeh Al Usaimin dalam kaidah ke 19 di katakan :

القاعدة التاسعة عشرة: إذا تعارضت المصالح قدم الأعلى.

Idhaa ta’aarodhotil mashoilihi qudimal a’laa

Jika ada dua maslahat (faedah) yang saling berhadapan maka diutamakan maslahat yang paling besar ,

هذه قاعدة تزاحم المصالح، والمراد بهذه القاعدة: إذا لم يتمكن العبد من فعل إحدى المصلحتين إلا بتفويت الأخرى فماذا يعمل؟ حينئذ ذكر المؤلف بأنه يُرجِّحُ بين المصالح فيفعل المصلحة العظمى، ولو كان في سبيل ذلك ترك للمصلحة الأقل، وهذه قاعدة في الشريعة مقررة بعدد من الآيات والأحاديث منها قول الله – عز وجل – { وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ } (سورة الزمر آية : 55) ومنها قوله -جل وعلا-: { فَبَشِّرْ عِبَادِ (17) الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ } (سورة الزمر آية : 17-18) وأحسنه يرجع إلى القول، فإذا تزاحمت المصالح التي يكون فيها تحقيق لأحكام من أحكام الشريعة، فإننا نتبع الأحسن.

Qaidah ini disebut tazakhumul masholeh (bertabrakan beberapa maslahat/ keutamaan) dan yang dimaksud dengan qaidah ini adalah: :jika seorang  tidak bisa memilih salah satu dari 2 keutamaan / maslahat, kecuali dengan mengalahkan salah satu dari maslahat itu, maka apa yang harus dilakukan? maka di sini pengarang (Asy-Syeikh Abdur Rahman As-Sa’di) menyebutkan: harus mengutamakan maslahat / keutamaan  yang lebih besar walaupun harus meningalkan maslahat / keutamaan yang lebih kecil, dan qaidah ini dalam syari’at islam bersumber dari ayat al qur’an dan hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam diantaranya :

  1. Firman Allah dalam QS Az-Zumar: 55:  “Dan ikutilah sebaik-baik apa yang Telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu[ alqur'an].”
  2. Firman Allah QS Az-Zumar : 17-18 “sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku,” (18) “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaran mereka.”

Maka yang paling baik dikembalikan kepada ucapan ini, jika bertabrakan antara manfaat/ keutamaan yang didalamnya untuk mendapatkan hukum dari hukum-hukun syariat maka kami mengikuti yang paling baik.

وإذا تأمل الإنسان أحكام الشريعة وجد أن المصلحة فيها على أنواع: فمرات تكون المصلحة متحتمة واجبة مثل: الصلوات المفروضة، ومرات تكون المصلحة مستحبة مندوبة مثل: الصلوات النوافل، ومرات تكون المصلحة يراد وجودها في المجتمع ولو لم يفعلها جميع أفراد المجتمع مثل: صلاة الجنازة، تغسيل الميت، ومرات يراد بالمصلحة أن تتحقق من جميع الأفراد.

Jika manusia mau memperhatikan hukum-hukum syariat maka akan mendapati maslahat yang banyak jenisnya: ada maslahat yang sudah ditentukan dan merupakan kewajiban seperti: sholat wajib, kadang mendapati maslahat yang disukai dan di sunnahkan, seperti sholat-sholat sunnah, kadang maslahat yang di syari’atkan yang harus ada di masyarakat walaupun tidak semunya mengerjakan seperti misal: sholat jenazah, memandikan mayit, dan kadang juga ada maslahat yang harus dikerjakan oleh semua angota masyarakat.

وهذه المصالح منها مصالح معتبرة للشارع نص على حكمها، والعلماء يقسمون المصالح إلى ثلاثة أقسام:

Dan maslalat-maslahat ini diantaranya maslahat yang mu’tabar ( diakui dan dikenal ) dalam syariat dan telah di tentukan hukumnya, dan ulama’ menbagi maslahat ini menjadi 3 bagian :

القسم الأول: مصالح معتبرة، وهي التي شهد لها الشارع بالاعتبار سواء كان ذلك بطريق الشرع بطريق الكتاب، أو بطريق السنة، أو بالإجماع، أو بالقياس.

Pertama: maslahatul mutabaroh (maslahat yang sudah terkenal) dan dia adalah yang telah di akui oleh syari’at kemaslahatannya, baik dengan dalil alqur’an ataupun sunnah, ataupun ijma dan qiyas. (seperti contoh-contoh  diatas)

والنوع الثاني: قالوا مصالح ملغاة، وهي المصادمة لنص شرعي، ومثلوا لها بمن لا يرتدع عن التحفظ في يمينه إلا بالصيام ، لا يردعه الإطعام، ولا يردعه الكسوة، فلو قال قائل بأن هذا الشخص نوجب عليه صيام ثلاثة أيام؛ لأنه لا يرتدع عن التحفظ في يمينه إلا بالصيام لكانت هذه مصلحة ملغاة في الشرع؛ لأن الشريعة جاءت بأن الحانث في يمينه يطعم أو يكسو أو يعتق، فإذا لم يجد انتقل للصيام

Kedua: maslahatul mulqoh (maslahat yang gugur), dia dia maknanya: yang bertabrakan dengan dalil, seperti misal, orang yang melangar sumpahnya sedang dia tidak bisa menebus kafarahya kecuali dengan puasa, karena tidak mampu memberi makan fakit dan miskin atau memberikan penghidupan dan pakaian, maka jika dikatakan kepada orang ini : wajib bagi kamu puasa 3 hari  karena tidak bisa menjaga sumpahnya kecuali dengan puasa, akan tetapi maslahat ini digugurkan oleh syari’at, karena dalam syari’at kafarah bagi yang melangar sumpah, harus memberi makan fakir dan miskin atau memberikan kehidupan dan pakaian atau membebaskan budak, namun jika tidak di dapati dan tidak mampu maka sebagia gantinya adalah puasa.

النوع الثالث: مصالح مرسلة، وهي التي لم يأت بها نص لا بإلغائها ولا باعتبارها، وقد اختلف العلماء في حجيتها، فمنهم من يثبت الحجية، ومنهم من ينفي الحجية، وقد رأى شيخ الإسلام ابن تيمية وابن القيم -رحمهم الله- أنه لا يمكن أن توجد مصلحة مرسلة، بل المصالح جميع المصالح مُعْتَبَرة جميعا. من رأى مصلحة ظنها مرسلة فلا يخلو من أحد أمرين:


الأمر الأول: أن تكون مفسدة، ولا تكون مصلحة.

والأمر الثاني: أن يدل عليها نص من الشارع خفي على ذلك الفقيه، وفي هذا القول قوة، وفيه إثبات لكمال الشريعة ولشمولها، والناظر في النصوص الشرعية يجدها شاملة لأغلب مصالح العباد، وأن المرء لا يحتاج إلى القياس إلا في مواطن قليلة تسد النقص الوارد في دليل النصوص على الحوادث.

Ketiga : masholihil mursalah yaitu: maslahat yang tidak didapati dalilnya, baik pengugurannya atau penetapanya, dan telah berselisih sebagian ulama’ dalam menjadikan dalildan hujjah  maslahat ini , ada sebagian yang menjadikan nya dalil dan ada sebagian yang menolaknya, dan telah berpendapat as syeikhul islam ibnu taimiyyah dan ibnu qayyim, (semoga Allah merahmati beliau berdua) : bahwasanya tidak munkin ada maslahat mursalah, karena semua maslahat itu sudah pasti mu’tabar ( di kenal dan ditetapkan syari’at ) ,jika ada sebagian yang menganggap itu maslahat mursalah maka tidak lepas dari dua hal :

  1. Hal itu mafsadah (mudharat dan bahaya) bukan maslahat (manfaat dan faedah)
  2. Sudah ada dalil penetapannya oleh syari’at namun tersembunyi (samar) bagi sebagian faqih (orang yang mengerti fiqh) dan pendapat ini sangat kuat, karena menetapkan bahwasanya syari’at islam sudah paripurna dan sempurna, jika kita memperhatikan dalil-dalil syar’iyyah maka akan kita dapati bahwasanya syari’at ini mencakup keumuman maslahat bagi manusia, dan seseorang itu tidak membutuhkan qiyas kecuali hanya pada hal-hal yang amat sedikit sekali yang munkin kurang adanya dalil-dalil dalam hal-hal (kejadian) tersebut.

CONTOH PENERAPAN QAIDAH INI :

فإن تعليم العلم أفضل من صلاة النافلة؛ لكون النفع هنا متعديا إلى الغير، ولذلك الفعل الواجب أولى من الفعل المستحب المسنون كما ورد في الحديث عند البخاري: ” ما تقرَّب العباد إليَّ بمثل ما افترضتُ عليهم “ .

Mencari ilmu syar’iyyah lebih utama dari pada sholat sunnah, karena mencari ilmu selain bermanfaat bagi dirinya juga bermanfaat bagi orang lain, berbeda dengan sholat sunnah manfaatnya untuk diri sendiri, maka dari sini mengerjakan hal yang wajib lebih diutamakan dari pada hal yang sunnah, sebagaimana dikatakan dalam hadits bukhari : “sesunggunya dekatnya seorang hamba kepadaku semisal apa-apa yang telah aku wajibkan atas mereka” artinya semakin banyak seorang hamba mengerjakan kewajiban akan semakin dekat dengan Allah dan Rasululnya,

ومن هنا فمن دخل المسجد والصلاة الفريضة قد أقيمت، قدَّم الفريضة على تحية المسجد وعلى النافلة – نافلة الفجر ونحوها من النوافل..

Dari sini maka : jika dia masuk masjid sedang sholat wajib sudah di tegakkan maka mendahulukan sholat wajib tersebut dari pada sholat tahiyatul masjid, atau sunnah yang lainya (seperti 2 rakaat sebelum subuh) dan semisalnya.


ومن القواعد الترجيح بين المصالح: إنهم قالوا: إن المصلحة الخاصة مقدمة على المصلحة العامة في محل الخصوص، ويعمل بالمصلحة العامة فيما عداه. يمثلون لذلك بقراءة القرآن، قالوا: هذا فيه مصلحة، فهو أفضل الذكر، ولكن في المحال الخاصة يقدم عليها الذكر الخاص، مثل: أذكار الصلوات، وأذكار بعد الصلوات، وأذكار الصباح، والمساء، فهذه يقدَّم فيها الذكر الخاص في محل الخصوص.

Maka dari qaidah tarjih antara beberapa maslahat (keutamaan) mereka (ulama) berkata: sesunggunya maslahat yang khusus di dahulukan dari pada maslahat yang umum dalam tempat-tempat yang tertentu, dan mengerjakan maslahat yang umum jika tidak pada tempat yang tertentu dan khusus, misalnya: membaca alqur’an, mereka berkata: dan ini termasuk maslahat dan keutamaan, dan  alqur’an merupakan dzikir paling utama, akan tetapi jika di tempat dan waktu tertentu lebih diuatamakan dzikir khusus misalnya : dzikir sholat, (setelah sholat wajib), dzikir dan doa pagi dan petang (jika telah tiba waktunya) maka ini maknanya mendahulukan dzikir khusus di tempat yang khusus, sedang alqur’an bisa dibaca dilain waktu dan kapanpun., misal lainya, mengikuti dan menjawab adhan dan berdoa setelah adhan lebih diutamakan dapi pada membaca alqur’an karena waktunya yang khusus dan tertentu.

Misal yang lain:

Dalam masalah yang wajib: seseorang memiliki hutang puasa ramadhan 3 hari  sedang dia juga memiliku hutang puasa nadhar sedang waktu nya sudah mendekati bulan ramdhan sedang keduanya sama-sama wajib mana yang diuatamakan? melihat keutamaan yang yang agung dan besar maka lebih diutamakan untuk mengerjakan puasa ramadhan.

Contoh dalam hal yang sunnah: seseorang masuk masjid dan dia ingin mengerjakan sholat sunnah tahiyatal masjid dan sunnah qobliyah (rowatib) sedang waktunya sudah mepet dan tinggal sedikit karena imam sudah ada sedang mngerjakan  sholat sunnah juga   mana yang di diutamakan? para ulama: mengatakan diutamakan dahulu tahiyatal masjid karena sunnah muakad bahkan sebagian ahlul ilmi  ada yang mengatakan wajib.

Misal dalam alqur’an :

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu)[1], Maka itu adalah baik sekali. dan jika kamu menyembunyikannya[2] dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, Maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Baqarah : 271)

[1] menampakkan sedekah dengan tujuan supaya dicontoh orang lain.

[2] menyembunyikan sedekah itu lebih baik dari menampakkannya, Karena menampakkan itu dapat menimbulkan riya pada diri si pemberi dan dapat pula menyakitkan hati orang yang diberi.

Dari ayat ini dapat kita ketahui bahwasanya : bersedekah dengan sirr (sembunyi) lebih uatam dan didahulukan dari pada sedekah denagn jahr (terang-terangan)

~ oleh Thifal Ramadhani pada Februari 11, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: